Cold Heart?


I’d rather known as a cold hearted woman instead of a fake one…

So judge me. I’m being rational here. None of what’s inside my heart says loud through my act, or written on my face. I do know how does it feel to be on your shoes now. So no. You can’t compared with what’s going on if you try on mine. Not a single chance.

People says I am cold hearted. People mocked me when I didn’t cry on my dad funeral. People says I don’t have that kinda feeling.

It’s okay.

All I know, life won’t stop running. Logically speaking, my decision is right. Though I know some people would judge me as the one who don’t know how to react. 

Well, I trained to be like this. So please judge me as hard as you can. And when you finished, you will know that your life isn’t stop running too. Even if you feel like somebody stopped it. No, it is not. 

There, you will say “now I know…”

And I will reply with “you are most welcome!”

Advertisements

Seandainya Saya Belum Punya Anak

 

Pernah nggak kepikiran hal-hal seperti ini. Hal-hal yang kadang bikin saya mempertanyakan rasa keibuan dalam diri sendiri. Saya, sih, jujur saja, sering terlintas dalam pikiran “seandainya belum punya anak, bisa…” :))

Lalu, apakah saya menyesali kehadiran anak dalam hidup saya? Apakah dia menjadi hambatan? Jawabannya “tidak juga!” Haha.

Namanya juga manusia, ada banyak rasa tidak puas yang muncul dalam setiap keputusan dan kejadian. Sering kepikiran hal-hal yang bisa terjadi kalau saya belum punya anak, bukan berarti saya tidak bersyukur dengan lima tahun terakhir hidup saya. Iya, sudah lima tahun menyandang status ibu. Sudah hampir enam tahun, tidak ada gelar titel pekerjaan, tidak pernah pergi ke kator full time, dan artinya tidak lagi punya gaji sendiri. Sudah lima tahun tidak pernah jalan-jalan sendirian.

And yes, sometime I feel exhausted. But I don’t want to quit. Kinda funny, right?

You want but  you don’t want.

Being a mom is not easy. Not to mention the outsider vibes, but also the struggle within yourself. Sometime you just want to give up. During the breakfast time, you feel content, but before you go to sleep, you feel empty. Once you know you’re happy, but then in a couple hours you really want to run away. And those kind of upside down feeling. That makes you a human. It is normal. Well, at least it is normal in my own opinion.

Jadi bagaimana seandainya saya belum punya anak? Well, mungkin saya sudah menyelesaikan S2, mungkin beberapa mimpi saya yang kembali saya gantungkan sudah terwujud, mungkin saya nggak akan belajar menyulam, mungkin saya belum tahu cara masak nugget sendiri. Mungkin juga saya masih sibuk bergadang, tenggelam dalam pekerjaan, dan tidak merasa bersalah setiap terbangun dari tidur di tengah malam karena ada beberapa pekerjaan yang keteter hanya karena ketiduran saat menemani anak menuju tidurnya.

So, are you sorry for all that happened in the past  five years?

The answer is clear. Absolutely not. Sudah lima tahun jadi ibu. Satu hal yang pasti dengan titel ini adalah sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang magis diantara hubungan ibu dan anaka. Persis seperti yang saya rasakan di awal kehamilan, saat hanya saya dan si janin yang tahu bahwa ada kehidupan di dalam rahim. Sebuah rahasia antara kami berdua. Ambisi ini dan itu perlahan luruh, menjadi sesimpel ingin melihat anaknya bahagia. Ketika si anak bahagia, maka hidupnya akan terasa bermakna. Ketika tahu makna hidup, ia akan tahu kenapa dirinya ada di dunia.

Sudah lima tahun. Dan masih akan terus berlangsung. Tidak ada rasa sesal, yang ada hanyalah rasa syukur untuk semua kesempatan dalam hidup. Tidak hanya soal anak, tapi tentang semua yang terjadi dalam hidup. Dan rasa ini bisa muncul karena saya sudah punya anak.

Terima kasih, Menik, untuk lima tahun pertamanya. Semoga Ibu, Ayah, dan Menik bisa selalu berjalan beriringan, saling membimbing, dan menjaga satu sama lain sampai akhir hayat memisahkan.

img_0511

Selamat ulang tahun, Menik!

(17.10.2016)