Indonesiaku, Kamu Kenapa?

Sudah lama sekali ingin menulis ini. Tulisan ini tersimpan di draft sejak tahun 2015. Sejak ada rasa gundah mengenai negara saya tercinta, Indonesia.

Sejak dulu, saya tidak pernah ingin terjun dalam dunia politik. Dalam pikiran saya, politik itu hanya permainan kepentingan. Oh, tentunya permainan kekuasaan dan kekayaan. Dan rasanya saya tidak cukup kuat hati untuk bisa berpikir lurus diantara mereka-mereka yang bermain dengan tujuan akhir kepentingan dan kemenangan diri sendiri.


Image from: Bubbu Keni 

Saya tidak ingin menulis soal politik. Tapi saya ingin menulis bagaimana rasa gejolak di dalam hati tentang negara yang mencatat saya sebagai warga negaranya. Dan ketika saya punya anak, ia juga tercatat sebagai warga negara Indonesia.

Tahun 1991, saya masuk di sebuah sekolah dasar swasta yang dikelola oleh yayasan PERSIT, ya, Persatuan Istri Tentara. Sebuah sekolah heterogen yang isinya sekitar 30 anak. Satu beragama Hindu, 6 beragama Kristen, sisanya beragama Islam. Tidak pernah sekalipun orang tua saya berkata “kamu jangan main sama mereka yang tidak seagamanya”. Tidak pernah sekalipun mereka berkata “kamu main sama orang Jogja  dan Aceh saja”, dan tidak pernah sekalipun terucap “kita adalah golongan paling suci dan terdepan dalam beragama”.

Sewaktu SMA, kondisinya lebih terang lagi. Kami bukan lagi anak-anak SD yang akan mengenyam pendidikan dasar. Kami anak-anak remaja yang selalu merasa paling benar. Kami sok protes ke kepala sekolah dari mulai peraturan konyol tentang warna sepatu, berkelahi dengan kakak kelas, hingga bolos sekolah beramai-ramai demi nonton AADC. 

Tapi kami tidak pernah meributkan siapa agamanya apa. 

Kami justru sibuk bekerja sama. Iya, bekerja sama saat ujian. Siapa yang punya kemampuan lebih di satu mata pelajaran akan dengan sukarela membuat lembar contekan. Kami lulus bersama, nilai kami juga rata. 

Kami bisa tertawa bersama, menangis juga bersama-sama, tanpa bertanya “kamu keturunan apa?”.

Tapi sekarang, suara “jangan main sama dia, agamanya beda!” Atau “kamu jangan pergi sama dia, karena dia bukan pribumi”, terdengar jelas. Lantang.

Apa semua lupa dengan Pancasila?

Apa semua lupa dengan budi pekerti?

Apa semua lupa dengan pelajaran agamanya?

Saya tidak ingin tulisan ini dibaca oleh Menik saat ia besar dan nantinya ia bertanya “Bu, apa itu Bhinneka Tunggal Ika?”, karena kebhinnekaan sudah tidak ada lagi di masanya. 

Saya tidak ingin Menik meyakini bahwa di negaranya lebih baik menjadi orang yang melakukan korupsi asal bisa tetap santun berkata.

Saya ingin Menik tahu bahwa bangsa Indonesia yang adalah bangsa berintegritas. Saya ingin Menik menjadi seseorang yang punya tutur santun dan jujur.

Saya ingin Menik dan semua anak-anak tahu bahwa Indonesia indah karena keberagamannya. Indonesia bisa satu karena ada Sumpah Pemuda. Indonesia dikagumi karena ada Bhinneka Tunggal Ika. 

Saya ingin Menik bisa bebas bermain dengan siapapun. Saya ingin Menik tidak perlu takut menjabat tangan semua orang dari agama apapun, suku dan ras apapun yang ingin berkenalan dengan dirinya. Saya ingin Menik merasa satu dengan bangsanya. Selanjutnya, Menik bisa menjadi warga dunia yang bangga dengan darah Indonesianya 

Tadinya saya takut. Tadinya saya pikir saya tidak perlu meneruskan tulisan ini. Tadinya saya pikir “ah, ngapain ikut sok nulis tentang negara?”, tapi saya rindu sekali dengan Indonesia yang tidak ribut dengan keyakinan individunya, yang bangga dengan ratusan suku bangsanya, yang sayang dan hormat dengan semua ras yang ada. 

Indonesiaku, kamu kenapa?

Bapak pernah bilang “if you become frightened, instead become inspired…”

Akan selalu ada cara untuk mengubah rasa. Memang, tidak akan semudah memasak yang tinggal menambahkan garam dan gula, tapi saya yakin, Indonesia akan indah lagi pada waktunya.

Bisa dimulai dengan mencari tahu di mana letak kesalahannya. Lalu diteruskan dengan bagaimana cara memperbaikinya.

Sementara itu saya bisa apa?

Saat ini, saya baru bisa mendidik Menik menjadi individu merdeka yang tidak perlu takut untuk sayang dengan negaranya yang memiliki ragam budaya.

Saya ingin Menik mengaliri setiap hembusan nafasnya dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang. Agar ia tidak berani bermain-main atas nama sang maha kuasa. Agar ia meresapi ilmu padi dan selalu merasa kalau gelasnya baru setengah terisi.

Semoga lekas sembuh, Indonesia…

Advertisements

Cold Heart?


I’d rather known as a cold hearted woman instead of a fake one…

So judge me. I’m being rational here. None of what’s inside my heart says loud through my act, or written on my face. I do know how does it feel to be on your shoes now. So no. You can’t compared with what’s going on if you try on mine. Not a single chance.

People says I am cold hearted. People mocked me when I didn’t cry on my dad funeral. People says I don’t have that kinda feeling.

It’s okay.

All I know, life won’t stop running. Logically speaking, my decision is right. Though I know some people would judge me as the one who don’t know how to react. 

Well, I trained to be like this. So please judge me as hard as you can. And when you finished, you will know that your life isn’t stop running too. Even if you feel like somebody stopped it. No, it is not. 

There, you will say “now I know…”

And I will reply with “you are most welcome!”

It’s March, Day 30!

I knew this year birthday, you won’t be here.. You’ll be out of town for some work to do, and be home on Monday, April 2nd.

BUT PLOT TWIST.

Papa’s heart surgery moved to yesterday, so you take a leave from your work and stay in Jakarta. So, still… You are not around us on your birthday. Thank you for technology, we can still keep in touch and see each other through our phone screen.

To give you some birthday wishes, to make sure you know that me and Menik are very blessed to have you around us. To be a good dad, to be a kind husband. So let me say this once again, thank you for your present. Have a thoughtful birthday and keep your heart warm as usual.

We love you so much, and we know that all you want for today’s wish is a good recovery for Papa, so let me say this once again “only good things are going to happen today”. and tomorrow, we can repeat that mantra again.. I love you. We love you…

HAPPY BIRTHDAY! 🙂

Seandainya Saya Belum Punya Anak

 

Pernah nggak kepikiran hal-hal seperti ini. Hal-hal yang kadang bikin saya mempertanyakan rasa keibuan dalam diri sendiri. Saya, sih, jujur saja, sering terlintas dalam pikiran “seandainya belum punya anak, bisa…” :))

Lalu, apakah saya menyesali kehadiran anak dalam hidup saya? Apakah dia menjadi hambatan? Jawabannya “tidak juga!” Haha.

Namanya juga manusia, ada banyak rasa tidak puas yang muncul dalam setiap keputusan dan kejadian. Sering kepikiran hal-hal yang bisa terjadi kalau saya belum punya anak, bukan berarti saya tidak bersyukur dengan lima tahun terakhir hidup saya. Iya, sudah lima tahun menyandang status ibu. Sudah hampir enam tahun, tidak ada gelar titel pekerjaan, tidak pernah pergi ke kator full time, dan artinya tidak lagi punya gaji sendiri. Sudah lima tahun tidak pernah jalan-jalan sendirian.

And yes, sometime I feel exhausted. But I don’t want to quit. Kinda funny, right?

You want but  you don’t want.

Being a mom is not easy. Not to mention the outsider vibes, but also the struggle within yourself. Sometime you just want to give up. During the breakfast time, you feel content, but before you go to sleep, you feel empty. Once you know you’re happy, but then in a couple hours you really want to run away. And those kind of upside down feeling. That makes you a human. It is normal. Well, at least it is normal in my own opinion.

Jadi bagaimana seandainya saya belum punya anak? Well, mungkin saya sudah menyelesaikan S2, mungkin beberapa mimpi saya yang kembali saya gantungkan sudah terwujud, mungkin saya nggak akan belajar menyulam, mungkin saya belum tahu cara masak nugget sendiri. Mungkin juga saya masih sibuk bergadang, tenggelam dalam pekerjaan, dan tidak merasa bersalah setiap terbangun dari tidur di tengah malam karena ada beberapa pekerjaan yang keteter hanya karena ketiduran saat menemani anak menuju tidurnya.

So, are you sorry for all that happened in the past  five years?

The answer is clear. Absolutely not. Sudah lima tahun jadi ibu. Satu hal yang pasti dengan titel ini adalah sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang magis diantara hubungan ibu dan anaka. Persis seperti yang saya rasakan di awal kehamilan, saat hanya saya dan si janin yang tahu bahwa ada kehidupan di dalam rahim. Sebuah rahasia antara kami berdua. Ambisi ini dan itu perlahan luruh, menjadi sesimpel ingin melihat anaknya bahagia. Ketika si anak bahagia, maka hidupnya akan terasa bermakna. Ketika tahu makna hidup, ia akan tahu kenapa dirinya ada di dunia.

Sudah lima tahun. Dan masih akan terus berlangsung. Tidak ada rasa sesal, yang ada hanyalah rasa syukur untuk semua kesempatan dalam hidup. Tidak hanya soal anak, tapi tentang semua yang terjadi dalam hidup. Dan rasa ini bisa muncul karena saya sudah punya anak.

Terima kasih, Menik, untuk lima tahun pertamanya. Semoga Ibu, Ayah, dan Menik bisa selalu berjalan beriringan, saling membimbing, dan menjaga satu sama lain sampai akhir hayat memisahkan.

img_0511

Selamat ulang tahun, Menik!

(17.10.2016)

Knowing is Better Than Wondering

Kata pemeran utama serial tv kesukaan saya :

Half of my July was actually a crap. Invoice nggak cair-cair. Yang ditagih, seperti tidak punya itikad baik buat menyelesaikannya. Jangankan pelunasan, permintaan maaf aja nggak terucap. Pas kemarin ditanya di sosial media, malah ngambek, dan seperti mengancam akan menuntut balik. Emang gitu, ya, kalau sudah punya salah, pasti ujungnya ngegas balik. Sudah salah, malah marah.

Ada satu kejadian nggak enak juga yang menimpa saya. Nah, kalau yang ini bikin capek hati. Saking capeknya, jadi bingung mau ceritanya juga.

In the end, I just need to repeat “even the biggest failure, even the worst, beats the hell out of never trying” mantra. Terpenting, saya sudah merasa melakukan kewajiban saya dengan maksimal, namanya hidup, ada kegagalan dan kemenangan. The least we can do is deal with all of it!

Bahasa kalbunya : IKHLAS.

Dan ini susah. :’))

June 16…

Happy birthday, Pak.

Cheers to the man who always told me how to stay on ground. To be a reliable person. He also taught me to be one brave girl. To feel no scared about chasing dream. To feel no sorry for crying in some other time.

You know, Pak, life is hard. People are mean, nowadays. It’s hard to be a good person. It’s hard to pleased everybody. It’s just hard. But you know you always said “namanya juga hidup, kak! Jalani.” So here I am, still running, still walking, still breathing, still living. And still missing you. Every. Single. Day. And night.

It’s going to be a long post if I have to say everything I feel about you. About missing you.

So happy birthday to the man of my life. My fave geminians! 😘