Don’t Gamble Your Child’s Life For Likes

Tanggal 4 April lalu, geng digital saya sempat mengunggah gambar ini di Twitter. Untuk mengingatkan bahwa hidup ini nyata, jangan dipertaruhkan demi seonggok Likes dan feed di akun sosial media.

Kemarin, saya jengah lagi. Tapi supaya geng julid nggak salah paham, saya tulis dulu, ya, kalau saya tidak menentang BLW atau Baby Led Weaning, salah satu metoda pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI). Perlu nggak, sih, saya ceritakan soal MPASI Menik? Hmmm.. saya mengambil metoda konvensional, mengikuti rekomendasi WHO. Gitu aja. Jadi cerita MPASI saya nggak seru :))

Tapi ingat, ya, saya tidak membicarakan metoda pemberian makanan pendamping pada bayi usia 6-12 bulan. Kenapa? Karena saya bukan ahlinya. Tanyakan pada Dokter Spesialis Anak aja ya.

Saya akan menulis sedikit bagaimana pengaruh postingan para artis terhadap hidup para fans yang mengikuti sosial medianya.

Eh, sebelumnya coba cek foto ini:

Ini saya ambil dari video tentang black market cosmetic. Lengkapnya bisa cek ke sini ya. Singkatnya, di video ini diperlihatkan, bagaimana si penjual kosmetik palsu menjelaskan tingginya angka pembelian di tokonya. Kok bisa? Ya karena nggak semua orang mampu beli lipstick seharga 500ribu. TAPI demi pake lipstick yang TERLIHAT sama, jadi beli yang uslap.

Now back to my concern. Melihat foto dan video perkembangan anak artis pasti terpukau ya. “Hidup tanpa keterbatasan, semua bisa dijalani tanpa beban”. Gitu nggak kesannya? Padahal, ya, mungkin aja sebelum foto diunggah, ada drama di baliknya ๐Ÿ‘ป we never know, right?

Terus kenapa, sih, diurusin banget? Soalnya BANYAK (CALON) IBU-IBU yang mengidolakan hidup artis yang diintip via jendela sosial medianya.

Postingan ini hanya untuk mengingatkan, bahwa kita hidup di dunia nyata. Bahwa anak-anak bayi ini punya nyawa. Bahwa ketika akan mengambil keputusan, ambilah karena kita sudah melakukan riset, membaca literatur, bertanya pada ahlinya. Hauslah terhadap hal baru sebelum diaplikasikan pada hidup manusia kecil yang sedang belajar untuk bertahan.

Inginnya, selain mengunggah indahnya hidup, berikan ilmunya. Berikan peringatannya. Ikuti rekomendasi organisasi dunia. Ingatkan kepada para fans bahwa untuk melakukan hal ini ada syarat A-Z yang harus dipenuhi. Perlihatkan buku bacaan Anda. Kenalkan dokter tempat Anda berkonsultasi. Beritakan dengan jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan jika ada kursus/kelas yang harus diikuti demi mendapatkan ilmu baru sebelum diaplikasikan ke anak bayi. Jangan lupa juga ingatkan faktor pendukung seperti kebersihan, kesabaran, keimanan, dan lainnya. Ini semua menjadi penting ketika feed IG dijadikan panutan banyak orang.

Semoga para artis yang terlihat pintar ini bisa juga mencari literatur tentang karakter bangsa kita. Orang Indonesia ini dasarnya mudah menerima dan mudah berubah. Masyarakat kita hidup dan besar dari tradisi lisan, tradisi “katanya” ๐Ÿ™‚ jadi kebayang kan kalo terjadi sesuatu kemudian argumennya hanya dengan “ya katanya si A ini baik buat bayi, kok!” (Terima kasih Mirah yang udah berbagi pengetahuan dari Sensei di Lab Antropologi nun jauh di Jepang sana).

Pemerintah sedang sibuk menurunkan angka kematian bayi saat lahir karena ibu tidak mendapat bantuan tenaga dan alat medis saat dibutuhkan. Pemerintah juga sibuk menurunkan angka bayi yang ususnya perlu dioperasi karena MPASI dini. Pemerintah masih sibuk mengedukasi bahwa vaksin aman dan dibutuhkan. Janganlah kita menjadi batu sandungan, saat sistem sedang berjalan.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Ribuan LIKES yang ada, foto yang menggemaskan, video yang seru dan menggelikan, bukan serta merta menjadi lampu hijau untuk langsung ditelan mentah-mentah dan diaplikasikan tanpa riset terlebih dahulu.

Don’t gamble your child’s life for IG Likes. Those thousand Likes on celebrities profile don’t mean it is also good for your child. I won’t say any words for those influencer. It’s their life, so let them. Let us live our own live too.

Advertisements

Adab Bertetangga

Tengah malam sekitar tahun 87-88, dan saya masih kecil, sekeluarga masih tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, Bapak adalah pak RT dan satu-satunya yang punya mobil di perumahan tersebut. Pintu rumah diketuk, terdengar suara panik tetangga dan bilang "Pak Ghazi, boleh pinjam mobil? Anak saya demam tinggi mau saya bawa ke rumah sakit!" Dengan sigap, Bapak mengambil kunci dan mengantar tetangga kami. Beliau bahkan menunggu di RS hingga urusan beres.

Lain hari, Bapak sibuk memasukkan mobil dan sepeda ke garasi. Memastikan halaman depan kosong.
"Ngapain, Pak?"
"Itu, Pak Tobing mau ada arisan. Ramai pasti butuh parkir, biar tamunya nggak susah, biar pada parkir di depan rumah aja…"

Dan masih banyak lagi cerita bagaimana Bapak mengajari saya hidup bertetangga. Bahwa tetangga ini adalah keluarga. Bahwa kita tidak boleh sombong dan pelit. Bahwa membuka pintu rumah untuk para tetangga adalah hal baik dan insya Allah menjadi pembuka pintu rezeki.

Jadi terus terang saja, saya suka gemas kalau membaca tulisan "dilarang parkir" di halaman depan rumah lalu diberi tanda panah kanan-kiri, kesannya pelit sekali. Padahal bagian depan rumahnya tidak dipakai dan jika ada yg parkir tidak akan mengganggu jalan.

Prinsipnya, meminjamkan space untuk orang lain parkir adalah hal yang biasa untuk saya. Yang penting, jika mobil si peminjam menghalangi jalan keluar, maka baiknya dia selalu siap jika mobil kami akan keluar. Atau sekalian aja ditawarin tukeran, mobil tamu masuk garasi, mobil kami di luar jika memang sudah ingin pergi.

Maka ketika hari ini ada teman saya yang mau ke restoran di sebelah rumah dan tidak dapat parkir, saya dengan mudah mengucap "parkir di halaman rumah aja!" Dan tentunya sigap membantu mereka supaya bisa parkir dan tidak mengganggu penghuni lain. For the sake of God, salah satu pemilik rumah yang garasinya berjejeran, keluar dan bilang "parkirnya di atas aja deh, nanti kalo saya mau keluar ribet manggilnya!"

*rolling eyes thousands times*

Pertama, mobil si mbaknya ini adalab mobil kecil yang sungguh muat jika BISA menghitung dengan tepat. Kedua, kalo males ngitung, bisa kali cukup bertanya "maaf, tamu rumah mana? Jadi nanti kalau saya mau keluar, bisa manggil." Karena kesal, saya lekas mengajak teman saya untuk pindah parkir ke atas. Niatnya baik, malah jadi kesal hati. Dan hingga teman saya pulang, si empunya mobil ini belum juga pergi, kok. Ya apa, kaaann?

Gimana kalau saya ceritain bahwa anaknya udah make sepeda Menik tanpa izin, ngintip rumah orang, dan nyobain semua sepatu yang saya simpan di teras depan, ya? MALU NGGAK, SIH?

*jadi kesal*

People these days really need to learn again about politeness and etiquette. Show some respect or you won't get any. And trust me, you do need a good relationship with your neighbors. If you aren't in good shape with people around you, why would you live anyway?

Perfectly Perfect Life

Ada yang mengikuti serial Black Mirror? Saya mengetahui serial Netflix ini pertama kalinya dari Ajeng alias Miss Kepik. Penasaran karena biasanya yang ditonton Ajeng ini seru-seru dan berisi, gitu. Pas nonton rasanya stress, sih. YAWLA, INI SERIAL DITUJUKAN UNTUK BIKIN PENONTONNYA DEPRESI APA GIMANA? Cicipin, deh. Karena setiap episodenya, ya, nyambung banget sama kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi, dan media sosial. JRENG!

Anyway, salah satu episode yang paling relatable sama hidup saat ini adalah Nosedive, ada di season 3 episode 1.

nosedive1

See something familiar? Saat ini hidup kita udah begini, kan? Banyakan lihat ke ponsel atau gadget ketimbang melihat mata si lawan bicara. Settingan warnanya juga pastel mania gitu, pokoknya hidup di dunia Pinterest dan Instagram. Dan isinya tentang sentilan satir tentang citra yang ingin kita pajang di media sosial, bagaimana kita takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga terkadang yang kita lakukan adalah palsu. Quoting the creator and writer, he said “it’s basically the world we living” -Charlie Brooker.

Terus kenapa, Ki?

Ya nggak apa-apa, sih, cuma ternyata ini bisa disambungin sama unggahan pendapat saya tentang seorang artis/penyanyi yang fotonya muncul di laman explore IG saya. Fotonya agak ganggu, buat saya yang juga menyusui anak saya. Mbaknya baru nyusuin 40 hari, saya waktu itu nyusuin 3.5 tahun :)) Fotonya memperlihatkan kalau mbaknya tidak bisa nyoblos sendiri karena sedang menyusui. Both hands were occupied and so her sister helped her to vote.

Tarik mundur dikit, saya mengalami kesulitan beradaptasi saat menyusui Menik. Butuh tiga bulanan untuk bisa ikut menyatakan kalau “menyusui itu mudah!” Tiga bulan pertama, sih, penyataan yang keluar “SIAPA YANG BILANG NYUSUIN ITU GAMPANG? HA?” x)) Nah, karena saya tahu menyusui (dan prosesnya) itu bersifat personal, saya coba cek IG mbaknya dulu, dan JRENGGGGGG… hehehehee.. Lah, kalau menurut mbaknya menyusui itu adalah hal yang natural dan mudah, kenapa susah-susah amat pas mau nyoblos? Petugas TPS juga kenapa bolehin, ya? Ceritanya pakai peraturan KPU nomor 31-32 (CMIIW) tentang keterbatasan fisik dan hak menyoblos. Yakali menyusui jadi keterbatasan fisiknya? Atau gimana?

Elena-Oliva-Photo-RS.jpg

Lihat, dong, Olivia Wilde. Nyusuin sambil makan? Not a problem!

Menyusui memang membutuhkan kekerasan kepala, menyusui memang boleh di mana saja, kapan saja, saya sering sekali menulis tentang hal ini. Ada tulisan saya untuk mendukung hal ini di sini. Lalu saya juga pernah menulis soal keputusan menyusui lebih dari 2 tahun, yup, I breastfeed my baby for 3.5 years! Dan masih banyak lagi, kenapa? Karena saya memang ingin semua ibu di Indonesia bisa menyusui, tapi menurut saya, ya nggak gitu-gitu amat, sih, hahahaha.. Memangnya mbaknya nggak mau merasakan nikmatnya menyusui sambil makan bakso, ya? Eh, itu mah saya aja kali, ya.. hauhauhaa.. skill dalam dunia ibu, tuh!

Saya nggak punya banyak foto menyusui pas Menik masih bayi, nggak ada yang motretin soalnya, HAHAHHA. Kalau yang ini, bahkan nggak pakai apron, dan saya bukan ibu-ibu pengguna daster. Saya geng kaos lebar, sih, hahaha.. but yeah, ini pilihan aja, yang penting bisa nyusuin di mana saja, kapan saja.

ebf

ebf2

Dan makin lama makin jagoan, nanti bisa gini: 


Nah, karena kaget dengan foto tersebut, saya otomatis nulis di Path. Saya cuma berbagi saran bahwasanya si mbak kudu latihan lebih giat, berbekal tangan yang sudah setrong, harusnya bisa nyusuin dengan satu tangan, hehehee.. di luar dugaan, yang komen BANYAK BANGET. I can say, that post was my top post so far in 2017, hahahaha.. Ya ampun, baru sekali itu ngepost di Path, komennya sampai 80-an. Belum lagi postingan selanjutnya dengan belasan komentar. Sampai saya bikin klaim bahwa saya nggak ada masalah apapun dengan mbak ini, tapi saya gerah dengan picture perfect di kehidupan IG-nya yang dipertontonkan ke banyak sekali followersnya.

Karena banyak sekali komentar, saya jadi scrolling ke bawah postingan mbaknya, kan. Di situlah saya jadi tahu kenapa BANYAK sekali yang ikut berpendapat di postingan saya. Hampir semua pernyataan si mbak di caption IG-nya ini terasa mengintimidasi dan snob. She even stated that baby blues doesn’t exist. Wow. I mean really wow. Mungkin baby blues-nya nggak mampir atau cuma selewat dalam hidup mbaknya, tapi jangan lupakan kasus-kasus baby blues di seluruh dunia bahkan post partus depression yang memang ada. Kalau saya mencoba jujur dan bercerita di sini. Bisa juga coba mampir ke www.scarrymommy.com  atau cek www.tovaleigh.com, deh. Bagaimana kehidupan nyata ibu-ibu di seluruh dunia ini ditulis dengan apik, dan ya.. apa adanya.

Maksudnya begini, kalau memang mau menampilkan kehidupan yang bahagia adem wangi sepanjang masa di IG-nya sih, nggak masalah, tapi yang bener aja, dong pencitraannya. Bikin deg-deggan ibu-ibu yang melahirkannya dalam jangka waktu berdekatan, loh. Nggak empati banget sama yang kena baby blues, kena seret ASI, payudara bengkak dan lainnya. Sebaik-baiknya kan saling mendukung dan berbagi, bukan membuat pernyataan snob yang mengakibatkan ibu-ibu lainnya gempeur.

Terus inti dari postingan ini apa?

Apa, ya? Hahahaha, sirik tanda tak mampu. Itu, sih kayaknya, hauauahuahaaa… Sirik karena lihat feed IG-nya sempurna banget, ibu-ibu lain mah, nggak ada seujung kukunya. Ibu-ibu yang mompa sambil ngetik di cubicle-nya atau ibu-ibu yang nyusuin sambil belanja di pasar buat masak makanan nanti di rumahnya, nggak ada apa-apanya. Pokoknya klean semua nggak ada apa-apanya karena hidup klean nggak seindah Instagram dan Pinterest. Begitu, tuh, kira-kira, ya.. rasa dari postingan foto dan captionnya.

dan saya jadi ingin mengajak mbaknya untuk nonton Nosedive dan akhirnya ingin mbaknya untuk ikut teriak “F*CK YOU WORLD” kalau memang selama ini ada banyak sekali kegundahan yang tersimpan dalam hati, dalam diri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat hal-hal yang sebenarnya terjadi. Lalu baca ini http://www.scarymommy.com/mothers-mental-health-is-everything/ ๐Ÿ™‚ Yup, because it’s okay to say “I am not fine!” because we are human, and we’re full of flaws. And it’s okay. Really.

Saya baru jadi ibu selama lima tahunan, saya cuma mau bilang ke ibu-ibu di luar sana bahwa kita boleh merasa sedih. Kita boleh merasa marah, bahkan boleh merasa “kok gini amat, ya, punya anak?” Kalau baca postingan Dewa kemarin di Path “pengin gue pites deh ini anak!” Tentunya Dewa nggak akan mites anaknya beneran, it’s just a feeling. And it’s good to release it. Beneran, deh. Nggak usah takut dengan penilaian orang lain. Karena sesungguhnya sibuk dengan urusan nilai di dunia ini nggak akan ada habisnya. Bagus kita nggak hidup di dunia Nosedive, di mana semua orang bisa menilai dengan gamblang citra yang  ditangkap olehnya. Kita nggak tahu apa yang mereka lihat, mereka akan menilai kita, dan kita juga melakukan hal yang sama. Tapi yang menjalani hidup kita kan kita sendiri. Bukan orang lain. People do judge, so what?

15826558_10154492045654145_3322795877660214602_n

Menjadi ibu adalah hal yang sifatnya seumur hidup. Tidak bisa ditanggalkan dan diabaikan. So be ourselves, be kind to ourselves. Menjadi ibu yang baik dan sempurna adalah impian semua perempuan yang melahirkan, tapi bukan berarti berlebihan dan menjadi jahat ke orang lain. Untuk mbak artis yang baik, jika memang yang ditampilkan di media sosial adalah nyatanya dalam hidup Anda, saya mau menyampaikan permohonan maaf karena salah memberikan penilaian. Karena saya juga seorang ibu dan selama ini hidup bersama dengan banyak ibu-ibu lainnya, dan selama ini belum pernah ketemu sama ibu yang nyoblos dengan bantuan orang lain hanya karena sedang menyusui, hehehe..

13516175_10153935302469145_7880854504923581145_n

So mothers, stay calm, and don’t worry about being a non-flawless mom.


Tambahan cerita nih, saat awal melahirkan, buat jawab pertanyaan yang datang soal “emangnya lo langsung jagoan, ya?”:

Kelihatan bagaimana Menik bisa saya gendong hanya dengan satu tangan, ya. Sering sekali Menik saya gendong atau susuin satu tangan, dan tangan yang satunya saya gunakan untuk makan, minum, mindahin saluran tv, masukin cucian ke mesin, dan lainnya. Menik adalah bayi bau tangan, alias maunya digendong melulu. Sekaligus saya tambahkan info, hehe, kalau Menik saya urus sendirian, nggak bisa nggak karena memang tidak ada bantuan. Saya hanya tinggal bertiga dengan suami dan Menik di apartemen kecil. Jadi Menik sudah saya mandikan sendiri sejak usia 3 hari alias sejak pulang dari RS ๐Ÿ˜€ Bukan snob ya, ini, realita aja hahahaha.. dan emang sedih plus capek rasanya. Cerita bagaimana saya mendapat julukan “si susah nyusuin” sudah sering sekali saya ceritakan, online maupun offline. Cerita saya nangis di bawah blower AC?  Nanti ajalah, ya. Tapi iya, saya frustasi saat menyesuaikan diri menjadi ibu. Sampai sekarang masih, sih, hahahhaa! Dan percayalah, perjalanan masih sangat panjang ๐Ÿ˜€

 

 

Positive Birth Movement – Bandung

Well, have you heard abouth this before?

Positive birth movement (PBM) is a global network of free to attend antenatal groups, linked up by social media. They connect pregnant women together to share stories, expertise, and positivity about childbirth. They aim to challenge the epidemic of negativity and fear that surrounds modern birth, and help change birth for the better. (www.positivebirthmovement.org)

If you are pregnant or still trying to conceive, you really have to (at least try) join this group. In PBM, they are not judging. They facilitate to spread the knowledge.

And PBM comes to Bandung, Indonesia, at Simpul Library “PUSTAKALANA“, broad to you by Dini, ย a mother, one of Pustakalana volunteer, who tend to believe about positive parenting. To help Indonesian mothers-to-be rise their positive thoughts.

So, Circle Talk #2 : Place of Birth, was the first PBM for me. When I was pregnant in 2011, I don’t know anything about PBM :)) Continue reading

Berkunjung Ke Dago Dairy Farm

  
Our first field trip in 2016: to Dago Dairy Farm! 

Perjalanan dadakan ini direncanakan hari Selasa lalu, pesertanya ada saya, Chica, Anya, Dini, Tia, Mita, Iti, dan Ami. Tentunya plus plus krucil yang ramai.

Rute yag harus kami lalui ternyata tidak begitu mudah. Jalanannya terjal, curam, dan tidak terlalu besar. Bahkan mobil Iti sampai habis koplingnya, huhu. But despite of all these worry driving mommies, akhirnya pukul 9 kami sampai di tempat parkir. 

  
Dari tempat parkir, kami harus berjalan menyusuri  jalan setapak sekitar 700 meter untuk sampai ke tujuan. Di sana, Mark, sang pemilik Dairy Farm sudah menunggu dengan senyum yang lebar.

  

Mark menjelaskan soal peternakan sapinya yang sudah berumur 10 tahun ini. Lanjut dengan menyelesaikan tantangan menjawab pertanyaan seputar peternakan sapi perah. Kami jadi tahu kalau sapi usia 2 tahun itu sudah bisa melahirkan, sapi yang menyusui butuh sekitar 15 liter air sehari, berat sapi perah yang baru lahir itu sekitar 30 kg dan masih banyaaakkkk lagi. Setelah menjawab pertanyaan, kami jalan sedikit menyusuri hutan.

   
   

Perjalanan dilanjutkan ke kandang sapi. Hal yang paling ditunggu oleh anak-anak sedari awal. Kami melihat sederetan sapi yang besar dan sehat. Ada anak-anak sapi, dan sapi remaja. They were all look healthy karena memang kualitas makanan, kebersihan, dan kenyamana sapi sangat diperhatikan di Dago Dairy Farm. 

   
 

And of course after listening to his explanation, all kids could feed the calf! Yaayyyy ๐Ÿฎ

   

   
Puas melihat sapi yang sehat, kami mengakhiri kunjungan dengan menikmati yoghurt buatan Dago Dairy Farm yang enak sekali! 

  
Awal tahun baru yang menyenangkan sekali. Thanks to Dago Dairy Farm, especially for Mark and Ibu Yanti. Sampai jumpa di Field Trip selanjutnya, ya! 

Moving On To 2016

image

15 minutes to the end of 2015.

This year is like a roller coaster for me and my little family. But I know everything happened for a reason. We can not eat sweets everyday. We also have to eat sour, salty, and even bitter one. But it’s life. And now, let’s moving on to 2016.

Cheers for better years 😘

Happy new year 2016!