Karena Iqbaal dan Sasha

Ini adalah pertama kalinya saya memutuskan untuk baca novel setelah nonton filmnya, karena kejadian biasanya adalah baca novelnya dulu, dan ikut antusias ketika filmnya hadir, lalu ada kecewa setitik dua titik setelah nonton filmnya, tapi ujungnya tetep ngefans dan baca-nonton berulang kali. Contoh: Harry Potter.

Tapi untuk yang satu ini, kebalik, pemirsa. Saya nonton dulu filmnya, terus karena penasaran dengan kehebohan film ini, dan kesengsem sama pemain utamanya, jadi saya mencoba membaca lagi novelnya. Novel karya Pidi Baiq yang saya coba berulang kali baca tapi berhenti di situ-situ saja, dan akhirnya saya kembalikan ke pemiliknya dan bersedih hati karena numben banget saya nggak bisa menyelesaikan bacaan romansa yang trendi pada masanya.

Setelah nonton dan nulis reviewnya, Olva dan Anya bilang, “coba baca novelnya, gih! Lebih bagus dari pada filmnya! Urutannya lebih tertata, ceritanya juga karena bentuk tulisan, jadi nggak kayak yang di film gitu!” Begitu kira-kira.

BAIK!

(sumber : http://jatim.tribunnews.com)

Sebelum baca, saya keburu kecebur ke kolam berisi manisnya hubungan Iqbaal dan Vanesha atau yang punya panggilan sayang ‘Lia’, barisan paling depan diisi sama Bundi Irma dan Nadia! Berawal dari search hashtag #Dilan1990 di IG, ujungnya malah kebawa ke halaman-halaman kompilasi chemistry Iqbaal dan Vanesha! Ini ngehek banget, sih, karena biasanya saya nggak punya One True Pairing atau OTP versi lokal. OTP saya sampai saat ini adalah Ellen Pompeo & Patrick Dempsey serta Milo Ventimiglia & Mandy Moore. Dan baru kali ini, saya mesem-mesem sendiri, bisa nyengir nggak jelas lihat perjalanan promo atau BTS Film Dilan 1990 yang isinya Iqbaal sama Sasha. Sambil ikut doain supaya filmnya tembus 7 juta penonton, jadi Milea berangkat ke Amerika gitu, HA HA HA!

https://giphy.com/embed/xUySTRDepG9ZcEg2rK

via GIPHY

Bener kata Teppy, Iqbaal sama Sasha berhasil memerankan Dilan dan Milea dalam suasana percintaan anak SMA yang nggak pake mikir. Kapan lagi bisa senyum-senyum gara-gara kerupuk coba? Jadi baca bukunya jangan dipikirin, nonton filmnya juga nggak usah dipikirin. Gitu kali ya? Karena tanpa dipikirin terlalu dalam, akhirnya saya bisa menyelesaikan Dilan – Dia adalah Dilanku 1990, Dilan – Dia adalah Dilanku 1991, dan Milea, Suara Dari Dilan.

(Sumber: kapanlagi.com)

Hmm, kira-kira apa faktor yang membuat saya bisa menyelesaikan membaca tiga novel dalam tiga hari?

  1. Saya ngebayangin muka Iqbaal dan Sasha dalam setiap adegan di buku.
  2. ….
  3. ….
  4. ….
  5. ….

Ternyata cuma satu doang! Hahahaha, ya monmaap, jadi karena saya udah nonton, jadi kebayang gimana muka Milea dan Dilan, sambil memperbaiki alur dan suasana Bandung yang ada di filmnya. Karena Pidi Baiq menuliskan semua nama jalan dan daerah di Bandung dengan jelas, maka saya bisa membayangkan dengan baik, dan menghapus memori buruk lokasi syuting yang di situ-situ doang.

DAN BACA NOVELNYA NGGAK BOLEH SAMBIL MIKIR, YA! x)

Karena kalau sambil diperhatikan detailnya, nanti akhirnya kesal lagi sama beberapa nilai sosial yang ada di novel tersebut. Terus yang saya baca ini sudah versi revisi rupanya, jadi ada beberapa penjelasan detail tentang ini dan itu, yang menurut saya nggak penting, tapi di Indonesia yang beginian jadi penting. Jadi #yaudahlahya momen gitu, hehehe. Nah, kalau novelnya dibaca tanpa banyak tanya dan dinikmati semudah mencelupkan kerupuk ke kuah bakso, maka kisah cinta masa SMA ini jadi enak, pemirsa!

Tidak mudah bagi pembaca novel kritis, tapi jadi mudah kalau udah ngebayangin mukanya Iqbaal sama Sasha jadi Dilan sama Milea, MAHAHAHHA! Oke, sebelum baca, nonton ini dulu, deh.

Udah nontonnya? Udah gemes belum? ~(^.^)~

Novel Dilan 1990 dan Dilan 1991, menceritakan kisah cinta Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Bagaimana cara Dilan ngejar dan menyatakan rasa cintanya ke Milea dengan cara yang sungguh berbeda, terus bikin senyum-senyum sendiri pas baca. Bagaimana pergulatan batin Milea setiap kali mau ngambil keputusan dalam hubungan bersama Dilan, hingga romansa receh khas 90 (yang tentunya nggak saya lewati, karena saat Dilan dan Milea kelas 2 SMA, saya masih umur 5 tahun) bisa bikin saya gemes sendiri pas baca. Gemes, kesel, terus kembali ke tahap penyadaran “baca aja, jangan dipikirin, Ki!”

Novel Milea, Suara Dari Dilan, ini justru lebih menarik buat saya, karena ada bagian kosong di novel Dilan yang diisi di seri ketiganya ini. Sudut pandang Dilan, bikin saya menganggukkan kepala dan berkata dalam hati “ooh, ini ya, kenapa Iqbaal yang dipilih!” -tetep ujungnya si ex Coboy Junior. Ada banyak cerita latar yang ditambahkan oleh Dilan di sini. Dan setelah beres baca Milea, saya jadi pengen bisikin ke Milea “ari Milea sehat? Kunaon maneh teh, heiii!”

Perlu moral of the series nggak nih?

Nggak usahlah, ya! Kan bukan novel buat mikir! HAHAHA

Tapi yang pasti, novel ini ngasih tau kalau setiap koin punya dua sisi. Jangan diliatin nominalnya melulu, lihat gambar baliknya juga biar penuh pengetahuannya. Jadi uang logam 500, baliknya ada gambar apa hayo?

Satu lagi, saya nggak pernah bisa menikmati lagu-lagu The Panas Dalam, yang merupakan band dari Pidi Baiq. Nggak tau ya kenapa, mungkin dulu pernah ada trauma waktu interview beliau-beliau di Ardan pada masanya saya siaran, hahaha, lalu kemudian tidak ingin bersentuhan dengan karya-karya beliau. Jadi saya juga nggak melirik sama sekali ke soundtracknya. Atau pas jadi MC dan Pidi Baiq jadi bintang tamunya, saya nggak bisa ketawa sama becandaannya. EHE!

Tapi lagi-lagi karena pesona Iqbaal Ramadhan yang nyanyiin lagu Rindu Sendiri, saya jadi nyari-nyari lagunya, dan ternyata Rindu Sendiri mah bukan ciptaan Pidi Baiq, x))! Tapi ternyata juga lagu-lagu Voor Dilan ini dinyanyikan oleh seorang perempuan bernama Ajeng KF.

Lagu Rindu Sendiri ini juga banyak yang cover, cek di YouTube! aja, ya.. Udah banyak banget. Salah satu favorit saya adalah versi Hanin Dhiya, dan ini dimedley gitu, Rindu Sendiri dan dua lagu Voor Dilan yang bagus jadi satu klip. LEUV banget! Kaulah Ahlinya jadi satu-satunya lagu yang masuk buat telinga saya, sih. Kalau Dulu Kita Masih Remaja, ya gitu aja. But seriously, check this one out and feel the love.

 

Demikianlah, perjalanan saya untuk mengenal Dilan dan Milea. Kritik untuk film dan cerita cintanya masih ada dan tidak saya ralat di postingan sebelum ini, ya. Cerita yang ini cuma untuk ngejelasin gimana akhirnya saya bisa berhasil menyelesaikan novel Pidi Baiq. Maka dari itu, sesuai judul blog hari ini: Pidi Baiq harus mengucapkan terima kasih ke Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang menurut saya oke banget chemistry-nya dan bikin saya jadi bisa baca serial novel Dilan-Milea, serta menikmati lagu-lagu iringannya, yang tadinya nggak saya lirik sama sekali.

Sazki kualat apa gimana? Emm, enggak, sih, ya. Kan kritiknya tetep sama dan nggak berubah setelah baca novelnya. Tapi setidaknya, hal-hal yang tadinya nggak menarik sama sekali buat saya jadi menarik karena ada media lain yang menyampaikan, dalam hal ini Iqbaal dan Sasha. Mohon maaf minggu ini saya belum bisa nonton lagi demi nambahin jumlah penonton supaya Sasha ke USA dan dateng ke acara kelulusan Iqbaal karena anak saya lagi sakit. Kalau nanti ada kesempatan, maulah nonton lagi, buat Iqbaal sama Vanesha! :”)

Advertisements

Saying Goodbye To Uncomfortable Feeling Down there

Sejak melahirkan, salah satu problema yang masuk di bagasi saya adalah inkontinensia urine atau kondisi kantung kemih yang melemah. Iyaa, kantung kemih kendor, kakakkk! Nyebelin tapi mau gimana lagi, kan? Kata dokter kandungan saya, kondisi ini bisa diperbaiki dengan cara senam kegel. Ya tapi walaupun senam kegel ini mudah dan harusnya bisa dilakukan kapanpun saat apapun, kalo lupa ya lupa aja, kan? Jadi kalo lagi bersin, batuk, atau kadang ketawa yang kelebihan, suka ikut pipis sedikit gitu. Sad, I know. T___T

https://giphy.com/embed/3o6ZsZPqu2d90VEB1u

via GIPHY

Nah, problem selanjutnya dengan kondisi inkontinensia urine ini adalah kebersihan daerah kewanitaan yang cukup sensitif. Jadi pas tau kondisi ini, saya selalu memakai panty-liners dan membawa baju dalam bersih untuk ganti sewaktu-waktu. Karena geleuh aja gitu kalau bagian situ rasanya basah atau lembab. Dan kalau tidak dijaga nantinya malah ada jamur yang tumbuh. Ujungnya malah nambahin penyakit baru kayak keputihan, Infeksi Saluran Kemih misalnya. Enggak, deh, ya. Mending ribet dikit, tapi daerah kewanitaan kita tetap bersih.

Karena yang namanya daerah kewanitaan dan sekitarnya, mulai dari vagina sampai rahim ini memang krusial banget dan kalau tidak dijaga malahan bisa membawa banyak hal yang kurang enak. Dari mulai penyakit ke diri sendiri, sampai ke hubungan suami istri. Kalau udah gini, yang suaminya kerja kayak model suami saya (nggak kenal office hour) jadi sedih pas suami pulang tapi nggak bisa having fun, karena lagi keputihan atau gatal-gatal.

SAZ, HARUS DIOMONGIN BANGET?

Ya harussss! salah satu koentji dalam menjaga keharmonisan suami-istri nih. Likewise, I always believed that marriage is a hard work and it takes two to tango. Kerja keras ini harus diusahakan bersama-sama, karena namanya pernikahan ada suami dan istri. Ada dua orang dalam satu ikatan. Jadi sepatutnyalah kita harus mengusahakan yang terbaik bagi pasangan kita. Gitu kan?

Salah satu usaha saya dengan kondisi KKK alias kantung kemih kendor ini adalah mencari cairan pembasuh kewanitaan yang pas dan halal. Dulu sih, diajarin sama ibu saya untuk memakai air rebusan daun sirih dalam rentang haid hingga H+7 setelahnya. Tapi PR banget kalau harus ngerebus tiap hari. Nah, doa anak sholehah diijabah, karena saya ketemu sama Resik-V Godokan Sirih, yang proses pembuatannya sama dengan proses tradisional yang dikasih sama ibu. Pilih daun sirihnya yang masih segar, cuci bersih, lalu direbus, dan siap digunakan.

Resik-V Godokan Sirih ini cocok juga buat yang suka alergi dengan pembalut. Pasti udah pada hafal gimana nggak nyamannya daerah kewanitaan kalau pakai pembalut saat haid lalu alergi karena salah pilih pembalut. Tambah lagi faktor hormonal dan keringat berlebih saat beraktifitas, jadi rentan banget kena infeksi. Resik-V Godokan Sirih ini bisa jadi penyelamat asal rutin digunakan setiap habis buang air kecil dan setelah mengganti pembalut. Khusus buat yang kena inkontinensia urine juga jangan lupa untuk selalu membasuh area kewanitaan dengan Resik-V Godokan Sirih dan jangan lupa untuk mengeringkan dengan baik sebelum ganti panty-liners atau celana dalamnya, ya. Supaya tetap bersih dan sehat, dan nggak ada rasa khawatir kalau tiba waktunya suami pulang ke rumah, ya kan? 😉

Sekarang sudah tidak pernah khawatir terkena keputihan lagi karena godokan sirih ini memang merupakan antiseptik alamai yang efektif untuk mengatasi keputihan dan infeksi di area kewanitaan. Kemasannya kecil dan praktis, jadi mudah untuk masuk ke tas dan dipakai setiap saat dibutuhkan. Psst, Resik-V Godokan Sirih ini juga bisa jadi kado saat teman melahirkan, loh. Cocok jadi teman semasa nifas soalnya.

Nah, antiseptik alaminya udah ada, tinggal latihan kegelnya aja dirajinin, ya, Saz!

Beauty And The Beast 🌹

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini dirilis adalah live action version dari the very famous Disney’s tale: Beauty & The Beast. Saking semangatnya, tahun lalu ketika trailernya muncul, saya sudah berencana untuk mengajak Menik nonton film ini di bioskop. Saya tumbuh bersama Disney’s Princess, not that I want to be the one and I know exactly that their life was not real, tapi buat saya, menikmati film putri-putri-an dari Disney World ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.

Ketika beranjak dewasa, saya baru tahu, ada banyak sentimen negatif tentang cerita princess ini. Dari mulai mengajarkan perempuan untuk mencari prince charming demi kehidupan yang lebih baik, self body esteem, hingga isu pernikahan di bawah umur. Dan ketika sudah punya anak perempuan sekarang, saya jadi lebih banyak lagi mendapat informasi. Well, lebih tepatnya, semakin banyak orang yang mengkritisi film yang banyak ditonton oleh anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Artikelnya bagaimana sih, Ki? Ada banyak, kok.. kayak yang ini, ini, atau ini. Atau coba googling ‘negative side of Disney’s Princess”.

To be honest, karena saya suka sekali dengan cerita-cerita fantasi Disney, ada bagian dari diri saya yang menolak setuju dengan artikel-artikel yang mengupas lebih dalam mengenaik hal ini. I mean, just look at me. Do I look like someone who wait for his prince charming and get rescued? Of course not, I have a dream for my own life and it is not built by Disney. Ada kalimat yang selalu teringat setiap kali kami berdiskusi setelah nonton, baca buku atau majalah. Biasanya bapak atau ibu akan menjelaskan dan mengakhiri dengan “namanya juga film, kak!” atau “Itu kan foto di majalah, banyak prosesnya.” Jadi akhirnya yang tertanam dalam diri saya adalah itu semua hanyalah cerita khayalan. Ada banyak hal semu di dunia, tapi tidak dengan hidup kita. We must live our own life, so let’s try to do our best.

(panjang, ya, preambule-nyaaa hahahah)

download - Copy

Anyway, ketika akhirnya film Beauty and The Beast rilis, saya mendapatkan banyak informasi yang tidak enak mengenai film ini. Pertama tentunya kalimat dalam Press Release yang menyatakan kalau ini adaah film pertama dengan tokoh gay di dalamnya. Berikut banyak banget review setelah premiere yang bilang “banyak banget gay momentnya!”. Kedua ,konsentrasinya ada pada isu bestiality dan stockholm syndrome. Pas dengar ceita ini, saya rasanya mau bilang “DUH, GILAAA… DO NOT RUINED MY CHILDHOOD!!” ahahahahaa.. tapi karena saya punya tanggung jawab sekarang, yaitu anak perempuan kecil yang sangat suka berkhayal jadi Princess, maka saya mundur sedikit. Tadinya sudah mau nekat bawa karena di luar negeri ratenya adalah PG alias Parental Guide, tapi di Indonesia jadi 13+ alias untuk remaja. Belum lagi cerita beberapa negara yang melarang film ini tayang, atau memotong banyak bagian yang dianggap tidak pantas ditonton anak-anak.

Rasa percaya diri “ah, nggak apa-apa kali bawa Menik nonton!” berubah jadi “haduh, ini gimana ya, baiknya?”. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami memutuskan untuk screening film ini duluan baru diputuskan apakah Menik boleh nonton atau tidak. Mbak Menik tentu kecewa. Secara setiap hari, anak ini bertanya “hari ini tanggal berapa? Berapa hari lagi ke tanggal 17?”.

Saya nonton premierenya bersama teman baik saya, Bundi. Keluar dari bioskop setelah menyaksikan tayangan selama 129 menit, kami merasa bahagia. HAHAHAHHAA.. ya ampun, filmnya indah banget. Emma Watson, Dan Steven, Luke Evans, Josh Gad, Emma Thompson, Ian McKellen, Kevin Kline, Ewan McGregor, Stanley Tucci, dan Audra McDonald, sih, KEREN BANGET MAINNYAAAAA.. AAKKKK!! Ewan McGregor apalagi. I LAFF LUMIERE! hahahaha..

null

The CGI was good, walau saya masih merasa ada beberapa gerakan dan editan yang kurang halus, tapi nggak apa-apa. Lagu-lagunya? Oh my god, Allan Menken is the best kalo urusan lagu Disney. Kostum? Ya apalagi kalo bukan BAGUS BANGET! Walau desain the yellow dress is a bit different, tapi tetep aja, bagus pas dipakai dansa. Baju putih yang dipakai dansa di ending scene juga bagus, kak! lope-lope pokoknyaahhh.. :))

Nah, saya sengaja nggak langsung nulis review malam setelah nonton malam itu. Saya coba cerna dulu semalaman. Besoknya, saya memutuskan untuk menceritakan sedikit adegan yang menurut saya bisa mengganggu Menik. Dan kalau Menik masih mau nonton, ya hayuk.

Apa tuh adegan yang mengganggu? Buat saya, adegan kekerasan yang tervisualisasi dengan nyata ini lebih mengganggu ketimbang isu gay moment yang hangat diperbincangkan sejak film ini keluar. Sisanya nggak ada yang mengganggu. Malahan, karena ada beberapa perbaikan jalan cerita, saya jadi makin cinta sama Belle. Pesan yang disampaikan film ini juga bagus. “Set free the love and don’t sacrifice yourself”.

Highlight tentu ada pada Beast yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya akhirnya bisa merasakan cinta dan belajar untuk melepaskan hal yang paling dicintainya. Maurice juga belajar untuk melepaskan Belle dan percaya kalau Belle bisa menghadapai masalah yang ada di depannya. Maurice juga tidak serta merta berjanji pada Gaston untuk memberikan Belle kalau Gaston bisa menolongnya, dan Belle tidak menyerahkan dirinya pada Gaston demi menyelamatkan Beast yang ia sayangi.

giphy1

That’s sweet, right?

Sebagai orang tua, pasti kita sering merasakan hal yang sama dengan Maurice. Ingin melindungi dan menjaga si anak dengan kedua tangan kita. Padahal kata Kahlil Gibran “anakmu bukan anakmu” :)) Sebagai orang yang mencintai pasangannya, kadang kita berpikir untuk mengorbankan segalanya. Padahal belum tentu itu menjadi jalan keluar terbaik. We have to use our brain and heart equally! 😉

Jadi menurut pendapat saya, film ini sebetulnya bisa ditonton anak-anak di bawah 13 tahun. Tapi pastikan dalam dampingan orang tua. Saya sendiri memilih untuk cuek sama karakter LeFou. Saya akan jelaskan kalau Menik bertanya. Tapi sampai beres filmnya, nggak ada pertanyaan, sih. Menik malah lebih konsen sama Gaston nginjek-nginjek kubis, dan si lemari alias Madame Garderobe.

Ini pendapat Menik soal Beauty and The Beast:

Jadi bagaimana, Ki? Apakah anak-anak boleh nonton atau enggak? Ya, dikembalikan ke kepercayaan dan keyakinan masing-masing saja. Kalau mau enak, jangan bergantung sama pendapat saya ini. Tapi nonton sendiri aja tanpa anaknya duluan, baru abis gitu putuskan.

giphy2

 

Selamat berakhir pekan, semuanya! 🙂

[Beauty Review] Vitacreme


After 1.5 months, I think I can do one proper review for VitaCream. So I have two of them, VitaCreme B12 Day Cream Sub Protection and VitaCreme Lightening Cream. 

Untuk catatan, saya ini hobinya ganti-ganti merek kosmetik. At least, 3 bulan sekali, pasti dirotasi, hehe. Niatnya, sih, supaya nggak ketergantungan sama satu merek.

Pas pelembab saya habis setelah dipakai 2 bulan, saya ganti ke VitaCreme Lightening. Pertama, pas lihat kemasannya, lucu. Karena kayak pasta gigi, dan ternyata warnanya pink! Jadi gemes sebelum coba. Pas pertama kali cobain, ada sedikit aroma alumunium tapi nggak terlalu menyengat dan hilang sih, ketika udah diaplikasikan. Dan setelah pemakaian rutin selama 1 bulan lebih setiap pagi (malam kadang-kadang aja kalo inget, hehehe) itu berasa lembab dan daerah pinggiran hidung serta dahi yang belang, jadi mulai berubah warnanya. Belangnya memudar. Yang saya suka banget adalah kemasannya yang rapat tutupnya. Jadi nggak takut tumpah kalo dibawa-bawa. Sisanya on average score. Menjaga kelembaban, iya, tapi nggak terlalu bikin kenyal. Mencerahkan kulit? Iya, tapi bukan memutihkan, and I loved it!

Kalau VitaCreme Day Cream, saya baru cobain sekali pas mau berenang. Kesannya adalah sticky (just like another sun protector) tapi terasa melindungi. Tapiiiii, karena SPF30+++ jadi nggak saya terusin. Karena saya kan kulitnya gelap, jadi cukup di SPF15+++. 

Kalau ada yang lagi cari krim wajah, coba cek di Sociolla, deh. Ada banyak pilihan yang bisa dilihat. Salah satunya produk VitaCreme ini 😉 Nah, daripada sekarang ngantuk nungguin jam buka puasa, gimana kalau browsing beauty product aja, sis? :)) 

Make Up By Devina

Seumur hidup, saya paling nggak suka didandanin sama orang lain. Karena kulit saya sawo matang, lalu ujungnya muka selalu belang sama leher. Kan kesel. Sad.

Anyway, pas menikahpun, saya minta tolong sama tukang potong rambut langganan yang bisa kontrol jumlah pemakaian make-upnya. Pokoknya nggak mau medok. Alhamdulillah, pas jadi manten, bisa natural dan nggak belang.


Eh, pernah sekali didandanin agak serius, sih. Pas jd MC Indiefest di Jakarta. Itu karena jd MC di on dan off air, jadi di ruang rias tau-tau didandanin aja sama mas-mas yang gue gak tau siapa x))


Nah, selanjutnya setiap ada acara atau kerjaam MC, saya pasti dandan sendiri. Modal bb cream, bedak tabur, bedak padat, eyeshadow, eyeliner, mascara, blush on dan lipstick. That’s all. Tapi kemarin, pas salah satu teman baik saya menikah dan meminta saya jadi MC, tiba-tiba aja pengin didandanin yang bener. Lagian udah pake jilbab, nggak mungkin belang! x))

Tadinya desperate, karena teman saya yang  MuA ternyata nggak bisa, lalu yang  satu lagi jadi crew di acara nikahan teman saya ini. Pikir saya, ya udah lah ya.. Dandan sendiri lagi deh. Eh, pucuk dicinta ulam tiba, jajaran kakak-kakak make up yang bertugas dandanin manten dan keluarga mau dandanin saya. Yay! Jadi akhirnya saya yang polos begini:


Disulap dan dipoles oleh tangan andal MuA bernama Devina Kristianti atau Devi jadi begini:


HAHAHAHAHAHA! Super happy, kan? Cepet lagi, nggak pakai lama. Nggak maksain nyuruh nyukur alis, dan nggak belang! Lalu dibantu Bubu untuk pasang jilbab yang simpel dan gak pusing bentuknya. Tadaaa.. Jadi deh, eike ngeMC di nikahan Show Director andal dengan muka yang dipoles!


Saya rekomendasiin banget deh ini Devi dari timnya @VMakeUpStudio 😍 super love!

By the way, Vebi atau Mbe juga terima kelas private make up gitu! Jadi kalo mau belajar dandan sendiri, bisaaaa 🎉

Makaci makacii makaciiii dear Devi n VMakeUpStudio! 💋

Botanina, Your Local Pure Essential Oil

Saya selalu suka produk dalam negeri. Biasanya kalau harga merek hipster mulai nggak masuk akal, saya coba cari produksi lokal.

Kayak essential oil ini, sebagai yang tinggal di negara kaya rempah, saya kaget sama harga essential oil yang lagi tren. Waktu itu nyari oil buat ibu yg sedang menjelang menopause. Tapi ciyus, rasanya saya kezelek waktu tau harganya. 😅😅😅

Lalu mulai cari Essential Oil produksi lokal, ada beberapa kandidat. Tapi karena ada satu merek yg dimiliki teman, jadi cobain yang ini dulu. Alasannya gampang: biar enak nanya sepuasnya.

Ketemu, deh, sama @Botanina_ID 😁 waktu tau, masih cuek, nggak langsung beli buat stock dll. Tapi pas kemarin Menik sakit, demam, tapi nggak ada batpil, khawatir virus jahat. Mana lagi pancaroba, makin parno. Cuss deh tanya, dan dikasih Thieves!

Enak dan ajaib. Menik bisa tidur nyenyak setelah dua malam tidur gelisah, harganyapun bikin kantong tetap senang. Jadi beli Cold & Flu spray buat jaga-jaga kalo batpil datang.

Cold & Flu Spray ini harganya 70rb.
Thieves Essential Oilnya 110rb.

Kalau mau minta katalog, coba ke Line: Botanina atau cek IG @botanina_ID deh. Selain Essential Oil, Botanina memang berkonsentrasi pada natural healing dan home remedy berbasis pure essential oil. Jadi mulai dari Pengharum Ruangan hingga Bugs Repellent juga ada.

Botanina membuat varian produk yang disesuaikan dengan kelompok umur konsumen. Jadiiii, meskipun essential oil adalah bahan alami, namun tetap saja tidak semua essential oil dapat digunakan untuk segala usia (sensitivitas tubuh pada tiap umur dapat berbeda-beda).

Lalu untuk ibu hamil dan menyusui, ada daftar essential oil yang sebaiknya dihindari dan hanya dapat menggunakan essential oil pada dosis rendah. Jika ingin menggunakan produk Botanina, bisa coba produk yang diperuntukkan bagi anak-anak atau deretan produk Botanina – Pregnancy Friendly Skincare.

Begitu kira-kira, ya. Sekali lagi, kalau mau tau lebih jelas, coba langsung tanya aja sama yang lebih ahli alias yang punya.

Stay healthy, peeps! – with Olva

View on Path

GummyBox Playdate

Tanggal 11 Juni lalu, saya dan Menik mendapat undangan ke Jakarta untuk ikutan #GummyBoxPlaydate (thanks Lita!)

Berangkat dari Bandung pukul 10, kami sampai di Pand’or Wijaya pukul 1.30 siang. Walau acaranya sedikit terlambat dan harus nyogok Menik pakai es krim 30.000 (untung nggak minta bacang, haha!) akhirnya acara dimulai sekitar pukul 2 siang. Karena dari sehari sebelumnya saya sudah cerita ke Menik, kalau besok kami akan ke Jakarta dan melihat suprise box berisi mainan, jadi sepanjang acara pembukaan sebelum masuk ke main activity, Menik sibuk nanya ke semua orang “kapan, sih, mainnya?”

GB4 GB5

Ternyata GummyBox ini adalah kotak berisi 3 aktivitas yang bisa dimainkan anak usia 4-7 tahun. Menurut Audrey Irawan, founder dari GummyBox, Proyek ini dibuat spesial untuk anak-anak. GummyBox was created out of passion for children, education, and creativity. And their goal is to develop quality activities that bring creativity and inventive experience to family. Pelanggan akan mendapat tema yang berbeda setiap bulannya dengan 3 aktivitas, buku aktivitas, dan kartu petunjuk untuk orang tua. 

GB7

GB1

Lantai dua Pand’or dibagi menjadi dua area. Area konstruksi dan area bawah laut. Menik sudah sibuk ngintip ke kedua ruangan tersebut dan lagi-lagi nanya, kapan bisa mulai main? Hihii, untung Ivy Batuta sebagai host acaranya aware kalau anak-anak mulai bosan nunggu and finally she lead them to play along with GummyBox. Kebetulan Menik kebagian masuk ke ruang konstruksi dulu. Jadi setelah memaka safety jacket and helmet, anak-anak dipersilahkan berkreasi dengan berbagai macam barang yang sudah disediakan diatas meja. Selesai membangun bangunan dari kertas dan menghiasnya, anak-anak dipersilahkan tukar tempat.

GB6 GB8

Masuk ke ruangan Underwater World, ternyata masih cukup ramai dan heboh dengan anak-anak balita yang sibuk main lilin, cat, dan hiasan khas laut lainnya. This room was waaayyy too messy that Construction Zone room! HAHAHA, ya ada cat dan isinya anak-anak dibawah 4 tahun, jadi mereka masih sibuk eksplor dengan tangannya, kan. Pemandangan anak kecil belepotan cat jadi hiburan buat semuanya.

GB3 GB2

Pulangnya, Menik membawa sekotak trial set GummyBox bertema Postal Service. Tadinya mau langsung dibuka, tapi saya bilang istirahat dulu mengingat perjalanan Jakarta-Bandung yang lumayan padat. Tapi setelah mandi, Menik malah segar, jadi lanjut buka GummyBox pertamanya.

Trust me, you will busy awe-ing when you opened the box! Ya saya aja sibuk “waaaahhh, lucu banget!” setiap melihat detailnya. Materialnya bagus, deh. Coba lihat:

GB10

and of course, akhirnya Menik tahu ada yang namanya surat, kotak pos, dan perangko! Bonusnya, Menik jadi kenalan sama board game, dan anaknya suka banget. Konsep kocok dadu, hitung, dan melangkahnya disimak dan diusahakan bisa dikerjakan. Happy to see her excited eyes!

GB14

Abis nemenin Menik main, jadi pengin subscribe monthly subscription di www.gummybox.com deh! Hahaha, ini aja sekotak belum bosan dimainin, kebayang surprise lainnya dari box-box yang akan datang setiap bulannya. Thank you GummyBox!