Beauty And The Beast 🌹

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini dirilis adalah live action version dari the very famous Disney’s tale: Beauty & The Beast. Saking semangatnya, tahun lalu ketika trailernya muncul, saya sudah berencana untuk mengajak Menik nonton film ini di bioskop. Saya tumbuh bersama Disney’s Princess, not that I want to be the one and I know exactly that their life was not real, tapi buat saya, menikmati film putri-putri-an dari Disney World ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.

Ketika beranjak dewasa, saya baru tahu, ada banyak sentimen negatif tentang cerita princess ini. Dari mulai mengajarkan perempuan untuk mencari prince charming demi kehidupan yang lebih baik, self body esteem, hingga isu pernikahan di bawah umur. Dan ketika sudah punya anak perempuan sekarang, saya jadi lebih banyak lagi mendapat informasi. Well, lebih tepatnya, semakin banyak orang yang mengkritisi film yang banyak ditonton oleh anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Artikelnya bagaimana sih, Ki? Ada banyak, kok.. kayak yang ini, ini, atau ini. Atau coba googling ‘negative side of Disney’s Princess”.

To be honest, karena saya suka sekali dengan cerita-cerita fantasi Disney, ada bagian dari diri saya yang menolak setuju dengan artikel-artikel yang mengupas lebih dalam mengenaik hal ini. I mean, just look at me. Do I look like someone who wait for his prince charming and get rescued? Of course not, I have a dream for my own life and it is not built by Disney. Ada kalimat yang selalu teringat setiap kali kami berdiskusi setelah nonton, baca buku atau majalah. Biasanya bapak atau ibu akan menjelaskan dan mengakhiri dengan “namanya juga film, kak!” atau “Itu kan foto di majalah, banyak prosesnya.” Jadi akhirnya yang tertanam dalam diri saya adalah itu semua hanyalah cerita khayalan. Ada banyak hal semu di dunia, tapi tidak dengan hidup kita. We must live our own life, so let’s try to do our best.

(panjang, ya, preambule-nyaaa hahahah)

download - Copy

Anyway, ketika akhirnya film Beauty and The Beast rilis, saya mendapatkan banyak informasi yang tidak enak mengenai film ini. Pertama tentunya kalimat dalam Press Release yang menyatakan kalau ini adaah film pertama dengan tokoh gay di dalamnya. Berikut banyak banget review setelah premiere yang bilang “banyak banget gay momentnya!”. Kedua ,konsentrasinya ada pada isu bestiality dan stockholm syndrome. Pas dengar ceita ini, saya rasanya mau bilang “DUH, GILAAA… DO NOT RUINED MY CHILDHOOD!!” ahahahahaa.. tapi karena saya punya tanggung jawab sekarang, yaitu anak perempuan kecil yang sangat suka berkhayal jadi Princess, maka saya mundur sedikit. Tadinya sudah mau nekat bawa karena di luar negeri ratenya adalah PG alias Parental Guide, tapi di Indonesia jadi 13+ alias untuk remaja. Belum lagi cerita beberapa negara yang melarang film ini tayang, atau memotong banyak bagian yang dianggap tidak pantas ditonton anak-anak.

Rasa percaya diri “ah, nggak apa-apa kali bawa Menik nonton!” berubah jadi “haduh, ini gimana ya, baiknya?”. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami memutuskan untuk screening film ini duluan baru diputuskan apakah Menik boleh nonton atau tidak. Mbak Menik tentu kecewa. Secara setiap hari, anak ini bertanya “hari ini tanggal berapa? Berapa hari lagi ke tanggal 17?”.

Saya nonton premierenya bersama teman baik saya, Bundi. Keluar dari bioskop setelah menyaksikan tayangan selama 129 menit, kami merasa bahagia. HAHAHAHHAA.. ya ampun, filmnya indah banget. Emma Watson, Dan Steven, Luke Evans, Josh Gad, Emma Thompson, Ian McKellen, Kevin Kline, Ewan McGregor, Stanley Tucci, dan Audra McDonald, sih, KEREN BANGET MAINNYAAAAA.. AAKKKK!! Ewan McGregor apalagi. I LAFF LUMIERE! hahahaha..

null

The CGI was good, walau saya masih merasa ada beberapa gerakan dan editan yang kurang halus, tapi nggak apa-apa. Lagu-lagunya? Oh my god, Allan Menken is the best kalo urusan lagu Disney. Kostum? Ya apalagi kalo bukan BAGUS BANGET! Walau desain the yellow dress is a bit different, tapi tetep aja, bagus pas dipakai dansa. Baju putih yang dipakai dansa di ending scene juga bagus, kak! lope-lope pokoknyaahhh.. :))

Nah, saya sengaja nggak langsung nulis review malam setelah nonton malam itu. Saya coba cerna dulu semalaman. Besoknya, saya memutuskan untuk menceritakan sedikit adegan yang menurut saya bisa mengganggu Menik. Dan kalau Menik masih mau nonton, ya hayuk.

Apa tuh adegan yang mengganggu? Buat saya, adegan kekerasan yang tervisualisasi dengan nyata ini lebih mengganggu ketimbang isu gay moment yang hangat diperbincangkan sejak film ini keluar. Sisanya nggak ada yang mengganggu. Malahan, karena ada beberapa perbaikan jalan cerita, saya jadi makin cinta sama Belle. Pesan yang disampaikan film ini juga bagus. “Set free the love and don’t sacrifice yourself”.

Highlight tentu ada pada Beast yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya akhirnya bisa merasakan cinta dan belajar untuk melepaskan hal yang paling dicintainya. Maurice juga belajar untuk melepaskan Belle dan percaya kalau Belle bisa menghadapai masalah yang ada di depannya. Maurice juga tidak serta merta berjanji pada Gaston untuk memberikan Belle kalau Gaston bisa menolongnya, dan Belle tidak menyerahkan dirinya pada Gaston demi menyelamatkan Beast yang ia sayangi.

giphy1

That’s sweet, right?

Sebagai orang tua, pasti kita sering merasakan hal yang sama dengan Maurice. Ingin melindungi dan menjaga si anak dengan kedua tangan kita. Padahal kata Kahlil Gibran “anakmu bukan anakmu” :)) Sebagai orang yang mencintai pasangannya, kadang kita berpikir untuk mengorbankan segalanya. Padahal belum tentu itu menjadi jalan keluar terbaik. We have to use our brain and heart equally! 😉

Jadi menurut pendapat saya, film ini sebetulnya bisa ditonton anak-anak di bawah 13 tahun. Tapi pastikan dalam dampingan orang tua. Saya sendiri memilih untuk cuek sama karakter LeFou. Saya akan jelaskan kalau Menik bertanya. Tapi sampai beres filmnya, nggak ada pertanyaan, sih. Menik malah lebih konsen sama Gaston nginjek-nginjek kubis, dan si lemari alias Madame Garderobe.

Ini pendapat Menik soal Beauty and The Beast:

Jadi bagaimana, Ki? Apakah anak-anak boleh nonton atau enggak? Ya, dikembalikan ke kepercayaan dan keyakinan masing-masing saja. Kalau mau enak, jangan bergantung sama pendapat saya ini. Tapi nonton sendiri aja tanpa anaknya duluan, baru abis gitu putuskan.

giphy2

 

Selamat berakhir pekan, semuanya! 🙂

Advertisements

[Beauty Review] Vitacreme


After 1.5 months, I think I can do one proper review for VitaCream. So I have two of them, VitaCreme B12 Day Cream Sub Protection and VitaCreme Lightening Cream. 

Untuk catatan, saya ini hobinya ganti-ganti merek kosmetik. At least, 3 bulan sekali, pasti dirotasi, hehe. Niatnya, sih, supaya nggak ketergantungan sama satu merek.

Pas pelembab saya habis setelah dipakai 2 bulan, saya ganti ke VitaCreme Lightening. Pertama, pas lihat kemasannya, lucu. Karena kayak pasta gigi, dan ternyata warnanya pink! Jadi gemes sebelum coba. Pas pertama kali cobain, ada sedikit aroma alumunium tapi nggak terlalu menyengat dan hilang sih, ketika udah diaplikasikan. Dan setelah pemakaian rutin selama 1 bulan lebih setiap pagi (malam kadang-kadang aja kalo inget, hehehe) itu berasa lembab dan daerah pinggiran hidung serta dahi yang belang, jadi mulai berubah warnanya. Belangnya memudar. Yang saya suka banget adalah kemasannya yang rapat tutupnya. Jadi nggak takut tumpah kalo dibawa-bawa. Sisanya on average score. Menjaga kelembaban, iya, tapi nggak terlalu bikin kenyal. Mencerahkan kulit? Iya, tapi bukan memutihkan, and I loved it!

Kalau VitaCreme Day Cream, saya baru cobain sekali pas mau berenang. Kesannya adalah sticky (just like another sun protector) tapi terasa melindungi. Tapiiiii, karena SPF30+++ jadi nggak saya terusin. Karena saya kan kulitnya gelap, jadi cukup di SPF15+++. 

Kalau ada yang lagi cari krim wajah, coba cek di Sociolla, deh. Ada banyak pilihan yang bisa dilihat. Salah satunya produk VitaCreme ini 😉 Nah, daripada sekarang ngantuk nungguin jam buka puasa, gimana kalau browsing beauty product aja, sis? :)) 

Make Up By Devina

Seumur hidup, saya paling nggak suka didandanin sama orang lain. Karena kulit saya sawo matang, lalu ujungnya muka selalu belang sama leher. Kan kesel. Sad.

Anyway, pas menikahpun, saya minta tolong sama tukang potong rambut langganan yang bisa kontrol jumlah pemakaian make-upnya. Pokoknya nggak mau medok. Alhamdulillah, pas jadi manten, bisa natural dan nggak belang.


Eh, pernah sekali didandanin agak serius, sih. Pas jd MC Indiefest di Jakarta. Itu karena jd MC di on dan off air, jadi di ruang rias tau-tau didandanin aja sama mas-mas yang gue gak tau siapa x))


Nah, selanjutnya setiap ada acara atau kerjaam MC, saya pasti dandan sendiri. Modal bb cream, bedak tabur, bedak padat, eyeshadow, eyeliner, mascara, blush on dan lipstick. That’s all. Tapi kemarin, pas salah satu teman baik saya menikah dan meminta saya jadi MC, tiba-tiba aja pengin didandanin yang bener. Lagian udah pake jilbab, nggak mungkin belang! x))

Tadinya desperate, karena teman saya yang  MuA ternyata nggak bisa, lalu yang  satu lagi jadi crew di acara nikahan teman saya ini. Pikir saya, ya udah lah ya.. Dandan sendiri lagi deh. Eh, pucuk dicinta ulam tiba, jajaran kakak-kakak make up yang bertugas dandanin manten dan keluarga mau dandanin saya. Yay! Jadi akhirnya saya yang polos begini:


Disulap dan dipoles oleh tangan andal MuA bernama Devina Kristianti atau Devi jadi begini:


HAHAHAHAHAHA! Super happy, kan? Cepet lagi, nggak pakai lama. Nggak maksain nyuruh nyukur alis, dan nggak belang! Lalu dibantu Bubu untuk pasang jilbab yang simpel dan gak pusing bentuknya. Tadaaa.. Jadi deh, eike ngeMC di nikahan Show Director andal dengan muka yang dipoles!


Saya rekomendasiin banget deh ini Devi dari timnya @VMakeUpStudio 😍 super love!

By the way, Vebi atau Mbe juga terima kelas private make up gitu! Jadi kalo mau belajar dandan sendiri, bisaaaa 🎉

Makaci makacii makaciiii dear Devi n VMakeUpStudio! 💋

Botanina, Your Local Pure Essential Oil

Saya selalu suka produk dalam negeri. Biasanya kalau harga merek hipster mulai nggak masuk akal, saya coba cari produksi lokal.

Kayak essential oil ini, sebagai yang tinggal di negara kaya rempah, saya kaget sama harga essential oil yang lagi tren. Waktu itu nyari oil buat ibu yg sedang menjelang menopause. Tapi ciyus, rasanya saya kezelek waktu tau harganya. 😅😅😅

Lalu mulai cari Essential Oil produksi lokal, ada beberapa kandidat. Tapi karena ada satu merek yg dimiliki teman, jadi cobain yang ini dulu. Alasannya gampang: biar enak nanya sepuasnya.

Ketemu, deh, sama @Botanina_ID 😁 waktu tau, masih cuek, nggak langsung beli buat stock dll. Tapi pas kemarin Menik sakit, demam, tapi nggak ada batpil, khawatir virus jahat. Mana lagi pancaroba, makin parno. Cuss deh tanya, dan dikasih Thieves!

Enak dan ajaib. Menik bisa tidur nyenyak setelah dua malam tidur gelisah, harganyapun bikin kantong tetap senang. Jadi beli Cold & Flu spray buat jaga-jaga kalo batpil datang.

Cold & Flu Spray ini harganya 70rb.
Thieves Essential Oilnya 110rb.

Kalau mau minta katalog, coba ke Line: Botanina atau cek IG @botanina_ID deh. Selain Essential Oil, Botanina memang berkonsentrasi pada natural healing dan home remedy berbasis pure essential oil. Jadi mulai dari Pengharum Ruangan hingga Bugs Repellent juga ada.

Botanina membuat varian produk yang disesuaikan dengan kelompok umur konsumen. Jadiiii, meskipun essential oil adalah bahan alami, namun tetap saja tidak semua essential oil dapat digunakan untuk segala usia (sensitivitas tubuh pada tiap umur dapat berbeda-beda).

Lalu untuk ibu hamil dan menyusui, ada daftar essential oil yang sebaiknya dihindari dan hanya dapat menggunakan essential oil pada dosis rendah. Jika ingin menggunakan produk Botanina, bisa coba produk yang diperuntukkan bagi anak-anak atau deretan produk Botanina – Pregnancy Friendly Skincare.

Begitu kira-kira, ya. Sekali lagi, kalau mau tau lebih jelas, coba langsung tanya aja sama yang lebih ahli alias yang punya.

Stay healthy, peeps! – with Olva

View on Path

GummyBox Playdate

Tanggal 11 Juni lalu, saya dan Menik mendapat undangan ke Jakarta untuk ikutan #GummyBoxPlaydate (thanks Lita!)

Berangkat dari Bandung pukul 10, kami sampai di Pand’or Wijaya pukul 1.30 siang. Walau acaranya sedikit terlambat dan harus nyogok Menik pakai es krim 30.000 (untung nggak minta bacang, haha!) akhirnya acara dimulai sekitar pukul 2 siang. Karena dari sehari sebelumnya saya sudah cerita ke Menik, kalau besok kami akan ke Jakarta dan melihat suprise box berisi mainan, jadi sepanjang acara pembukaan sebelum masuk ke main activity, Menik sibuk nanya ke semua orang “kapan, sih, mainnya?”

GB4 GB5

Ternyata GummyBox ini adalah kotak berisi 3 aktivitas yang bisa dimainkan anak usia 4-7 tahun. Menurut Audrey Irawan, founder dari GummyBox, Proyek ini dibuat spesial untuk anak-anak. GummyBox was created out of passion for children, education, and creativity. And their goal is to develop quality activities that bring creativity and inventive experience to family. Pelanggan akan mendapat tema yang berbeda setiap bulannya dengan 3 aktivitas, buku aktivitas, dan kartu petunjuk untuk orang tua. 

GB7

GB1

Lantai dua Pand’or dibagi menjadi dua area. Area konstruksi dan area bawah laut. Menik sudah sibuk ngintip ke kedua ruangan tersebut dan lagi-lagi nanya, kapan bisa mulai main? Hihii, untung Ivy Batuta sebagai host acaranya aware kalau anak-anak mulai bosan nunggu and finally she lead them to play along with GummyBox. Kebetulan Menik kebagian masuk ke ruang konstruksi dulu. Jadi setelah memaka safety jacket and helmet, anak-anak dipersilahkan berkreasi dengan berbagai macam barang yang sudah disediakan diatas meja. Selesai membangun bangunan dari kertas dan menghiasnya, anak-anak dipersilahkan tukar tempat.

GB6 GB8

Masuk ke ruangan Underwater World, ternyata masih cukup ramai dan heboh dengan anak-anak balita yang sibuk main lilin, cat, dan hiasan khas laut lainnya. This room was waaayyy too messy that Construction Zone room! HAHAHA, ya ada cat dan isinya anak-anak dibawah 4 tahun, jadi mereka masih sibuk eksplor dengan tangannya, kan. Pemandangan anak kecil belepotan cat jadi hiburan buat semuanya.

GB3 GB2

Pulangnya, Menik membawa sekotak trial set GummyBox bertema Postal Service. Tadinya mau langsung dibuka, tapi saya bilang istirahat dulu mengingat perjalanan Jakarta-Bandung yang lumayan padat. Tapi setelah mandi, Menik malah segar, jadi lanjut buka GummyBox pertamanya.

Trust me, you will busy awe-ing when you opened the box! Ya saya aja sibuk “waaaahhh, lucu banget!” setiap melihat detailnya. Materialnya bagus, deh. Coba lihat:

GB10

and of course, akhirnya Menik tahu ada yang namanya surat, kotak pos, dan perangko! Bonusnya, Menik jadi kenalan sama board game, dan anaknya suka banget. Konsep kocok dadu, hitung, dan melangkahnya disimak dan diusahakan bisa dikerjakan. Happy to see her excited eyes!

GB14

Abis nemenin Menik main, jadi pengin subscribe monthly subscription di www.gummybox.com deh! Hahaha, ini aja sekotak belum bosan dimainin, kebayang surprise lainnya dari box-box yang akan datang setiap bulannya. Thank you GummyBox!

Sebelum Tidur

Morning! Tidurnya nyenyak dan cantik seperti ini?

baygon2

Gambar dari sini

Sebelum tidur biasanya pada ngapain? Baca buku? Sikat gigi? Ganti baju? Pakai kaos kaki?

Kebiasaan sebelum tidur ini merupakan salah satu rutinitas yang menurut saya sebaiknya dibiasakan dari kecil. Kenapa? Karena seperti yang banyak diceritakan oleh para ahli dalam hasil penelitiannya, bahwa rutinitas yang dilakukan dari kecil akan membentuk pribadi yang teratur. Biasanya kalau ada salah satu kebiasaan yang skip dilakukan, rasanya tidur jadi nggak tenang. Kalau dulu, sih, takut ditegur ibu karena lupa sikat gigi yang diikuti dengan lupa sholat Isya, hehe. Tapi pas sekarang sudah punya anak, jadi tahu bahwa kebiasaan baik tersebut dibiasakan memang untuk kebaikan diri sendiri. Tidur yang nggak tenang, kan, berarti istirahatnya nggak maksimal. Sayang banget, kan? Secara si tidur ini merupakan hal yang dinantikan oleh tubuh setelah beraktivitas seharian.

Anyway, ritual sebelum tidur saya, tuh, sebetulnya berantakan sejak punya anak. Tanya, deh, sama suami! HAHAHHA, sebelum melahirkan, jika sedang tidak ada kegiatan di luar rumah, maka pukul 9 paling telat pukul 10, maka saya sudah tidur :p Iya, kayak anak baik-baik, ya? Nanti bisa mulai beraktivitas sejak pukul 3 pagi lagi. Jadi, saya ini tipe yang mengutamakan tidur cepat, walaupun ada kerjaan. Kenapa? Bangunnya bisa lebih cepat, jadi rutinitas pagi tidak terganggu. Nggak ada cerita telat ke kantor karena telat bangun, deh!

Tapi pas sudah punya anak, ritual dan waktu tidur saya berubah tidak karuan. Walaupun, Alhamdulillah, saya dikaruniai anak yang tidak mudah terganggu tidurnya, namun tetap saja namanya anak bayi, ada aja drama tengah malam. Ya minta disusuin, atau ya nggak mau tidur aja, sampe ngompol dan ulangi terus lalu tiba-tiba sudah adzan subuh :p

Ketika Menik memasuki usia 1 tahun dan tidurnya mulai teratur, saya mulai membangun rutinitas sebelum tidur. Mulai pukul 8 malam, Menik saya ajak ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka, tangan, dan kaki seperti berwudhu. Ceritanya ngajari bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, dan tentunya untuk menjaga kesehatan. Kalau wudhu, untuk membiasakan, bahwa tidur dalam keadaan bersih itu wajib hukumnya. Oh ya, jika baru pulang dari bepergian, saya pasti mengajak Menik mandi pakai air hangat, kalau seharian di rumah dan sore sudah mandi, ya cukup dengan rutinitas sikat gigi tadi. Setelah itu masuk ke kamar dan ganti baju tidur. Ini jadi tanda, ketika sudah memakai piyama, tandanya sudah memasuki waktu tidur dan nggak bisa main lari-larian, atau cemil-cemil (kecuali mau ulangi sikat gigi, hehe). Lalu Menik boleh duduk di tempat tidur, nungguin ibu shalat Isya dulu, habis itu boleh pilih buku untuk dibaca atau diceritain buku di iPad juga boleh. Enak, nih, kalau milih iPad hahaha, tugas membaca bisa diserahkan ke narator. Oh iya, kalau udara di Bandung sedang dingin, saya juga mengajak Menik untuk memakai kaos kaki atau slipper. Kalau sudah selesai baca buku, mari membaca doa, matikan lampu besar, dan susui Menik hingga tidur.

Problem datang ketika Menik sudah disapih! Diapain nih supaya ngantuk kalau sudah habi baca 5 buku nggak ada tanda-tanda mau tidur? Ada beberapa pilihan kegiatan, hahahaha! Memang harus penuh akal kalau sudah menyapih anak. Ada satu rutinitas tambahan sebelum sikat gigi, yaitu minum susu hangat. Ya, ini kepercayaan di keluarga kami saja, sih, kalau sebelum tidur minum sesuatu yang hangat, perut rasanya kenyang, tenang, dan nyaman. Nah, sudah minum susu, baru lanjut sikat gigi, bersih-bersih dan ganti baju. Kalau belum bisa tidur juga, biasanya Menik boleh kembali bermain tapi tetap di dalam kamar dan main yang tidak mengeluarkan energi seperti main puzzle, main boneka, main lilin, atau mewarnai. Masih cenghar juga? Ajak ngobrol dan selfie, haha! Foto-foto berdua sebelum tidur lalu kirim ke suami juga bisa bikin Menik ngantuk. Ngobrol seperti cerita dan ulangi kegiatan hari tersebut apa saja, kalau topik pembicaraan sudah habis, biasanya main tebak-tebakan hewan. Saya menyebutkan ciri-cirinya, Menik menebak nama hewannya. Biasanya, sih, sudah begini jadi ngantuk lalu tiba-tiba nggak ada suara lagi alias sudah tidur. Kalau nggak tidur juga, ya keluarin jurus terakhir, deh! Digendong sambil dinyanyiin sampe merem.

Alhamdulillah, sejak menyapih dirinya sendiri, Menik mendadak panjang juga tidurnya. Nggak pernah kebangun tengah malam dan cari-cari susu ibu. Kecuali tidur siangnya kelamaan, jadi tidur malamnya pindah ke pagi :p Tapi ada satu problem yang ganggu dari Menik kecil yaitu: NYAMUK! Wah, ini adalah satu-satunya gangguan tidurnya Menik. Sejak bayi, Menik ini termasuk bayi yang tidurnya tidak mudah terdistraksi apapun. Saya tidak perlu sibuk nyuruh orang sekitar bicara perlahan atau menegcilkan volume tv jika Menik sedang tidur karena anaknya memang tidak pernah terganggu. Tapi kalau ada nyamuk yang berhasil hinggap dan menggigit, wassalam!

Soal nyamuk, suami saya jagonya. Hehehehe, pak suami ini juga musuhan banget sama nyamuk dan suka pakai perlindungan berlapis sebelum tidur supaya nggak diganggu nyamuk. Dari mulai pakai lotion anti nyamuk, menyemprot ruangan satu hingga dua jam sebelum tidur dan menyapu ruang tidur yang sudah disemprot, hingga memasang obat nyamuk elektrik. Ini sempat bikin heran pas baru nikah, sih, karena saya adalah yang cuek sama nyamuk. Sebetulnya bukan cuek juga, tapi saya nggak suka sama aroma menyengat dan kadang bikin sesak si obat nyamuk. Ketika Menik lahir, saya berpesan ke suami untuk mencari obat nyamuk yang elektrik saja. Supaya nggak ada asap dan nggak bau. Tapi sayang, kadang obat nyamuk elektrik ini seperti nggak ada khasiatnya. Nyala, sih, indikatornya, tapi nyamuk tetap ada. Tahu dari mana? Ya dari anak yang tiba-tiba bangun, keganggu sama nyamuk yang gigit kaki, tangan, atau pipi. Ya ampun. KZL, ya, kalau anak bangun karena nyamuk lalu bingung digimanain supaya tidur lagi karena udah nggak nyusu.

Jadi, sebelum tidur, ketika saya menemani Menik bersiap tidur dengan:

  1. Minum susu hangat.
  2. Mandi jika baru pulang bepergian atau sikat gigi, cuci-cuci, dan berwudhu jika seharian di rumah saja.
  3. Ganti baju.
  4. Baca buku.
  5. Ngobrol.
  6. Berdoa.

Suami saya selalu patroli melakukan beberapa hal untuk memastikan tidak ada nyamuk diantara kami bertiga, seperti mengebut tumpukan boneka Menik agar nyamuk yang bersarang disitu pergi, menyingkirkan baju yang digantung, dan menyemprot lalu menyapu kolong tempat tidur. Setelah itu, suami akan memasang Baygon Liquid Elektrik kemasan baru yang menurut si istri AKHIRNYA ada obat nyamuk elektrik tanpa bau yang ampuh menghalau nyamuk dan nggak bikin istrinya bete karena kabel beleleran kemana-mana.

baygon

Walau keliatannya slim, tapi Baygon Liquid Elektrik ini mampu menghalau nyamuk untuk ukuran ruangan sekitar 30 Meter Persegi selama 45 hari, loh. Ada indikator lampu tanda alat bekerja, dan tinggal lepas dari stop kontak saat tidak digunakan. Tapi kalau saya, sih, dipasang sepanjang hari. Toh tidak mengeluarkan asap, jadi bisa sekalian menghalau nyamuk di siang-sore hari. Coba cek video ini, deh:

Kalau sudah melakukan rutinitas ini, tidur jadi lebih nyenyak dan nyaman. Saya bisa tidur tanpa rasa bersalah dengar suami tepak-tepok kakinya kalau ada nyamuk hinggap. Saya juga nggak kesel kalau harus kebangun karena anak terbangun akibat gigitan nyamuk. Hahaha, ini judulnya harusnya “menyelamatkan tidur berkualitas agar ibu nggak cranky” ya? :p Oh iyaaaa, si obat nyamuk yang harganya nggak sampai 20ribu ini, juga kami pasang di ruang tengah dekat meja komputer. Nah, kalau tidur nyenyak, kan, paginya bisa diajak foto dan anaknya happy seperti ini, nih.

baygon1

Eh, ada yang punya rutinitas sebelum tidur juga dan merasa ada yang kurang nyenyak tidurnya kalau belum dilakukan?

Lomotif!

Belakangan ini saya sedang keranjingan memakai satu aplikasi yang sebetulnya nggak sengaja diunduh saat sedang browsing di Application Store. Namanya Lomotif. Bisa dipakai untuk menggabungkan banyak video, dan diberikan lagu yang sesuai dengan mood video kompilasi tersebut. Lalu durasinya bisa disesuaikan, apakah mau 15 detik agar bisa pas di Instagram, atau mau 30 detik. Tapi tidak bisa lebih dari itu, ya. Kalau beli, fitur tambahannya adalah menghilangkan watermark.

Ini salah satu hasil isengnya:

😀