Tentang Baby Led Weaning oleh Ilsa Nelwan

Ilsa Nelwan

Photo by @Djonk_

Pernah dengar kalimat “one thing leads to another” kan? Nah, tulisan di bawah ini merupakan salah satu contohnya. Duluuuuu, saya kenalan sama dokter Ilsa ini di rumah Kristy, teman siaran zaman di Ardan Bdg. Setahun ini ketemu lebih sering dengan beliau karena kantor kami membantu kampanye digital Yayasan JaRI. Awalnya ngobrol santai di Yayasan JaRI sebelum meeting dimulai. Tapi ternyata obrolan ini menghasilkan tulisan serius dari dr. Ilsa Nelwan, seorang pemerhati kesehatan yang  pernah  mengelola  program  perbaikan  gizi, di Jawa Barat, pernah bekerja di WHO Nepal  dan WHO South East Asia Regional Office, dan juga seorang  ibu  dari  dua anak yang sangat menikmati pengalamannya  menjadi  Ibu.

Kaget dan senang adalah reaksi saya sewaktu menerima email berisi artikel lengkap tentang Baby Led Weaning (BLW) beserta referensi artikel-artikel penting yang sayang sekali jika tidak saya bagikan di sini. Senang sekali karena kekhawatiran saya ditanggapi oleh seorang ahli. Sebetulnya, dokter Ilsa sudah mengirimkan artikel ini dari bulan Agustus, hehehe.. tapi saya baru sempat mengunggahnya sekarang. Sambil mengetik ini saya juga merasa bersyukur baru beres dikerjakan hari ini, sehingga ada jeda waktu setelah huru-hara di media Instagram kemarin, ternyata artikel tentang MPASI bayi ini masih tetap relevan. Jadi supaya makin banyak yang membaca untuk menambah pengetahuan tentang BLW, saya akan langsung share di sini, ya. Continue reading

Advertisements

Don’t Gamble Your Child’s Life For Likes

Tanggal 4 April lalu, geng digital saya sempat mengunggah gambar ini di Twitter. Untuk mengingatkan bahwa hidup ini nyata, jangan dipertaruhkan demi seonggok Likes dan feed di akun sosial media.

Kemarin, saya jengah lagi. Tapi supaya geng julid nggak salah paham, saya tulis dulu, ya, kalau saya tidak menentang BLW atau Baby Led Weaning, salah satu metoda pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI). Perlu nggak, sih, saya ceritakan soal MPASI Menik? Hmmm.. saya mengambil metoda konvensional, mengikuti rekomendasi WHO. Gitu aja. Jadi cerita MPASI saya nggak seru :))

Tapi ingat, ya, saya tidak membicarakan metoda pemberian makanan pendamping pada bayi usia 6-12 bulan. Kenapa? Karena saya bukan ahlinya. Tanyakan pada Dokter Spesialis Anak aja ya.

Saya akan menulis sedikit bagaimana pengaruh postingan para artis terhadap hidup para fans yang mengikuti sosial medianya.

Eh, sebelumnya coba cek foto ini:

Ini saya ambil dari video tentang black market cosmetic. Lengkapnya bisa cek ke sini ya. Singkatnya, di video ini diperlihatkan, bagaimana si penjual kosmetik palsu menjelaskan tingginya angka pembelian di tokonya. Kok bisa? Ya karena nggak semua orang mampu beli lipstick seharga 500ribu. TAPI demi pake lipstick yang TERLIHAT sama, jadi beli yang uslap.

Now back to my concern. Melihat foto dan video perkembangan anak artis pasti terpukau ya. “Hidup tanpa keterbatasan, semua bisa dijalani tanpa beban”. Gitu nggak kesannya? Padahal, ya, mungkin aja sebelum foto diunggah, ada drama di baliknya 👻 we never know, right?

Terus kenapa, sih, diurusin banget? Soalnya BANYAK (CALON) IBU-IBU yang mengidolakan hidup artis yang diintip via jendela sosial medianya.

Postingan ini hanya untuk mengingatkan, bahwa kita hidup di dunia nyata. Bahwa anak-anak bayi ini punya nyawa. Bahwa ketika akan mengambil keputusan, ambilah karena kita sudah melakukan riset, membaca literatur, bertanya pada ahlinya. Hauslah terhadap hal baru sebelum diaplikasikan pada hidup manusia kecil yang sedang belajar untuk bertahan.

Inginnya, selain mengunggah indahnya hidup, berikan ilmunya. Berikan peringatannya. Ikuti rekomendasi organisasi dunia. Ingatkan kepada para fans bahwa untuk melakukan hal ini ada syarat A-Z yang harus dipenuhi. Perlihatkan buku bacaan Anda. Kenalkan dokter tempat Anda berkonsultasi. Beritakan dengan jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan jika ada kursus/kelas yang harus diikuti demi mendapatkan ilmu baru sebelum diaplikasikan ke anak bayi. Jangan lupa juga ingatkan faktor pendukung seperti kebersihan, kesabaran, keimanan, dan lainnya. Ini semua menjadi penting ketika feed IG dijadikan panutan banyak orang.

Semoga para artis yang terlihat pintar ini bisa juga mencari literatur tentang karakter bangsa kita. Orang Indonesia ini dasarnya mudah menerima dan mudah berubah. Masyarakat kita hidup dan besar dari tradisi lisan, tradisi “katanya” 🙂 jadi kebayang kan kalo terjadi sesuatu kemudian argumennya hanya dengan “ya katanya si A ini baik buat bayi, kok!” (Terima kasih Mirah yang udah berbagi pengetahuan dari Sensei di Lab Antropologi nun jauh di Jepang sana).

Pemerintah sedang sibuk menurunkan angka kematian bayi saat lahir karena ibu tidak mendapat bantuan tenaga dan alat medis saat dibutuhkan. Pemerintah juga sibuk menurunkan angka bayi yang ususnya perlu dioperasi karena MPASI dini. Pemerintah masih sibuk mengedukasi bahwa vaksin aman dan dibutuhkan. Janganlah kita menjadi batu sandungan, saat sistem sedang berjalan.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Ribuan LIKES yang ada, foto yang menggemaskan, video yang seru dan menggelikan, bukan serta merta menjadi lampu hijau untuk langsung ditelan mentah-mentah dan diaplikasikan tanpa riset terlebih dahulu.

Don’t gamble your child’s life for IG Likes. Those thousand Likes on celebrities profile don’t mean it is also good for your child. I won’t say any words for those influencer. It’s their life, so let them. Let us live our own live too.

Membereskan Ruang Bermain

Saya udah janji lama, ya, terutama di Instagram pas posting berhasil membereskan kamar main Menik, tapi baru sempat sekarang nulisnya. Nggak apa-apa, yaa..

Jadi begini, loh, beberes adalah salah satu terapi kewarasan untuk saya. Sejak dulu, kalau ada hal yang mengganjal dalam hati dan perlu pelampiasan untuk mengeluarkan energi negatif pilihan saya ada tiga: ngosek kamar mandi, bongkar dan rapihkan ulang isi lemari pakaian, atau beresin kamar. Jadi bukan pencitraan, emang dasarnya jiwa beberesnya sangat kuat, HAHAHA!

Anyway, sudah beberapa kali sebetulnya saya merapihkan kamar main Menik. Menik ini rezekinya alhamdulillah banget, ada aja yang kasih atau beliin mainan. Bisa kakek-nenek, bisa saudara atau bisa juga sebuah brand yang nawarin untuk endorsement. Alhamdulillah, sih, mainan 80% dapat gratis. Tapi astaghfirullah juga kalau udah lihat Menik mainin semuanya. Sejak nggak punya jatah nonton TV dan main hape, Menik jadi lebih aktif ngacak-ngacak kamar mainnya. SEMUA DIMAININ! (T____T)

Sebagai ibu yang suka bersih-bersih, saya sedih banget kalau lihat keadaan kamar main Menik. Karena ada teori mendidik anak yang bilang “Children see, children do” Saya serasa ingin teriak “MANAAA? BEBERESNYA NGGAK RAPIHHH!!” hahahhaa.. Menik bisa dan selalu saya ajak untuk merapihkan mainannya, tapi ada saat-saat Menik keburu tidur, lupa beresin, dan saya keburu gatal untuk membereskan ruangannya. Walau belakangan ini, Menik makin rajin beresin mainannya, tetap saja masih harus diingatkan kalau setiap selesai bermain, harus dirapihkan.

Karena rezeki yang saya bilang cukup tadi, mainan Menik ini makin lama makin numpuk. Lah, ruangannya kan nggak ikut jadi besar, hasilnya? Mumet mata! Pusing banget lihat volume mainan, bahkan ada mainan yang sebetulnya udah nggak kesentuh sama Menik, jadilah saya mencoba mencari cara untuk merapihkan mainannya.

Sebelum sempat merapihkannya, saya sempat jadi MC dulu di acara OLX, dan biasa, deh, kalau jadi MC suka dapet ilmu yaa.. dan kali ini dapat dari Nadya sang Psikolog Rumah Dandelion yang bercerita tentang habit tukang tumpuk barang atau hoarder dan juga metode KonMari alias melepaskan barang-barang yang sebetulnya tidak ada koneksi lagi dengan diri kita dan cara menyimpan barang-barang agar lebih rapih dan teroganisir.

Jadi dapat ide, deh, untuk membereskan ruang bermain Menik dengan metode ini. Menik diajak nggak? Ya iya, dong, kan itu barang milik Menik hahaha.. biarin aja dia yang nentuin sendiri, jadi nanti kalo tiba-tiba keinget dan nanyain, gampang jawabnya. Metode KonMari ini awalnya emang bikin kita lihat semua barang yang kita miliki.

LOOK AT THOSE STUFF!! -____-

Tiga cara utama untuk beres-beres ala KonMari adalah:

  1. Ingat-ingat bahwa tujuan akhir membereskan barang bukanlah membuang atau menyumbangkan barang sebanyak-banyaknya, tapi menyortir dan menyimpan barang yang bisa membuat kita merasa terkoneksi dan bahagia. Jadi pas beres-beres, setiap megang barang tanyakan pada diri “does this spark joy?” Pas kemarin beresin mainan Menik, saya lihat kondisinya, saya ingat-ingat juga kapan terakhir ia mainkan. Kalau sudah lebih dari 3 bulan tidak pernah disentuh berarti saatnya masuk box buang atau box sumbangkan. Kalau masih pernah dimainkan, saya tanya ke Menik “ini masih mau digunakan? mainan ini bikin Menik merasa senang nggak? Kenapa?”
  2. Sortir mainan berdasarkan kategori. Saya mulai dari Lego, kertas, alat tulis dan menggambar, puzzle, princess figures, dough, boneka, buku, dokter-dokterran mainan lain-lain (HAHAHHA ini bingung beneran, jadi kayak mesin kasir, tea set, payung, stroller mainan, dan lainnya, ada di kategori mainan lain-lain).
  3. Atur kembali mainan di tempat yang sudah diberi label sesuai kategorinya. Menurut Marie Kondo, menyimpan barang sesuai kategori dan ditata agar mudah diambil akan menghindari kita dari hoarding alias menyimpang barang tanpa digunakan kembali. Mudah dicari, mudah diambil, dan mudah dikembalikan.

Sudah, deh! Hasilnya, hari itu saya berhasil menyingkirkan dua dus mainan yang ternyata sudah tidak pernah digunakan. Ada yang saya sumbangkan, ada juga yang saya buang karena memang sudah tidak bisa digunakan. Ini dia kondisinya setelah dirapihkan:

img_0415img_0466img_0467img_0475

Sejak diajak menyortir barangnya, Menik jadi lebih bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempatnya. Karena saya tidak mau menjadi ibu yang harus mengingat-ingat di mana si anak meletakkan mainannya. Prinsipnya: Menik yang main, Menik yang rapihkan. Jadi kalau Menik lupa menyimpan, ya Menik ya tanggung akibatnya x))

Yuk, mainan dan ruangannya dirapihkan! 😉

Main Ibu-Ibuan

Waktu kecil pada pernah main ibu-ibuan nggak? Dalam bayangan saya dulu, main ibu-ibuan adalah hal yang paling menyenangkan. Gendong boneka bayi pake kain, masak, ke pasar, dan menyiapkan makanan. Sesekali memarahi (atau menasihati) boneka-boneka pendukung, atau memberikan uang untuk jajan si anak, sebagai tanda kekuasaan seorang ibu x)) Role playing as a mother is the best!

Sekarang pas udah jadi ibu beneran gimana rasanya?

HAHAHA! Ketawa dulu biar hepi ceritanya :p

Is it that bad? Well, to be honest, it is not that bad. It’s intriguing, if I may use that word.

391748_2662232115400_377682691_n

Well, sejak jadi ibu beneran, hidup saya sebagian besar habis seperti gambar di atas : ketiduran saat ngelonin si anak. Awalnya karena menyusui. Kebiasaan ini jadi terus terbawa sampai sekarang, pokoknya kalau saya ngelonin Menik, potensi ketiduran naik 80%! Dulu sih katanya karena salah satu hormon menyusui yang membuat ibu merasa rileks, sehingga ibu ikut istirahat saat anaknya istirahat. TAPI SEKARANG SAYA KAN UDAH NGGAK NYUSUIN! Kok tetap rileks dan ketiduran? x))

Ternyata yang lupa dimainin dan dibayangin pas kecil itu adalah peran ibu itu melelahkan, gaes!

Bayangin aja, ada tanggung jawab nyawa seumur hidup. Dipercayakan untuk dibesarkan jadi manusia sholeh. Capek bingit dari mulai hamil, melahirkan, nyusuin, nyiapin makanan, mikirin menu MPASI, jagain 24 jam, ngajarin jalan, nanggepin omongan bayi yang cuma ibu seorang yang mengerti, mandiin, nyawein, makein baju, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Eh, berarti ibu saya dulu nggak pernah keliatan capek kali ya, di depan saya? Jadi saya pas main peran gitu, anggapannya jadi ibu itu ya gitu aja.

Ya bener juga sih tapi, gitu aja tiap hari.

Sekarang anaknya udah mau lima tahun. Makin banyak akalnya, makin banyak energi yang harus disiapin buat menghadapinya.

Terus berarti saya mengeluh? Haha.. Namanya juga manusia, ada saat positif, ada saat negatif. Kalo positif sama positif, mental dong nanti! I am just saying that being a mother is not as good as you those Instagram’s pictures. Tapi nggak usah dibayangin segitu jauh juga, sih. Nggak segitu parahnya juga, kok. Apalagi kalo punya support system berisi ibu-ibu sepantaran, sealiran yang siap siaga berempati dan mendukung apapun yang perlu didukung. Plus menjadi pengingat saat ada sesuatu yang harusnya tidak dilakukan atau sekadar memberikan saran jika dirasa ada yang kurang benar untuk dilakukan.

Nah, berarti siap-siap geng-gengan, gaesss! Geng apa, nih, Saz? Geng nyinyir yang menganggap nyinyir itu salah padahal anggapan tersebut juga disampaikan secara nyinyir? *lah, ribet* Ini mah geng nero SMA rasanya, bukan geng ibu-ibu. Situ ngerasa masih SMA? *eh*

:))

Kalo ibu-ibu, tuh, biasanya soal pilihan. Geng ASI x SUFOR, Normal x Caesar, MPASI Konvensional x BLW, Tiger x Elephant Mom, dan masih banyak lagi kategori-kategori yang cukup bikin sakit kepala dan sakit hati kalau enggak kuat mental ngadepin nyinyiran grup yang saling bersinggung. Padahal, mah, yang namanya keyakinan ya jalanin aja sendiri, kan? Ambil keputusan dan nikmati hasil dari keputusan tersebut. Salah ambil keputusan? Perbaiki aja, namanya juga manusia.

Iya, namanya juga manusia. Ibu juga manusia. Nggak selamanya ibu itu sempurna. Human being make mistakes. We are all flawed, right? Jadi nggak usah merasa nggak sempurna ketika kita merasa capek menjalani peran sebagai ibu. We can not escape, for sure, but we are allowed to feel exhausted. Jadi boleh, lah, sesekali bilang “pengin kopi enaaakk!” di sosial media, entah iya beneran nantinya (di)beli(in) kopi atau akhirnya hanya sekedar tulisan belaka. Tapi sedikit meneriakkan rasa atau keinginan yang ada dalam hati saat lagi merasa di titik terendah dalam menjalankan suatu peran, adalah hal yang wajar.

“Hayati lelah, gaes!”

Biarin aja, sih, dia ngeluh. Daripada depresi trus berakibat yang fatal? Kan, nggak lucu, gaes! Main ibu-ibuan nggak akan jadi hal yang lucu lagi. Padahal supposed to dijalankan dengan hati senang dan ikhlas, katanyaaaa, agar menghasilkan bibit-bibit unggul generasi penerus bangsa.

Satu hal yang pasti, sih, yaaa.. salah satu dari banyak hal yang paling menakjubkan dari jadi ibu beneran adalah ketika menyadari ada manusia yang tumbuh dalam pegangan kita. Dari 3.3 kg jadi 15 kg. Dari cuma bisa nangis sampe bisa berargumentasi. Kayak gini, nih, misalnya:


Kalau lihat begini, rasanya beruntung banget bisa menjalankan peran jadi ibu beneran. Walau ada rasa capek bahkan rasa frustasi yang (sering) menghampiri, tapi dapat anugerah untuk bisa begini tuh, susah dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang juga rasanya bertanya-tanya “kenapa gue bisa ngerasa gini banget ya ke anak?” :))

Word to describe? Beyond amazing!

Anyway, gimana main ibu-ibuannya selama ini? Banyakan senengnya apa sedihnya? banyakan nyinyirnya atau banyakan ilmunya? x))

Saat Ini Cukup Satu

Harusnya tulisan ini saya naikin pas lebaran kemarin. Jadi kalau ada pertanyaan “kapan Menik dikasih adek?”, bisa langsung kasih link blog. Lumayan naikin traffic, kan? 😜

Anyway, mungkin karena Menik sudah mau 5 tahun, dan hari ini resmi berstatus sebagai anak TK, saya pun secara resmi mulai mendapat pertanyaan tentang kapan adiknya Menik diluncurkan.

Terus terang saja, saya rindu hamil. Saya pernah menulis soal rasa kecanduan hamil di sini. Menurut saya masa kehamilan selama 40 minggu itu sungguh ajaib dan menyenangkan. Mengurus bayi baru lahir (kecuali masa adaptasi menyusui) juga terbilang biasa saja. Iya, pasti capek. Tapi senang.

Tapi saya belum rindu untuk membesarkan lagi. Hahahahaha! Jelas ya, jawabannya! Mengurus bayi dan balita itu beda. Belum nanti kalau memasuki masa SD, terus remaja, lalu kuliah… Haduh!! *nggak mau ngebayangin*

Hidup kami saat ini sedang dalam masa gemas menghadapi balita yang hobi berargumen, mencoba membantah, bertanya super detail, dan mencari penjelasan paling logis menurut pikiran si balita tentang hal-hal yang terlintas di otaknya!

Membesarkan anak, butuh tanggung jawab yang besar. Butuh kesabaran yang panjang. Butuh persiapan finansial yang matang. Mimpi saya terlalu banyak untuk si anak, dan saya sadari, kemampuan kami sebagai orang tua baru sebatas satu anak. Ya memang, ada yang bilang, rezeki setiap anak itu berbeda. Saya tidak memungkiri hal ini. Nenek saya bisa membesarkan 8 anak, tanpa suaminya yang sudah meninggal dunia, sendirian. They survived. So no, I have no doubt about it. Tapi menurut saya dan suami, kami perlu mengatur rezeki yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Kami perlu merencanakan pendidikannya. Kami perlu menyiapkan masa depannya.


Membesarkan nyawa spesial dari sang maha pencipta juga membutuhkan ketenangan diri sendiri. We’ve heard “happy mom happy kid” a lot, right? Dan indeks kebahagian orang itu berbeda-beda. We can not compare and compete to each other.

Jadi, sampai saat ini, cukup satu anak dulu, ya. Nggak perlu manas-manasin dengan bilang “kirain umurnya udah 40, makanya anaknya satu doang!” Hehehehe. Biarlah keputusan soal anak ini menjadi urusan saya, suami, dan hitungan rezeki dari Allah SWT. Karena kalau memang Allah SWT berkehendak, maka IUD yang terpasang di rahim saya ini pun tidak akan menjadi halangan bagi pemilik alam semesta yang maha kuasa untuk menitipkan ruh di tubuh saya.

*Senyum Lebar*

My Kind of Diapers Bag!

Salah satu hal yang pernah masuk dalam list belanjaan persiapan punya anak adalah Diaper Bag alias tas perlengkapan bayi. Tas ini sepertinya dianggap cukup penting, karena hampir semua blogger ibu-ibu menyarankan untuk membeli satu tas khusus saat bayi sudah lahir nanti.

Sebetulnya, sebagai seseorang yang nggak pernah bawa tas lebih dari satu, saya merasa bingung. Saya ini dipanggil “jin kura-kura” pas zaman sekolah, karena selalu membawa ranse besar untuk membawa semua buku pelajaran, baju olah raga, hingga bekal makanan. Saya bukan anak yang menenteng tas bekal atau tas plastik berisi baju olah raga. Lalu setelah tahu kalau brand sekelas Kate Spade aja ngeluarin Diaper Bag, saya makin bingung? Is it essential?

Nah, ketika mengunjungi salah satu pameran perlengkapan ibu dan anak saat masih hamil, saya mengunjungi satu-satunya booth yang menjual tas, dan seketika mundur setelah melihat harganya. Nggak tahu saya yang kuper, apa memang harga tas bayi memang segitu mahalnya. Tapi saya beneran nggak pengin beli tas itu aja. Walau punya uang, mending beli Longchamp Le Pliage Neo x))

Tapi namanya clueless, ya. Tetep aja beli tas yang ceritanya bakal jadi diaper bag, dan cuma dipake 1 bulan, karena nggak tahan ribetnya bawa-bawa tas banyak, haha! Akhirnya saya memutuskan untuk memakai tas yang ada. Karena saya pecinta Hobo/Tote Canvas Bag, jadi sebetulnya urusan tas ini nggak terlalu ribet. Lagian ada inovasi bag-in-bag organizer yang akhirnya jadi penyelamat. It’s a win-win solution for people like me who doesn’t tend to buy that overpriced diapers bag with not so cute prints. 

Jadi sebetulnya apa yang perlu dimasukkan dalam diaper bag ala-ala ini sih? Menurut saya, kebutuhan setiap ibu dan anaknya itu berbeda. Jadi tidak bisa dipukul rata. Ini saya tulis list sesuai kebutuhan Menik yang saat itu terhitung sebagai bayi tanpa botol dot dan heavy wetter alias doyan pipis! x))

Usia 0-6 bulan :

  • 4 popok sekali pakai
  • 1 set clodi
  • 1 kain alas (muslin)
  • 1 pak tissue kering
  • 1 pak tissue basah
  • 2 baju ganti
  • 1 pasang kaos kaki
  • baby cream, minyak telon, baby cologne

Usia 6-24 bulan:

  • 4 popok sekali pakai
  • 1 kain alas (muslin)
  • 1 pak tissue kering
  • 1 pak tissue basah (yang aman untuk lap mulut)
  • 1 set baby utensils (mangkok, sendok)
  • 1 botol air minum
  • 2 baju ganti
  • 1 celemek
  • 1 handuk kecil
  • Minyak telon, baby cologne

Usia 2 tahun dan selanjutnya:

  • 1 pak tissue basah
  • 1 pak tissue kering
  • Sabun kertas, baby cologne, minyak telon
  • 2 set baju ganti
  • 1 botol air minum

:)) Iya, gitu aja. Makanya semua muat di bag organizer tadi, lalu slep aja, masukkin ke tas yang mau saya bawa. Jadi nggak ada cerita saya nenteng dua tas. Karena saya memang nggak suka ribet, dan maunya begini saja. Kira-kira begini, deh, penampakkannya:

lilyjade21.jpg1

Gambar dari sini

Fokus pada bag organizer-nya, ya, buibu! Jangan ke merek Lily&Jade yang memang punya desain diaper bag super cakep! x))

Kenapa tiba-tiba ngomongin tas ini, sih, Saz? Karena sebetulnya sudah lempar di Twitter pas beberapa waktu lalu lagi jalan-jalan lalu lihat ibu-ibu ribet banget sama toddler usia 1 tahunan gitu. Mesti ngangon anak yang yang belajar jalan, dengan tas di kanan-kirinya. Duh, I feel you, bu! Punya anak yang lagaknya udah lancar jalan padahal masih ala drunken master gitu alias oleng dengan potensi jatuh 80%, hehe. Kalo begitu, mendingan bawa bagpack, deh! Serius, invest yourself for Jansport, maybe Fjällräven Kånken or whatever brand you like, pastikan kuat dan tahan air, lalu beli bag organizer ini untuk mengakomodir perlengkapan perang. Semacam Joanna Goddard begini, nih:

best-diaper-bag-backpack-storq-3-680x952

Gitu buibu! hehehehe, jadi gimana? Ada cerita soal pemilihan diaper bag dan bagaimana mengatur isinya kalau harus bawa bayi keluar rumah buat jalan-jalan, belanja kebutuhan kulkas, dan lainnya?

Sebagai ibu tanpa ncus alias asisten dan suami yang hobi nguli event, saya sih mempercayakan ke bag-in-bag organizer dan memilih Sling/Bagpack sebagai penyelamat postur tubuh dan kepraktisan hidup.

Any thoughts? 😉

Positive Birth Movement – Bandung

Well, have you heard abouth this before?

Positive birth movement (PBM) is a global network of free to attend antenatal groups, linked up by social media. They connect pregnant women together to share stories, expertise, and positivity about childbirth. They aim to challenge the epidemic of negativity and fear that surrounds modern birth, and help change birth for the better. (www.positivebirthmovement.org)

If you are pregnant or still trying to conceive, you really have to (at least try) join this group. In PBM, they are not judging. They facilitate to spread the knowledge.

And PBM comes to Bandung, Indonesia, at Simpul Library “PUSTAKALANA“, broad to you by Dini,  a mother, one of Pustakalana volunteer, who tend to believe about positive parenting. To help Indonesian mothers-to-be rise their positive thoughts.

So, Circle Talk #2 : Place of Birth, was the first PBM for me. When I was pregnant in 2011, I don’t know anything about PBM :)) Continue reading