Tentang Baby Led Weaning oleh Ilsa Nelwan

Ilsa Nelwan

Photo by @Djonk_

Pernah dengar kalimat “one thing leads to another” kan? Nah, tulisan di bawah ini merupakan salah satu contohnya. Duluuuuu, saya kenalan sama dokter Ilsa ini di rumah Kristy, teman siaran zaman di Ardan Bdg. Setahun ini ketemu lebih sering dengan beliau karena kantor kami membantu kampanye digital Yayasan JaRI. Awalnya ngobrol santai di Yayasan JaRI sebelum meeting dimulai. Tapi ternyata obrolan ini menghasilkan tulisan serius dari dr. Ilsa Nelwan, seorang pemerhati kesehatan yang  pernah  mengelola  program  perbaikan  gizi, di Jawa Barat, pernah bekerja di WHO Nepal  dan WHO South East Asia Regional Office, dan juga seorang  ibu  dari  dua anak yang sangat menikmati pengalamannya  menjadi  Ibu.

Kaget dan senang adalah reaksi saya sewaktu menerima email berisi artikel lengkap tentang Baby Led Weaning (BLW) beserta referensi artikel-artikel penting yang sayang sekali jika tidak saya bagikan di sini. Senang sekali karena kekhawatiran saya ditanggapi oleh seorang ahli. Sebetulnya, dokter Ilsa sudah mengirimkan artikel ini dari bulan Agustus, hehehe.. tapi saya baru sempat mengunggahnya sekarang. Sambil mengetik ini saya juga merasa bersyukur baru beres dikerjakan hari ini, sehingga ada jeda waktu setelah huru-hara di media Instagram kemarin, ternyata artikel tentang MPASI bayi ini masih tetap relevan. Jadi supaya makin banyak yang membaca untuk menambah pengetahuan tentang BLW, saya akan langsung share di sini, ya. Continue reading

Teruntuk GNSM <3

Sebelum bulan Oktober selesai, ada satu video untuk #Menik6Tahun 🙂 From little baby turns into little girl. Have a blessed years, Menik. Semoga Menik tumbuh menjadi manusia yang bahagia dan selalu bersyukur untuk setiap keadaan. Enjoy your life, dear!

LOVE,

Ayah-Ibu

 

Yup, #Menik6Tahun ;)

Janji yang tertunda dua minggu lamanya. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, yaaa! Hahahahahaa ada aja kerjaan yang datang mendadak, sehingga pas mah ketik di blog harus bergeser ke tab kerjaan.

Anyway, 17 Oktober 2017, jadi hari Menik meninggalkan masa balitanya. Rasanya campur aduk, gitu. Dan sama seperti tahun lalu, hari ulang tahunnya jatuh di weekday, artinya ibu cukup menyiapkan syukuran di sekolah, Alhamdulillah.

Sebelum masuk ke momen kata-kata mutiara buat ulang tahun Menik yang ke -6, saya mau cerita dulu persiapan syukurannya, ya!

Eh, tapi tahun ini benar-benar less preparation, sih. Mikirin bingkisan aja baru dimulai tanggal 1 Oktober, terus akhirnya mikirin tenaga yang harus disimpan untuk pindahan, jadi nggak mungkin bikin sendiri kayak tahun lalu. Akhirnya pesan Puzzle Kardus Body Part ke #Kakardusan @im_enie dan gantungan tas dari kayu ke @g_worksbdg milik Ito. Both are using recycle material.

Gantungan tas ini bisa dihias sendiri sama anak-anak, ada cat akrilik dan kuas yang sudah saya masukkan ke tasnya. Thank you Enie dan Ito, yang mau terima pesenan dadakan.

Nah, buat makanannya, karena nggak punya waktu banyak, jadi saya memutuskan untuk membuat Tuna Spaghetti, Banana Custard Pudding, dan Purplish Juice (isinya buah naga sama yoghurt strawberry). Semuanya makanan kesukaan Menik, hehehe, biar ibu juga nggak pusing mikirin resep dan lainnya.

Yaaa, I know, fotonya kurang oke buat dipajang, hahaha tangan kotor nggak bisa sering-sering pegang HP dan cari angle bagus. Kalau wadah jus dan custard puding beli di Cibadak, di mana lagi kalau bukan di Toko Laksana Mailaf! Setelah siap, semuanya masuk di kantung plastik ini :

Tas kelinci ini nggak sengaja ketemunya! Hahaha jadi sebetulnya, udah beli box polkadot di Cibadak. Pas mampir ke Baltos, Eycan malah lihat tas ini. Pas dilihat-lihat, kayaknya cukup buat tiga makanan yang mau dimasukkin, cuss deh! Harganya pun murah, jadi ya udahlahyaaaa hahaha. Box bisa disimpen, begitu pembenarannya :p

Tart coklat dan cupcake beli di Kartika Sari, ibu udah nggak sanggup bikin kue sendiri, lah. Encok, shaaayy! Terpenting, muka anaknya yang sumringah pas lihat saya dan Rino sampai ke sekolah membawa dua keranjang isi bingkisan dan kotak kuenya.

Masih sama seperti kebiasaan di sekolah Menik. Tidak ada acara makan di kelas, jadi nggak repot siapin piring dan lainnya. Berdoa, bernyanyi, kemudian bagi-bagi bingkisan tanda syukur dan terima kasih untuk semua dan doa serta kasih sayang dari bu guru dan teman sekelasnya.

Terima kasih, ya, semuanyaaaaaa! Menik terlihat bahagia sekali hari itu. Senang ketika nyanyi, tiup lilin, dan terima kado tentunya. To see their happy face was my own goal. :’)

Happy ya, lihatnya. Menik juga katanya senang sekali.

Menik sekarang sudah 6 tahun, ibu dan ayah minta maaf jika dalam perjalanan hidupmu ada hal-hal yang kurang menyenangkan. Ibu dan Ayah selalu mengusahakan yang terbaik untuk Menik. Semoga Menik bisa hidup bahagia, bisa menikmati hidup, bisa memaklumi hal-hal sedih dan terkadang menyakitkan hati yang tidak bisa dihindari, dan bisa terus bersyukur untuk semua yang terjadi dalam hidup ini. Doa untuk Menik selalu dan akan selalu mengalir dan hembusan nafas kami.

Selamat ulang tahun, GNSM!

*photos : @djonk_

Ketika Ada Di Saat Yang Tepat

Maybe you’ve heard and read my story which went viral. Or not. It doesn’t a big deal anyway. But I have to share my gratitude here. To be there in the right place at the right time.

Semua berawal dari hati yang terusik ketika mendengar rintihan minta tolong di pinggiran jalan Dago. Adik saya ngerem, sayapun bilang “yuk, lihat aja dulu…” yang berakhir dengan viralnya cerita yang saya unggah di FB. Lengkapnya bisa lihat di sini, ya!

Kenapa mesti diunggah, sih, ceritanya? Karena saya tahu, saya punya Walikota yang peduli dengan aduan rakyatnya. Saya cuma mau ngadu, kalau kondisi trotoar di Dago itu baru saja memakan korban. Dan korbannya adalah turis mancanegara yang memang ingin berlibur di Indonesia, salah satu kota yang dikunjungi adalah Bandung.

Dan alhamdulillah, seperti yang saya harapkan, Kang Emil melalui Twitter, membalas via DM ke akun saya. Beliau mengucapkan terima kasih dan akan mengurus semuanya. Lalu Kang Emil juga memberikan komentar di FB saya, serta menjelaskan ke warganet yang ‘heboh’ komentar di postingan saya tersebut.

IT WAS AN OVERWHELMING MOMENT.

Tapi dari situ, saya tahu, saya punya harapan untuk kota tempat tinggal saya ini. Saya tahu ternyata Walikota Bandung bisa diandalkan. Doa saya masih sama, semoga Kang Emil yang dengan cepat menanggapi aduan, menegur keras pihak yang bersangkutan, diikuti dengan perbaikan trotoar keesokkan harinya, dan berkunjung menjenguk Marion dan Herman, selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kesabaran dalam melayani, ya Kang!

Moving on, akhirnya Marion menjalani operasi tulang kakinya dan diperbolehkan pulang pada hari Sabtu. Rencananya, Marion dan Herman akan naik ambulans menuju Jakarta pada siang hari dan langsung naik pesawat pada pukul 20.45 menuju Amsterdam.

Sabtu siang, sebelum mereka pulang, saya menyempatkan diri mampir ke RS Borromeus. Menik sudah ribut setiap hari, ingin bertemu dengan Marion dan Herman katanya.

Menik was beyond happy to met them. Either with Marion and Herman who are expecting their first grandchild in the next few month. Sebelum berpisah hari itu, Marion dan Herman memberikan sebuah kartu. Tanda terima kasih katanya.

Sebuah tanda yang terasa tulus. Dan karena saya tipe orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi pasti ada alasannya, saya yakin banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari kejadian selama seminggu itu.

Saat ini Marion dan Herman sudah kembali ke rumahnya di Belanda. Marion masih menjalani perawatan dan fisioterapi untuk memastikan ia bisa berjalan lagi tanpa alat bantu.

Semoga rencana tahun depan untuk kembali berkunjung ke Bandung, Indonesia, bisa terwujud, ya.

Buat semua yang memberikan doa baik di kotak komentar Facebook, yang mention saya di Twitter dan IG, terima kasih banyak. Doa yang sama untuk kalian semua. Semoga kita bisa mengamalkan sifat-sifat Allah SWT, semoga selalu jadi manusia yang pengasih dan penyayang. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Main Ke Chinatown Bandung

Belakangan ini Bandung seperti mendapatkan polesan kecantikan. Semacam dilahirkan kembali dan dipakein baju baru. Walau kadang lupa dicuci bajunya, dan lupa dicuci mukanya supaya tetap bersih, tapi usaha mempercantik dan memperkaya ruang terbuka di kota ini patut diperhitungkan.

Salah satu tempat main baru ada di daerah Pecinan, tepatnya di jalan Kelenteng No 41, namanya CHINATOWN.

Beberapa waktu lalu, kami sempat mampir ke Chinatown, dan Menik tentunya sungguh bahagia. Anak saya ini suka sekali play-pretend dan suka sesuatu yang tematik.

Jadi ketika masuk gerbangnya, Menik terlihat sumringah. Untuk masuk ke Chinatown, harus bayar tiket masuk. Senin-Kamis, Rp10.000,- dan Jumat-Minggu Rp20.000,-, tidak mahal demi kebersihan dan perawatan si Chinatown ini sendiri. Nah, nggak perlu bawa uang tunai, karena semua transaksi di dalam harus menggunakan Flazz atau Debit BCA atau Kartu Kredit (tapi saya kurang jelas untuk CC ini, apa harus BCA atau bisa dari bank lain).

Ketika masuk, kita akan ketemu sebuah ruangan berisi sejarah China di Bandung. Menik suka sekali melihat gambar di dindingnya yang memang sangat menarik. Penjelasannya juga cukup simpel. Keluar dari ruang sejarah, ada banyak tenant-tenant makanan khas kota Bandung dan beberapa tenant souvenir yang bakalan bikin kita gampang gesek debit, hahaha.. Awas kalap! Saran saya, pisahkan budget main di Chinatown di Flazz. Jadi nggak akan kebablasan, kayak sayaaaa :p

Nah, satu hal yang paling menarik perhatian Menik adalah tenant sewa baju kerajaan China. Waaahh, ini sih semacam lebaran aja. Untuk anak-anak biaya sewanya Rp.50.000,- dan orang dewasa Rp150.000,- boleh dipakai sepuasnya. Ada official photographer yang akan membantu foto dan nanti boleh dipilih yang mana yang mau dicetak dengan biaya tambahan.

Kalau soal makanan nggak usah takut, ada BANYAK banget pilihannya dan enak-enak semua. Dari mulai Mie Kocok H. Saad sampe Bubur Manis Cafe Bali ada di situ. Ada playground (Rp30.000,-/jam) dan tersedia musholl serta toilet yang bersih (ini harus dijga bersama ya. Buang sampah tissue pada tempatnya, jangan lupa diflush setelah berkegiatan di dalam kamar mandi, haha)

Chinatown yang baru diresmikan tanggal 28 Agustus kemarin ini menjadi salah satu tempat wisata yang bisa diperhitungkan. Paling yang perlu diperhatikan adalah panas terik kota Bandung di daerah Kelenteng ini. Jangan lupa minum air putih yang cukup, bawa kacamata hitam dan topi, ya.

Selamat main di Chinatown, Bandung, ya!

Don’t Gamble Your Child’s Life For Likes

Tanggal 4 April lalu, geng digital saya sempat mengunggah gambar ini di Twitter. Untuk mengingatkan bahwa hidup ini nyata, jangan dipertaruhkan demi seonggok Likes dan feed di akun sosial media.

Kemarin, saya jengah lagi. Tapi supaya geng julid nggak salah paham, saya tulis dulu, ya, kalau saya tidak menentang BLW atau Baby Led Weaning, salah satu metoda pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI). Perlu nggak, sih, saya ceritakan soal MPASI Menik? Hmmm.. saya mengambil metoda konvensional, mengikuti rekomendasi WHO. Gitu aja. Jadi cerita MPASI saya nggak seru :))

Tapi ingat, ya, saya tidak membicarakan metoda pemberian makanan pendamping pada bayi usia 6-12 bulan. Kenapa? Karena saya bukan ahlinya. Tanyakan pada Dokter Spesialis Anak aja ya.

Saya akan menulis sedikit bagaimana pengaruh postingan para artis terhadap hidup para fans yang mengikuti sosial medianya.

Eh, sebelumnya coba cek foto ini:

Ini saya ambil dari video tentang black market cosmetic. Lengkapnya bisa cek ke sini ya. Singkatnya, di video ini diperlihatkan, bagaimana si penjual kosmetik palsu menjelaskan tingginya angka pembelian di tokonya. Kok bisa? Ya karena nggak semua orang mampu beli lipstick seharga 500ribu. TAPI demi pake lipstick yang TERLIHAT sama, jadi beli yang uslap.

Now back to my concern. Melihat foto dan video perkembangan anak artis pasti terpukau ya. “Hidup tanpa keterbatasan, semua bisa dijalani tanpa beban”. Gitu nggak kesannya? Padahal, ya, mungkin aja sebelum foto diunggah, ada drama di baliknya 👻 we never know, right?

Terus kenapa, sih, diurusin banget? Soalnya BANYAK (CALON) IBU-IBU yang mengidolakan hidup artis yang diintip via jendela sosial medianya.

Postingan ini hanya untuk mengingatkan, bahwa kita hidup di dunia nyata. Bahwa anak-anak bayi ini punya nyawa. Bahwa ketika akan mengambil keputusan, ambilah karena kita sudah melakukan riset, membaca literatur, bertanya pada ahlinya. Hauslah terhadap hal baru sebelum diaplikasikan pada hidup manusia kecil yang sedang belajar untuk bertahan.

Inginnya, selain mengunggah indahnya hidup, berikan ilmunya. Berikan peringatannya. Ikuti rekomendasi organisasi dunia. Ingatkan kepada para fans bahwa untuk melakukan hal ini ada syarat A-Z yang harus dipenuhi. Perlihatkan buku bacaan Anda. Kenalkan dokter tempat Anda berkonsultasi. Beritakan dengan jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan jika ada kursus/kelas yang harus diikuti demi mendapatkan ilmu baru sebelum diaplikasikan ke anak bayi. Jangan lupa juga ingatkan faktor pendukung seperti kebersihan, kesabaran, keimanan, dan lainnya. Ini semua menjadi penting ketika feed IG dijadikan panutan banyak orang.

Semoga para artis yang terlihat pintar ini bisa juga mencari literatur tentang karakter bangsa kita. Orang Indonesia ini dasarnya mudah menerima dan mudah berubah. Masyarakat kita hidup dan besar dari tradisi lisan, tradisi “katanya” 🙂 jadi kebayang kan kalo terjadi sesuatu kemudian argumennya hanya dengan “ya katanya si A ini baik buat bayi, kok!” (Terima kasih Mirah yang udah berbagi pengetahuan dari Sensei di Lab Antropologi nun jauh di Jepang sana).

Pemerintah sedang sibuk menurunkan angka kematian bayi saat lahir karena ibu tidak mendapat bantuan tenaga dan alat medis saat dibutuhkan. Pemerintah juga sibuk menurunkan angka bayi yang ususnya perlu dioperasi karena MPASI dini. Pemerintah masih sibuk mengedukasi bahwa vaksin aman dan dibutuhkan. Janganlah kita menjadi batu sandungan, saat sistem sedang berjalan.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Ribuan LIKES yang ada, foto yang menggemaskan, video yang seru dan menggelikan, bukan serta merta menjadi lampu hijau untuk langsung ditelan mentah-mentah dan diaplikasikan tanpa riset terlebih dahulu.

Don’t gamble your child’s life for IG Likes. Those thousand Likes on celebrities profile don’t mean it is also good for your child. I won’t say any words for those influencer. It’s their life, so let them. Let us live our own live too.

Adab Bertetangga

Tengah malam sekitar tahun 87-88, dan saya masih kecil, sekeluarga masih tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, Bapak adalah pak RT dan satu-satunya yang punya mobil di perumahan tersebut. Pintu rumah diketuk, terdengar suara panik tetangga dan bilang "Pak Ghazi, boleh pinjam mobil? Anak saya demam tinggi mau saya bawa ke rumah sakit!" Dengan sigap, Bapak mengambil kunci dan mengantar tetangga kami. Beliau bahkan menunggu di RS hingga urusan beres.

Lain hari, Bapak sibuk memasukkan mobil dan sepeda ke garasi. Memastikan halaman depan kosong.
"Ngapain, Pak?"
"Itu, Pak Tobing mau ada arisan. Ramai pasti butuh parkir, biar tamunya nggak susah, biar pada parkir di depan rumah aja…"

Dan masih banyak lagi cerita bagaimana Bapak mengajari saya hidup bertetangga. Bahwa tetangga ini adalah keluarga. Bahwa kita tidak boleh sombong dan pelit. Bahwa membuka pintu rumah untuk para tetangga adalah hal baik dan insya Allah menjadi pembuka pintu rezeki.

Jadi terus terang saja, saya suka gemas kalau membaca tulisan "dilarang parkir" di halaman depan rumah lalu diberi tanda panah kanan-kiri, kesannya pelit sekali. Padahal bagian depan rumahnya tidak dipakai dan jika ada yg parkir tidak akan mengganggu jalan.

Prinsipnya, meminjamkan space untuk orang lain parkir adalah hal yang biasa untuk saya. Yang penting, jika mobil si peminjam menghalangi jalan keluar, maka baiknya dia selalu siap jika mobil kami akan keluar. Atau sekalian aja ditawarin tukeran, mobil tamu masuk garasi, mobil kami di luar jika memang sudah ingin pergi.

Maka ketika hari ini ada teman saya yang mau ke restoran di sebelah rumah dan tidak dapat parkir, saya dengan mudah mengucap "parkir di halaman rumah aja!" Dan tentunya sigap membantu mereka supaya bisa parkir dan tidak mengganggu penghuni lain. For the sake of God, salah satu pemilik rumah yang garasinya berjejeran, keluar dan bilang "parkirnya di atas aja deh, nanti kalo saya mau keluar ribet manggilnya!"

*rolling eyes thousands times*

Pertama, mobil si mbaknya ini adalab mobil kecil yang sungguh muat jika BISA menghitung dengan tepat. Kedua, kalo males ngitung, bisa kali cukup bertanya "maaf, tamu rumah mana? Jadi nanti kalau saya mau keluar, bisa manggil." Karena kesal, saya lekas mengajak teman saya untuk pindah parkir ke atas. Niatnya baik, malah jadi kesal hati. Dan hingga teman saya pulang, si empunya mobil ini belum juga pergi, kok. Ya apa, kaaann?

Gimana kalau saya ceritain bahwa anaknya udah make sepeda Menik tanpa izin, ngintip rumah orang, dan nyobain semua sepatu yang saya simpan di teras depan, ya? MALU NGGAK, SIH?

*jadi kesal*

People these days really need to learn again about politeness and etiquette. Show some respect or you won't get any. And trust me, you do need a good relationship with your neighbors. If you aren't in good shape with people around you, why would you live anyway?