Ketika Ada Di Saat Yang Tepat

Maybe you’ve heard and read my story which went viral. Or not. It doesn’t a big deal anyway. But I have to share my gratitude here. To be there in the right place at the right time.

Semua berawal dari hati yang terusik ketika mendengar rintihan minta tolong di pinggiran jalan Dago. Adik saya ngerem, sayapun bilang “yuk, lihat aja dulu…” yang berakhir dengan viralnya cerita yang saya unggah di FB. Lengkapnya bisa lihat di sini, ya!

Kenapa mesti diunggah, sih, ceritanya? Karena saya tahu, saya punya Walikota yang peduli dengan aduan rakyatnya. Saya cuma mau ngadu, kalau kondisi trotoar di Dago itu baru saja memakan korban. Dan korbannya adalah turis mancanegara yang memang ingin berlibur di Indonesia, salah satu kota yang dikunjungi adalah Bandung.

Dan alhamdulillah, seperti yang saya harapkan, Kang Emil melalui Twitter, membalas via DM ke akun saya. Beliau mengucapkan terima kasih dan akan mengurus semuanya. Lalu Kang Emil juga memberikan komentar di FB saya, serta menjelaskan ke warganet yang ‘heboh’ komentar di postingan saya tersebut.

IT WAS AN OVERWHELMING MOMENT.

Tapi dari situ, saya tahu, saya punya harapan untuk kota tempat tinggal saya ini. Saya tahu ternyata Walikota Bandung bisa diandalkan. Doa saya masih sama, semoga Kang Emil yang dengan cepat menanggapi aduan, menegur keras pihak yang bersangkutan, diikuti dengan perbaikan trotoar keesokkan harinya, dan berkunjung menjenguk Marion dan Herman, selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kesabaran dalam melayani, ya Kang!

Moving on, akhirnya Marion menjalani operasi tulang kakinya dan diperbolehkan pulang pada hari Sabtu. Rencananya, Marion dan Herman akan naik ambulans menuju Jakarta pada siang hari dan langsung naik pesawat pada pukul 20.45 menuju Amsterdam.

Sabtu siang, sebelum mereka pulang, saya menyempatkan diri mampir ke RS Borromeus. Menik sudah ribut setiap hari, ingin bertemu dengan Marion dan Herman katanya.

Menik was beyond happy to met them. Either with Marion and Herman who are expecting their first grandchild in the next few month. Sebelum berpisah hari itu, Marion dan Herman memberikan sebuah kartu. Tanda terima kasih katanya.

Sebuah tanda yang terasa tulus. Dan karena saya tipe orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi pasti ada alasannya, saya yakin banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari kejadian selama seminggu itu.

Saat ini Marion dan Herman sudah kembali ke rumahnya di Belanda. Marion masih menjalani perawatan dan fisioterapi untuk memastikan ia bisa berjalan lagi tanpa alat bantu.

Semoga rencana tahun depan untuk kembali berkunjung ke Bandung, Indonesia, bisa terwujud, ya.

Buat semua yang memberikan doa baik di kotak komentar Facebook, yang mention saya di Twitter dan IG, terima kasih banyak. Doa yang sama untuk kalian semua. Semoga kita bisa mengamalkan sifat-sifat Allah SWT, semoga selalu jadi manusia yang pengasih dan penyayang. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Advertisements

One thought on “Ketika Ada Di Saat Yang Tepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s