Adab Bertetangga

Tengah malam sekitar tahun 87-88, dan saya masih kecil, sekeluarga masih tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, Bapak adalah pak RT dan satu-satunya yang punya mobil di perumahan tersebut. Pintu rumah diketuk, terdengar suara panik tetangga dan bilang "Pak Ghazi, boleh pinjam mobil? Anak saya demam tinggi mau saya bawa ke rumah sakit!" Dengan sigap, Bapak mengambil kunci dan mengantar tetangga kami. Beliau bahkan menunggu di RS hingga urusan beres.

Lain hari, Bapak sibuk memasukkan mobil dan sepeda ke garasi. Memastikan halaman depan kosong.
"Ngapain, Pak?"
"Itu, Pak Tobing mau ada arisan. Ramai pasti butuh parkir, biar tamunya nggak susah, biar pada parkir di depan rumah aja…"

Dan masih banyak lagi cerita bagaimana Bapak mengajari saya hidup bertetangga. Bahwa tetangga ini adalah keluarga. Bahwa kita tidak boleh sombong dan pelit. Bahwa membuka pintu rumah untuk para tetangga adalah hal baik dan insya Allah menjadi pembuka pintu rezeki.

Jadi terus terang saja, saya suka gemas kalau membaca tulisan "dilarang parkir" di halaman depan rumah lalu diberi tanda panah kanan-kiri, kesannya pelit sekali. Padahal bagian depan rumahnya tidak dipakai dan jika ada yg parkir tidak akan mengganggu jalan.

Prinsipnya, meminjamkan space untuk orang lain parkir adalah hal yang biasa untuk saya. Yang penting, jika mobil si peminjam menghalangi jalan keluar, maka baiknya dia selalu siap jika mobil kami akan keluar. Atau sekalian aja ditawarin tukeran, mobil tamu masuk garasi, mobil kami di luar jika memang sudah ingin pergi.

Maka ketika hari ini ada teman saya yang mau ke restoran di sebelah rumah dan tidak dapat parkir, saya dengan mudah mengucap "parkir di halaman rumah aja!" Dan tentunya sigap membantu mereka supaya bisa parkir dan tidak mengganggu penghuni lain. For the sake of God, salah satu pemilik rumah yang garasinya berjejeran, keluar dan bilang "parkirnya di atas aja deh, nanti kalo saya mau keluar ribet manggilnya!"

*rolling eyes thousands times*

Pertama, mobil si mbaknya ini adalab mobil kecil yang sungguh muat jika BISA menghitung dengan tepat. Kedua, kalo males ngitung, bisa kali cukup bertanya "maaf, tamu rumah mana? Jadi nanti kalau saya mau keluar, bisa manggil." Karena kesal, saya lekas mengajak teman saya untuk pindah parkir ke atas. Niatnya baik, malah jadi kesal hati. Dan hingga teman saya pulang, si empunya mobil ini belum juga pergi, kok. Ya apa, kaaann?

Gimana kalau saya ceritain bahwa anaknya udah make sepeda Menik tanpa izin, ngintip rumah orang, dan nyobain semua sepatu yang saya simpan di teras depan, ya? MALU NGGAK, SIH?

*jadi kesal*

People these days really need to learn again about politeness and etiquette. Show some respect or you won't get any. And trust me, you do need a good relationship with your neighbors. If you aren't in good shape with people around you, why would you live anyway?

Advertisements

4 thoughts on “Adab Bertetangga

  1. Kemarin, 2 hari berturut turut, tetangga sebelahku bakar bakar sampahnya di area halaman rumahku. Gondok bgt rasanya. Kalau dia lagi makan sesuatu gitu, seenaknya pula buang sampah di halamanku. Ini mentang2 beliau lebih tua dan aku paling muda di sana. Mau marah itu ya gimana. Huhuhu

  2. Apalgi kalau di desa adab bertetangga nya kebuh kental. Misal ada satu tetangga yng punya acara (hajat) pasti yg lain bondong2 bntu. Baik sama tetangga bakalnya juga kembli kepada kira kan yaa. Salam kenal dari Blitar, vera 😊 follback yaaa

  3. duh sazzz… gemay deh baca postingannya
    kalo gue palingan masalah soal parkir-memarkir sih, karena beliau suka parkirnya offside ke depan pintu gue (motor + mobil), jadinya mobil gue susah masuknya alias butuh effort sekitar setengah jam untuk parkir paralel karena space parkir rumah gue terbatas. secara sebelah rumah gue adalah tembok hahahaha. ada lagi yang tamunya tetangga siapa, markir depan rumah nutupin pintu keluar dong jadi susah keluar juga guenya hahahaha. duh adab bertetangga ini terkadang bikin ngelus dadanya bradley cooper *eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s