Beauty And The Beast 🌹

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini dirilis adalah live action version dari the very famous Disney’s tale: Beauty & The Beast. Saking semangatnya, tahun lalu ketika trailernya muncul, saya sudah berencana untuk mengajak Menik nonton film ini di bioskop. Saya tumbuh bersama Disney’s Princess, not that I want to be the one and I know exactly that their life was not real, tapi buat saya, menikmati film putri-putri-an dari Disney World ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.

Ketika beranjak dewasa, saya baru tahu, ada banyak sentimen negatif tentang cerita princess ini. Dari mulai mengajarkan perempuan untuk mencari prince charming demi kehidupan yang lebih baik, self body esteem, hingga isu pernikahan di bawah umur. Dan ketika sudah punya anak perempuan sekarang, saya jadi lebih banyak lagi mendapat informasi. Well, lebih tepatnya, semakin banyak orang yang mengkritisi film yang banyak ditonton oleh anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Artikelnya bagaimana sih, Ki? Ada banyak, kok.. kayak yang ini, ini, atau ini. Atau coba googling ‘negative side of Disney’s Princess”.

To be honest, karena saya suka sekali dengan cerita-cerita fantasi Disney, ada bagian dari diri saya yang menolak setuju dengan artikel-artikel yang mengupas lebih dalam mengenaik hal ini. I mean, just look at me. Do I look like someone who wait for his prince charming and get rescued? Of course not, I have a dream for my own life and it is not built by Disney. Ada kalimat yang selalu teringat setiap kali kami berdiskusi setelah nonton, baca buku atau majalah. Biasanya bapak atau ibu akan menjelaskan dan mengakhiri dengan “namanya juga film, kak!” atau “Itu kan foto di majalah, banyak prosesnya.” Jadi akhirnya yang tertanam dalam diri saya adalah itu semua hanyalah cerita khayalan. Ada banyak hal semu di dunia, tapi tidak dengan hidup kita. We must live our own life, so let’s try to do our best.

(panjang, ya, preambule-nyaaa hahahah)

download - Copy

Anyway, ketika akhirnya film Beauty and The Beast rilis, saya mendapatkan banyak informasi yang tidak enak mengenai film ini. Pertama tentunya kalimat dalam Press Release yang menyatakan kalau ini adaah film pertama dengan tokoh gay di dalamnya. Berikut banyak banget review setelah premiere yang bilang “banyak banget gay momentnya!”. Kedua ,konsentrasinya ada pada isu bestiality dan stockholm syndrome. Pas dengar ceita ini, saya rasanya mau bilang “DUH, GILAAA… DO NOT RUINED MY CHILDHOOD!!” ahahahahaa.. tapi karena saya punya tanggung jawab sekarang, yaitu anak perempuan kecil yang sangat suka berkhayal jadi Princess, maka saya mundur sedikit. Tadinya sudah mau nekat bawa karena di luar negeri ratenya adalah PG alias Parental Guide, tapi di Indonesia jadi 13+ alias untuk remaja. Belum lagi cerita beberapa negara yang melarang film ini tayang, atau memotong banyak bagian yang dianggap tidak pantas ditonton anak-anak.

Rasa percaya diri “ah, nggak apa-apa kali bawa Menik nonton!” berubah jadi “haduh, ini gimana ya, baiknya?”. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami memutuskan untuk screening film ini duluan baru diputuskan apakah Menik boleh nonton atau tidak. Mbak Menik tentu kecewa. Secara setiap hari, anak ini bertanya “hari ini tanggal berapa? Berapa hari lagi ke tanggal 17?”.

Saya nonton premierenya bersama teman baik saya, Bundi. Keluar dari bioskop setelah menyaksikan tayangan selama 129 menit, kami merasa bahagia. HAHAHAHHAA.. ya ampun, filmnya indah banget. Emma Watson, Dan Steven, Luke Evans, Josh Gad, Emma Thompson, Ian McKellen, Kevin Kline, Ewan McGregor, Stanley Tucci, dan Audra McDonald, sih, KEREN BANGET MAINNYAAAAA.. AAKKKK!! Ewan McGregor apalagi. I LAFF LUMIERE! hahahaha..

null

The CGI was good, walau saya masih merasa ada beberapa gerakan dan editan yang kurang halus, tapi nggak apa-apa. Lagu-lagunya? Oh my god, Allan Menken is the best kalo urusan lagu Disney. Kostum? Ya apalagi kalo bukan BAGUS BANGET! Walau desain the yellow dress is a bit different, tapi tetep aja, bagus pas dipakai dansa. Baju putih yang dipakai dansa di ending scene juga bagus, kak! lope-lope pokoknyaahhh.. :))

Nah, saya sengaja nggak langsung nulis review malam setelah nonton malam itu. Saya coba cerna dulu semalaman. Besoknya, saya memutuskan untuk menceritakan sedikit adegan yang menurut saya bisa mengganggu Menik. Dan kalau Menik masih mau nonton, ya hayuk.

Apa tuh adegan yang mengganggu? Buat saya, adegan kekerasan yang tervisualisasi dengan nyata ini lebih mengganggu ketimbang isu gay moment yang hangat diperbincangkan sejak film ini keluar. Sisanya nggak ada yang mengganggu. Malahan, karena ada beberapa perbaikan jalan cerita, saya jadi makin cinta sama Belle. Pesan yang disampaikan film ini juga bagus. “Set free the love and don’t sacrifice yourself”.

Highlight tentu ada pada Beast yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya akhirnya bisa merasakan cinta dan belajar untuk melepaskan hal yang paling dicintainya. Maurice juga belajar untuk melepaskan Belle dan percaya kalau Belle bisa menghadapai masalah yang ada di depannya. Maurice juga tidak serta merta berjanji pada Gaston untuk memberikan Belle kalau Gaston bisa menolongnya, dan Belle tidak menyerahkan dirinya pada Gaston demi menyelamatkan Beast yang ia sayangi.

giphy1

That’s sweet, right?

Sebagai orang tua, pasti kita sering merasakan hal yang sama dengan Maurice. Ingin melindungi dan menjaga si anak dengan kedua tangan kita. Padahal kata Kahlil Gibran “anakmu bukan anakmu” :)) Sebagai orang yang mencintai pasangannya, kadang kita berpikir untuk mengorbankan segalanya. Padahal belum tentu itu menjadi jalan keluar terbaik. We have to use our brain and heart equally! 😉

Jadi menurut pendapat saya, film ini sebetulnya bisa ditonton anak-anak di bawah 13 tahun. Tapi pastikan dalam dampingan orang tua. Saya sendiri memilih untuk cuek sama karakter LeFou. Saya akan jelaskan kalau Menik bertanya. Tapi sampai beres filmnya, nggak ada pertanyaan, sih. Menik malah lebih konsen sama Gaston nginjek-nginjek kubis, dan si lemari alias Madame Garderobe.

Ini pendapat Menik soal Beauty and The Beast:

Jadi bagaimana, Ki? Apakah anak-anak boleh nonton atau enggak? Ya, dikembalikan ke kepercayaan dan keyakinan masing-masing saja. Kalau mau enak, jangan bergantung sama pendapat saya ini. Tapi nonton sendiri aja tanpa anaknya duluan, baru abis gitu putuskan.

giphy2

 

Selamat berakhir pekan, semuanya! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Beauty And The Beast 🌹

  1. Me, too. I grew up with snow white dan sdikit denial thd efek buruk film disney hahahaha tp ya krna itulah, I haven’t been trying to live her life, I just love fairy tales! 😁 sejauh ini belom nonton belle sih, belom sempet tp kalo liat MV ost nya suka berbungabunga😍
    Prinsipku sih dampingi anak selalu nonton ato baca apapun utk menghindari mispersepsi dari dia.

  2. yah jadi makin kepo deh 😆 kata yang uda nonton pun sebenernya tipis banget adegan yang menunjukkan dia Gay sih, tapi yah berhubung anak kecil baiknya didampingi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s