Don’t Gamble Your Child’s Life For Likes

Tanggal 4 April lalu, geng digital saya sempat mengunggah gambar ini di Twitter. Untuk mengingatkan bahwa hidup ini nyata, jangan dipertaruhkan demi seonggok Likes dan feed di akun sosial media.

Kemarin, saya jengah lagi. Tapi supaya geng julid nggak salah paham, saya tulis dulu, ya, kalau saya tidak menentang BLW atau Baby Led Weaning, salah satu metoda pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI). Perlu nggak, sih, saya ceritakan soal MPASI Menik? Hmmm.. saya mengambil metoda konvensional, mengikuti rekomendasi WHO. Gitu aja. Jadi cerita MPASI saya nggak seru :))

Tapi ingat, ya, saya tidak membicarakan metoda pemberian makanan pendamping pada bayi usia 6-12 bulan. Kenapa? Karena saya bukan ahlinya. Tanyakan pada Dokter Spesialis Anak aja ya.

Saya akan menulis sedikit bagaimana pengaruh postingan para artis terhadap hidup para fans yang mengikuti sosial medianya.

Eh, sebelumnya coba cek foto ini:

Ini saya ambil dari video tentang black market cosmetic. Lengkapnya bisa cek ke sini ya. Singkatnya, di video ini diperlihatkan, bagaimana si penjual kosmetik palsu menjelaskan tingginya angka pembelian di tokonya. Kok bisa? Ya karena nggak semua orang mampu beli lipstick seharga 500ribu. TAPI demi pake lipstick yang TERLIHAT sama, jadi beli yang uslap.

Now back to my concern. Melihat foto dan video perkembangan anak artis pasti terpukau ya. “Hidup tanpa keterbatasan, semua bisa dijalani tanpa beban”. Gitu nggak kesannya? Padahal, ya, mungkin aja sebelum foto diunggah, ada drama di baliknya πŸ‘» we never know, right?

Terus kenapa, sih, diurusin banget? Soalnya BANYAK (CALON) IBU-IBU yang mengidolakan hidup artis yang diintip via jendela sosial medianya.

Postingan ini hanya untuk mengingatkan, bahwa kita hidup di dunia nyata. Bahwa anak-anak bayi ini punya nyawa. Bahwa ketika akan mengambil keputusan, ambilah karena kita sudah melakukan riset, membaca literatur, bertanya pada ahlinya. Hauslah terhadap hal baru sebelum diaplikasikan pada hidup manusia kecil yang sedang belajar untuk bertahan.

Inginnya, selain mengunggah indahnya hidup, berikan ilmunya. Berikan peringatannya. Ikuti rekomendasi organisasi dunia. Ingatkan kepada para fans bahwa untuk melakukan hal ini ada syarat A-Z yang harus dipenuhi. Perlihatkan buku bacaan Anda. Kenalkan dokter tempat Anda berkonsultasi. Beritakan dengan jelas berapa biaya yang harus dikeluarkan jika ada kursus/kelas yang harus diikuti demi mendapatkan ilmu baru sebelum diaplikasikan ke anak bayi. Jangan lupa juga ingatkan faktor pendukung seperti kebersihan, kesabaran, keimanan, dan lainnya. Ini semua menjadi penting ketika feed IG dijadikan panutan banyak orang.

Semoga para artis yang terlihat pintar ini bisa juga mencari literatur tentang karakter bangsa kita. Orang Indonesia ini dasarnya mudah menerima dan mudah berubah. Masyarakat kita hidup dan besar dari tradisi lisan, tradisi “katanya” πŸ™‚ jadi kebayang kan kalo terjadi sesuatu kemudian argumennya hanya dengan “ya katanya si A ini baik buat bayi, kok!” (Terima kasih Mirah yang udah berbagi pengetahuan dari Sensei di Lab Antropologi nun jauh di Jepang sana).

Pemerintah sedang sibuk menurunkan angka kematian bayi saat lahir karena ibu tidak mendapat bantuan tenaga dan alat medis saat dibutuhkan. Pemerintah juga sibuk menurunkan angka bayi yang ususnya perlu dioperasi karena MPASI dini. Pemerintah masih sibuk mengedukasi bahwa vaksin aman dan dibutuhkan. Janganlah kita menjadi batu sandungan, saat sistem sedang berjalan.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Ribuan LIKES yang ada, foto yang menggemaskan, video yang seru dan menggelikan, bukan serta merta menjadi lampu hijau untuk langsung ditelan mentah-mentah dan diaplikasikan tanpa riset terlebih dahulu.

Don’t gamble your child’s life for IG Likes. Those thousand Likes on celebrities profile don’t mean it is also good for your child. I won’t say any words for those influencer. It’s their life, so let them. Let us live our own live too.

Advertisements

Adab Bertetangga

Tengah malam sekitar tahun 87-88, dan saya masih kecil, sekeluarga masih tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, Bapak adalah pak RT dan satu-satunya yang punya mobil di perumahan tersebut. Pintu rumah diketuk, terdengar suara panik tetangga dan bilang "Pak Ghazi, boleh pinjam mobil? Anak saya demam tinggi mau saya bawa ke rumah sakit!" Dengan sigap, Bapak mengambil kunci dan mengantar tetangga kami. Beliau bahkan menunggu di RS hingga urusan beres.

Lain hari, Bapak sibuk memasukkan mobil dan sepeda ke garasi. Memastikan halaman depan kosong.
"Ngapain, Pak?"
"Itu, Pak Tobing mau ada arisan. Ramai pasti butuh parkir, biar tamunya nggak susah, biar pada parkir di depan rumah aja…"

Dan masih banyak lagi cerita bagaimana Bapak mengajari saya hidup bertetangga. Bahwa tetangga ini adalah keluarga. Bahwa kita tidak boleh sombong dan pelit. Bahwa membuka pintu rumah untuk para tetangga adalah hal baik dan insya Allah menjadi pembuka pintu rezeki.

Jadi terus terang saja, saya suka gemas kalau membaca tulisan "dilarang parkir" di halaman depan rumah lalu diberi tanda panah kanan-kiri, kesannya pelit sekali. Padahal bagian depan rumahnya tidak dipakai dan jika ada yg parkir tidak akan mengganggu jalan.

Prinsipnya, meminjamkan space untuk orang lain parkir adalah hal yang biasa untuk saya. Yang penting, jika mobil si peminjam menghalangi jalan keluar, maka baiknya dia selalu siap jika mobil kami akan keluar. Atau sekalian aja ditawarin tukeran, mobil tamu masuk garasi, mobil kami di luar jika memang sudah ingin pergi.

Maka ketika hari ini ada teman saya yang mau ke restoran di sebelah rumah dan tidak dapat parkir, saya dengan mudah mengucap "parkir di halaman rumah aja!" Dan tentunya sigap membantu mereka supaya bisa parkir dan tidak mengganggu penghuni lain. For the sake of God, salah satu pemilik rumah yang garasinya berjejeran, keluar dan bilang "parkirnya di atas aja deh, nanti kalo saya mau keluar ribet manggilnya!"

*rolling eyes thousands times*

Pertama, mobil si mbaknya ini adalab mobil kecil yang sungguh muat jika BISA menghitung dengan tepat. Kedua, kalo males ngitung, bisa kali cukup bertanya "maaf, tamu rumah mana? Jadi nanti kalau saya mau keluar, bisa manggil." Karena kesal, saya lekas mengajak teman saya untuk pindah parkir ke atas. Niatnya baik, malah jadi kesal hati. Dan hingga teman saya pulang, si empunya mobil ini belum juga pergi, kok. Ya apa, kaaann?

Gimana kalau saya ceritain bahwa anaknya udah make sepeda Menik tanpa izin, ngintip rumah orang, dan nyobain semua sepatu yang saya simpan di teras depan, ya? MALU NGGAK, SIH?

*jadi kesal*

People these days really need to learn again about politeness and etiquette. Show some respect or you won't get any. And trust me, you do need a good relationship with your neighbors. If you aren't in good shape with people around you, why would you live anyway?

Indonesiaku, Kamu Kenapa?

Sudah lama sekali ingin menulis ini. Tulisan ini tersimpan di draft sejak tahun 2015. Sejak ada rasa gundah mengenai negara saya tercinta, Indonesia.

Sejak dulu, saya tidak pernah ingin terjun dalam dunia politik. Dalam pikiran saya, politik itu hanya permainan kepentingan. Oh, tentunya permainan kekuasaan dan kekayaan. Dan rasanya saya tidak cukup kuat hati untuk bisa berpikir lurus diantara mereka-mereka yang bermain dengan tujuan akhir kepentingan dan kemenangan diri sendiri.


Image from: Bubbu Keni 

Saya tidak ingin menulis soal politik. Tapi saya ingin menulis bagaimana rasa gejolak di dalam hati tentang negara yang mencatat saya sebagai warga negaranya. Dan ketika saya punya anak, ia juga tercatat sebagai warga negara Indonesia.

Tahun 1991, saya masuk di sebuah sekolah dasar swasta yang dikelola oleh yayasan PERSIT, ya, Persatuan Istri Tentara. Sebuah sekolah heterogen yang isinya sekitar 30 anak. Satu beragama Hindu, 6 beragama Kristen, sisanya beragama Islam. Tidak pernah sekalipun orang tua saya berkata “kamu jangan main sama mereka yang tidak seagamanya”. Tidak pernah sekalipun mereka berkata “kamu main sama orang Jogja  dan Aceh saja”, dan tidak pernah sekalipun terucap “kita adalah golongan paling suci dan terdepan dalam beragama”.

Sewaktu SMA, kondisinya lebih terang lagi. Kami bukan lagi anak-anak SD yang akan mengenyam pendidikan dasar. Kami anak-anak remaja yang selalu merasa paling benar. Kami sok protes ke kepala sekolah dari mulai peraturan konyol tentang warna sepatu, berkelahi dengan kakak kelas, hingga bolos sekolah beramai-ramai demi nonton AADC. 

Tapi kami tidak pernah meributkan siapa agamanya apa. 

Kami justru sibuk bekerja sama. Iya, bekerja sama saat ujian. Siapa yang punya kemampuan lebih di satu mata pelajaran akan dengan sukarela membuat lembar contekan. Kami lulus bersama, nilai kami juga rata. 

Kami bisa tertawa bersama, menangis juga bersama-sama, tanpa bertanya “kamu keturunan apa?”.

Tapi sekarang, suara “jangan main sama dia, agamanya beda!” Atau “kamu jangan pergi sama dia, karena dia bukan pribumi”, terdengar jelas. Lantang.

Apa semua lupa dengan Pancasila?

Apa semua lupa dengan budi pekerti?

Apa semua lupa dengan pelajaran agamanya?

Saya tidak ingin tulisan ini dibaca oleh Menik saat ia besar dan nantinya ia bertanya “Bu, apa itu Bhinneka Tunggal Ika?”, karena kebhinnekaan sudah tidak ada lagi di masanya. 

Saya tidak ingin Menik meyakini bahwa di negaranya lebih baik menjadi orang yang melakukan korupsi asal bisa tetap santun berkata.

Saya ingin Menik tahu bahwa bangsa Indonesia yang adalah bangsa berintegritas. Saya ingin Menik menjadi seseorang yang punya tutur santun dan jujur.

Saya ingin Menik dan semua anak-anak tahu bahwa Indonesia indah karena keberagamannya. Indonesia bisa satu karena ada Sumpah Pemuda. Indonesia dikagumi karena ada Bhinneka Tunggal Ika. 

Saya ingin Menik bisa bebas bermain dengan siapapun. Saya ingin Menik tidak perlu takut menjabat tangan semua orang dari agama apapun, suku dan ras apapun yang ingin berkenalan dengan dirinya. Saya ingin Menik merasa satu dengan bangsanya. Selanjutnya, Menik bisa menjadi warga dunia yang bangga dengan darah Indonesianya 

Tadinya saya takut. Tadinya saya pikir saya tidak perlu meneruskan tulisan ini. Tadinya saya pikir “ah, ngapain ikut sok nulis tentang negara?”, tapi saya rindu sekali dengan Indonesia yang tidak ribut dengan keyakinan individunya, yang bangga dengan ratusan suku bangsanya, yang sayang dan hormat dengan semua ras yang ada. 

Indonesiaku, kamu kenapa?

Bapak pernah bilang “if you become frightened, instead become inspired…”

Akan selalu ada cara untuk mengubah rasa. Memang, tidak akan semudah memasak yang tinggal menambahkan garam dan gula, tapi saya yakin, Indonesia akan indah lagi pada waktunya.

Bisa dimulai dengan mencari tahu di mana letak kesalahannya. Lalu diteruskan dengan bagaimana cara memperbaikinya.

Sementara itu saya bisa apa?

Saat ini, saya baru bisa mendidik Menik menjadi individu merdeka yang tidak perlu takut untuk sayang dengan negaranya yang memiliki ragam budaya.

Saya ingin Menik mengaliri setiap hembusan nafasnya dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang. Agar ia tidak berani bermain-main atas nama sang maha kuasa. Agar ia meresapi ilmu padi dan selalu merasa kalau gelasnya baru setengah terisi.

Semoga lekas sembuh, Indonesia…

Cold Heart?


I’d rather known as a cold hearted woman instead of a fake one…

So judge me. I’m being rational here. None of what’s inside my heart says loud through my act, or written on my face. I do know how does it feel to be on your shoes now. So no. You can’t compared with what’s going on if you try on mine. Not a single chance.

People says I am cold hearted. People mocked me when I didn’t cry on my dad funeral. People says I don’t have that kinda feeling.

It’s okay.

All I know, life won’t stop running. Logically speaking, my decision is right. Though I know some people would judge me as the one who don’t know how to react. 

Well, I trained to be like this. So please judge me as hard as you can. And when you finished, you will know that your life isn’t stop running too. Even if you feel like somebody stopped it. No, it is not. 

There, you will say “now I know…”

And I will reply with “you are most welcome!”

It’s March, Day 30!

I knew this year birthday, you won’t be here.. You’ll be out of town for some work to do, and be home on Monday, April 2nd.

BUT PLOT TWIST.

Papa’s heart surgery moved to yesterday, so you take a leave from your work and stay in Jakarta. So, still… You are not around us on your birthday. Thank you for technology, we can still keep in touch and see each other through our phone screen.

To give you some birthday wishes, to make sure you know that me and Menik are very blessed to have you around us. To be a good dad, to be a kind husband. So let me say this once again, thank you for your present. Have a thoughtful birthday and keep your heart warm as usual.

We love you so much, and we know that all you want for today’s wish is a good recovery for Papa, so let me say this once again “only good things are going to happen today”. and tomorrow, we can repeat that mantra again.. I love you. We love you…

HAPPY BIRTHDAY! πŸ™‚

Beauty And The Beast πŸŒΉ

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini dirilis adalah live action version dari the very famous Disney’s tale: Beauty & The Beast. Saking semangatnya, tahun lalu ketika trailernya muncul, saya sudah berencana untuk mengajak Menik nonton film ini di bioskop. Saya tumbuh bersama Disney’s Princess, not that I want to be the one and I know exactly that their life was not real, tapi buat saya, menikmati film putri-putri-an dari Disney World ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.

Ketika beranjak dewasa, saya baru tahu, ada banyak sentimen negatif tentang cerita princess ini. Dari mulai mengajarkan perempuan untuk mencari prince charming demi kehidupan yang lebih baik, self body esteem, hingga isu pernikahan di bawah umur. Dan ketika sudah punya anak perempuan sekarang, saya jadi lebih banyak lagi mendapat informasi. Well, lebih tepatnya, semakin banyak orang yang mengkritisi film yang banyak ditonton oleh anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Artikelnya bagaimana sih, Ki? Ada banyak, kok.. kayak yang ini, ini, atau ini. Atau coba googling ‘negative side of Disney’s Princess”.

To be honest, karena saya suka sekali dengan cerita-cerita fantasi Disney, ada bagian dari diri saya yang menolak setuju dengan artikel-artikel yang mengupas lebih dalam mengenaik hal ini. I mean, just look at me. Do I look like someone who wait for his prince charming and get rescued? Of course not, I have a dream for my own life and it is not built by Disney. Ada kalimat yang selalu teringat setiap kali kami berdiskusi setelah nonton, baca buku atau majalah. Biasanya bapak atau ibu akan menjelaskan dan mengakhiri dengan “namanya juga film, kak!” atau “Itu kan foto di majalah, banyak prosesnya.” Jadi akhirnya yang tertanam dalam diri saya adalah itu semua hanyalah cerita khayalan. Ada banyak hal semu di dunia, tapi tidak dengan hidup kita. We must live our own life, so let’s try to do our best.

(panjang, ya, preambule-nyaaa hahahah)

download - Copy

Anyway, ketika akhirnya film Beauty and The Beast rilis, saya mendapatkan banyak informasi yang tidak enak mengenai film ini. Pertama tentunya kalimat dalam Press Release yang menyatakan kalau ini adaah film pertama dengan tokoh gay di dalamnya. Berikut banyak banget review setelah premiere yang bilang “banyak banget gay momentnya!”. Kedua ,konsentrasinya ada pada isu bestiality dan stockholm syndrome. Pas dengar ceita ini, saya rasanya mau bilang “DUH, GILAAA… DO NOT RUINED MY CHILDHOOD!!” ahahahahaa.. tapi karena saya punya tanggung jawab sekarang, yaitu anak perempuan kecil yang sangat suka berkhayal jadi Princess, maka saya mundur sedikit. Tadinya sudah mau nekat bawa karena di luar negeri ratenya adalah PG alias Parental Guide, tapi di Indonesia jadi 13+ alias untuk remaja. Belum lagi cerita beberapa negara yang melarang film ini tayang, atau memotong banyak bagian yang dianggap tidak pantas ditonton anak-anak.

Rasa percaya diri “ah, nggak apa-apa kali bawa Menik nonton!” berubah jadi “haduh, ini gimana ya, baiknya?”. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami memutuskan untuk screening film ini duluan baru diputuskan apakah Menik boleh nonton atau tidak. Mbak Menik tentu kecewa. Secara setiap hari, anak ini bertanya “hari ini tanggal berapa? Berapa hari lagi ke tanggal 17?”.

Saya nonton premierenya bersama teman baik saya, Bundi. Keluar dari bioskop setelah menyaksikan tayangan selama 129 menit, kami merasa bahagia. HAHAHAHHAA.. ya ampun, filmnya indah banget. Emma Watson, Dan Steven, Luke Evans, Josh Gad, Emma Thompson, Ian McKellen, Kevin Kline, Ewan McGregor, Stanley Tucci, dan Audra McDonald, sih, KEREN BANGET MAINNYAAAAA.. AAKKKK!! Ewan McGregor apalagi. I LAFF LUMIERE! hahahaha..

null

The CGI was good, walau saya masih merasa ada beberapa gerakan dan editan yang kurang halus, tapi nggak apa-apa. Lagu-lagunya? Oh my god, Allan Menken is the best kalo urusan lagu Disney. Kostum? Ya apalagi kalo bukan BAGUS BANGET! Walau desain the yellow dress is a bit different, tapi tetep aja, bagus pas dipakai dansa. Baju putih yang dipakai dansa di ending scene juga bagus, kak! lope-lope pokoknyaahhh.. :))

Nah, saya sengaja nggak langsung nulis review malam setelah nonton malam itu. Saya coba cerna dulu semalaman. Besoknya, saya memutuskan untuk menceritakan sedikit adegan yang menurut saya bisa mengganggu Menik. Dan kalau Menik masih mau nonton, ya hayuk.

Apa tuh adegan yang mengganggu? Buat saya, adegan kekerasan yang tervisualisasi dengan nyata ini lebih mengganggu ketimbang isu gay moment yang hangat diperbincangkan sejak film ini keluar. Sisanya nggak ada yang mengganggu. Malahan, karena ada beberapa perbaikan jalan cerita, saya jadi makin cinta sama Belle. Pesan yang disampaikan film ini juga bagus. “Set free the love and don’t sacrifice yourself”.

Highlight tentu ada pada Beast yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya akhirnya bisa merasakan cinta dan belajar untuk melepaskan hal yang paling dicintainya. Maurice juga belajar untuk melepaskan Belle dan percaya kalau Belle bisa menghadapai masalah yang ada di depannya. Maurice juga tidak serta merta berjanji pada Gaston untuk memberikan Belle kalau Gaston bisa menolongnya, dan Belle tidak menyerahkan dirinya pada Gaston demi menyelamatkan Beast yang ia sayangi.

giphy1

That’s sweet, right?

Sebagai orang tua, pasti kita sering merasakan hal yang sama dengan Maurice. Ingin melindungi dan menjaga si anak dengan kedua tangan kita. Padahal kata Kahlil Gibran “anakmu bukan anakmu” :)) Sebagai orang yang mencintai pasangannya, kadang kita berpikir untuk mengorbankan segalanya. Padahal belum tentu itu menjadi jalan keluar terbaik. We have to use our brain and heart equally! πŸ˜‰

Jadi menurut pendapat saya, film ini sebetulnya bisa ditonton anak-anak di bawah 13 tahun. Tapi pastikan dalam dampingan orang tua. Saya sendiri memilih untuk cuek sama karakter LeFou. Saya akan jelaskan kalau Menik bertanya. Tapi sampai beres filmnya, nggak ada pertanyaan, sih. Menik malah lebih konsen sama Gaston nginjek-nginjek kubis, dan si lemari alias Madame Garderobe.

Ini pendapat Menik soal Beauty and The Beast:

Jadi bagaimana, Ki? Apakah anak-anak boleh nonton atau enggak? Ya, dikembalikan ke kepercayaan dan keyakinan masing-masing saja. Kalau mau enak, jangan bergantung sama pendapat saya ini. Tapi nonton sendiri aja tanpa anaknya duluan, baru abis gitu putuskan.

giphy2

 

Selamat berakhir pekan, semuanya! πŸ™‚

Membereskan Ruang Bermain

Saya udah janji lama, ya, terutama di Instagram pas posting berhasil membereskan kamar main Menik, tapi baru sempat sekarang nulisnya. Nggak apa-apa, yaa..

Jadi begini, loh, beberes adalah salah satu terapi kewarasan untuk saya. Sejak dulu, kalau ada hal yang mengganjal dalam hati dan perlu pelampiasan untuk mengeluarkan energi negatif pilihan saya ada tiga: ngosek kamar mandi, bongkar dan rapihkan ulang isi lemari pakaian, atau beresin kamar. Jadi bukan pencitraan, emang dasarnya jiwa beberesnya sangat kuat, HAHAHA!

Anyway, sudah beberapa kali sebetulnya saya merapihkan kamar main Menik. Menik ini rezekinya alhamdulillah banget, ada aja yang kasih atau beliin mainan. Bisa kakek-nenek, bisa saudara atau bisa juga sebuah brand yang nawarin untuk endorsement. Alhamdulillah, sih, mainan 80% dapat gratis. Tapi astaghfirullah juga kalau udah lihat Menik mainin semuanya. Sejak nggak punya jatah nonton TV dan main hape, Menik jadi lebih aktif ngacak-ngacak kamar mainnya. SEMUA DIMAININ! (T____T)

Sebagai ibu yang suka bersih-bersih, saya sedih banget kalau lihat keadaan kamar main Menik. Karena ada teori mendidik anak yang bilang “Children see, children do” Saya serasa ingin teriak “MANAAA? BEBERESNYA NGGAK RAPIHHH!!” hahahhaa.. Menik bisa dan selalu saya ajak untuk merapihkan mainannya, tapi ada saat-saat Menik keburu tidur, lupa beresin, dan saya keburu gatal untuk membereskan ruangannya. Walau belakangan ini, Menik makin rajin beresin mainannya, tetap saja masih harus diingatkan kalau setiap selesai bermain, harus dirapihkan.

Karena rezeki yang saya bilang cukup tadi, mainan Menik ini makin lama makin numpuk. Lah, ruangannya kan nggak ikut jadi besar, hasilnya? Mumet mata! Pusing banget lihat volume mainan, bahkan ada mainan yang sebetulnya udah nggak kesentuh sama Menik, jadilah saya mencoba mencari cara untuk merapihkan mainannya.

Sebelum sempat merapihkannya, saya sempat jadi MC dulu di acara OLX, dan biasa, deh, kalau jadi MC suka dapet ilmu yaa.. dan kali ini dapat dari Nadya sang Psikolog Rumah Dandelion yang bercerita tentang habit tukang tumpuk barang atau hoarder dan juga metode KonMari alias melepaskan barang-barang yang sebetulnya tidak ada koneksi lagi dengan diri kita dan cara menyimpan barang-barang agar lebih rapih dan teroganisir.

Jadi dapat ide, deh, untuk membereskan ruang bermain Menik dengan metode ini. Menik diajak nggak? Ya iya, dong, kan itu barang milik Menik hahaha.. biarin aja dia yang nentuin sendiri, jadi nanti kalo tiba-tiba keinget dan nanyain, gampang jawabnya. Metode KonMari ini awalnya emang bikin kita lihat semua barang yang kita miliki.

LOOK AT THOSE STUFF!! -____-

Tiga cara utama untuk beres-beres ala KonMari adalah:

  1. Ingat-ingat bahwa tujuan akhir membereskan barang bukanlah membuang atau menyumbangkan barang sebanyak-banyaknya, tapi menyortir dan menyimpan barang yang bisa membuat kita merasa terkoneksi dan bahagia. Jadi pas beres-beres, setiap megang barang tanyakan pada diri “does this spark joy?” Pas kemarin beresin mainan Menik, saya lihat kondisinya, saya ingat-ingat juga kapan terakhir ia mainkan. Kalau sudah lebih dari 3 bulan tidak pernah disentuh berarti saatnya masuk box buang atau box sumbangkan. Kalau masih pernah dimainkan, saya tanya ke Menik “ini masih mau digunakan? mainan ini bikin Menik merasa senang nggak? Kenapa?”
  2. Sortir mainan berdasarkan kategori. Saya mulai dari Lego, kertas, alat tulis dan menggambar, puzzle, princess figures, dough, boneka, buku, dokter-dokterran mainan lain-lain (HAHAHHA ini bingung beneran, jadi kayak mesin kasir, tea set, payung, stroller mainan, dan lainnya, ada di kategori mainan lain-lain).
  3. Atur kembali mainan di tempat yang sudah diberi label sesuai kategorinya. Menurut Marie Kondo, menyimpan barang sesuai kategori dan ditata agar mudah diambil akan menghindari kita dari hoarding alias menyimpang barang tanpa digunakan kembali. Mudah dicari, mudah diambil, dan mudah dikembalikan.

Sudah, deh! Hasilnya, hari itu saya berhasil menyingkirkan dua dus mainan yang ternyata sudah tidak pernah digunakan. Ada yang saya sumbangkan, ada juga yang saya buang karena memang sudah tidak bisa digunakan. Ini dia kondisinya setelah dirapihkan:

img_0415img_0466img_0467img_0475

Sejak diajak menyortir barangnya, Menik jadi lebih bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempatnya. Karena saya tidak mau menjadi ibu yang harus mengingat-ingat di mana si anak meletakkan mainannya. Prinsipnya: Menik yang main, Menik yang rapihkan. Jadi kalau Menik lupa menyimpan, ya Menik ya tanggung akibatnya x))

Yuk, mainan dan ruangannya dirapihkan! πŸ˜‰