Indonesiaku, Kamu Kenapa?

Sudah lama sekali ingin menulis ini. Tulisan ini tersimpan di draft sejak tahun 2015. Sejak ada rasa gundah mengenai negara saya tercinta, Indonesia.

Sejak dulu, saya tidak pernah ingin terjun dalam dunia politik. Dalam pikiran saya, politik itu hanya permainan kepentingan. Oh, tentunya permainan kekuasaan dan kekayaan. Dan rasanya saya tidak cukup kuat hati untuk bisa berpikir lurus diantara mereka-mereka yang bermain dengan tujuan akhir kepentingan dan kemenangan diri sendiri.


Image from: Bubbu Keni 

Saya tidak ingin menulis soal politik. Tapi saya ingin menulis bagaimana rasa gejolak di dalam hati tentang negara yang mencatat saya sebagai warga negaranya. Dan ketika saya punya anak, ia juga tercatat sebagai warga negara Indonesia.

Tahun 1991, saya masuk di sebuah sekolah dasar swasta yang dikelola oleh yayasan PERSIT, ya, Persatuan Istri Tentara. Sebuah sekolah heterogen yang isinya sekitar 30 anak. Satu beragama Hindu, 6 beragama Kristen, sisanya beragama Islam. Tidak pernah sekalipun orang tua saya berkata “kamu jangan main sama mereka yang tidak seagamanya”. Tidak pernah sekalipun mereka berkata “kamu main sama orang Jogja  dan Aceh saja”, dan tidak pernah sekalipun terucap “kita adalah golongan paling suci dan terdepan dalam beragama”.

Sewaktu SMA, kondisinya lebih terang lagi. Kami bukan lagi anak-anak SD yang akan mengenyam pendidikan dasar. Kami anak-anak remaja yang selalu merasa paling benar. Kami sok protes ke kepala sekolah dari mulai peraturan konyol tentang warna sepatu, berkelahi dengan kakak kelas, hingga bolos sekolah beramai-ramai demi nonton AADC. 

Tapi kami tidak pernah meributkan siapa agamanya apa. 

Kami justru sibuk bekerja sama. Iya, bekerja sama saat ujian. Siapa yang punya kemampuan lebih di satu mata pelajaran akan dengan sukarela membuat lembar contekan. Kami lulus bersama, nilai kami juga rata. 

Kami bisa tertawa bersama, menangis juga bersama-sama, tanpa bertanya “kamu keturunan apa?”.

Tapi sekarang, suara “jangan main sama dia, agamanya beda!” Atau “kamu jangan pergi sama dia, karena dia bukan pribumi”, terdengar jelas. Lantang.

Apa semua lupa dengan Pancasila?

Apa semua lupa dengan budi pekerti?

Apa semua lupa dengan pelajaran agamanya?

Saya tidak ingin tulisan ini dibaca oleh Menik saat ia besar dan nantinya ia bertanya “Bu, apa itu Bhinneka Tunggal Ika?”, karena kebhinnekaan sudah tidak ada lagi di masanya. 

Saya tidak ingin Menik meyakini bahwa di negaranya lebih baik menjadi orang yang melakukan korupsi asal bisa tetap santun berkata.

Saya ingin Menik tahu bahwa bangsa Indonesia yang adalah bangsa berintegritas. Saya ingin Menik menjadi seseorang yang punya tutur santun dan jujur.

Saya ingin Menik dan semua anak-anak tahu bahwa Indonesia indah karena keberagamannya. Indonesia bisa satu karena ada Sumpah Pemuda. Indonesia dikagumi karena ada Bhinneka Tunggal Ika. 

Saya ingin Menik bisa bebas bermain dengan siapapun. Saya ingin Menik tidak perlu takut menjabat tangan semua orang dari agama apapun, suku dan ras apapun yang ingin berkenalan dengan dirinya. Saya ingin Menik merasa satu dengan bangsanya. Selanjutnya, Menik bisa menjadi warga dunia yang bangga dengan darah Indonesianya 

Tadinya saya takut. Tadinya saya pikir saya tidak perlu meneruskan tulisan ini. Tadinya saya pikir “ah, ngapain ikut sok nulis tentang negara?”, tapi saya rindu sekali dengan Indonesia yang tidak ribut dengan keyakinan individunya, yang bangga dengan ratusan suku bangsanya, yang sayang dan hormat dengan semua ras yang ada. 

Indonesiaku, kamu kenapa?

Bapak pernah bilang “if you become frightened, instead become inspired…”

Akan selalu ada cara untuk mengubah rasa. Memang, tidak akan semudah memasak yang tinggal menambahkan garam dan gula, tapi saya yakin, Indonesia akan indah lagi pada waktunya.

Bisa dimulai dengan mencari tahu di mana letak kesalahannya. Lalu diteruskan dengan bagaimana cara memperbaikinya.

Sementara itu saya bisa apa?

Saat ini, saya baru bisa mendidik Menik menjadi individu merdeka yang tidak perlu takut untuk sayang dengan negaranya yang memiliki ragam budaya.

Saya ingin Menik mengaliri setiap hembusan nafasnya dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang. Agar ia tidak berani bermain-main atas nama sang maha kuasa. Agar ia meresapi ilmu padi dan selalu merasa kalau gelasnya baru setengah terisi.

Semoga lekas sembuh, Indonesia…

Advertisements

Cold Heart?


I’d rather known as a cold hearted woman instead of a fake one…

So judge me. I’m being rational here. None of what’s inside my heart says loud through my act, or written on my face. I do know how does it feel to be on your shoes now. So no. You can’t compared with what’s going on if you try on mine. Not a single chance.

People says I am cold hearted. People mocked me when I didn’t cry on my dad funeral. People says I don’t have that kinda feeling.

It’s okay.

All I know, life won’t stop running. Logically speaking, my decision is right. Though I know some people would judge me as the one who don’t know how to react. 

Well, I trained to be like this. So please judge me as hard as you can. And when you finished, you will know that your life isn’t stop running too. Even if you feel like somebody stopped it. No, it is not. 

There, you will say “now I know…”

And I will reply with “you are most welcome!”

It’s March, Day 30!

I knew this year birthday, you won’t be here.. You’ll be out of town for some work to do, and be home on Monday, April 2nd.

BUT PLOT TWIST.

Papa’s heart surgery moved to yesterday, so you take a leave from your work and stay in Jakarta. So, still… You are not around us on your birthday. Thank you for technology, we can still keep in touch and see each other through our phone screen.

To give you some birthday wishes, to make sure you know that me and Menik are very blessed to have you around us. To be a good dad, to be a kind husband. So let me say this once again, thank you for your present. Have a thoughtful birthday and keep your heart warm as usual.

We love you so much, and we know that all you want for today’s wish is a good recovery for Papa, so let me say this once again “only good things are going to happen today”. and tomorrow, we can repeat that mantra again.. I love you. We love you…

HAPPY BIRTHDAY! 🙂

Beauty And The Beast 🌹

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini dirilis adalah live action version dari the very famous Disney’s tale: Beauty & The Beast. Saking semangatnya, tahun lalu ketika trailernya muncul, saya sudah berencana untuk mengajak Menik nonton film ini di bioskop. Saya tumbuh bersama Disney’s Princess, not that I want to be the one and I know exactly that their life was not real, tapi buat saya, menikmati film putri-putri-an dari Disney World ini adalah sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.

Ketika beranjak dewasa, saya baru tahu, ada banyak sentimen negatif tentang cerita princess ini. Dari mulai mengajarkan perempuan untuk mencari prince charming demi kehidupan yang lebih baik, self body esteem, hingga isu pernikahan di bawah umur. Dan ketika sudah punya anak perempuan sekarang, saya jadi lebih banyak lagi mendapat informasi. Well, lebih tepatnya, semakin banyak orang yang mengkritisi film yang banyak ditonton oleh anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Artikelnya bagaimana sih, Ki? Ada banyak, kok.. kayak yang ini, ini, atau ini. Atau coba googling ‘negative side of Disney’s Princess”.

To be honest, karena saya suka sekali dengan cerita-cerita fantasi Disney, ada bagian dari diri saya yang menolak setuju dengan artikel-artikel yang mengupas lebih dalam mengenaik hal ini. I mean, just look at me. Do I look like someone who wait for his prince charming and get rescued? Of course not, I have a dream for my own life and it is not built by Disney. Ada kalimat yang selalu teringat setiap kali kami berdiskusi setelah nonton, baca buku atau majalah. Biasanya bapak atau ibu akan menjelaskan dan mengakhiri dengan “namanya juga film, kak!” atau “Itu kan foto di majalah, banyak prosesnya.” Jadi akhirnya yang tertanam dalam diri saya adalah itu semua hanyalah cerita khayalan. Ada banyak hal semu di dunia, tapi tidak dengan hidup kita. We must live our own life, so let’s try to do our best.

(panjang, ya, preambule-nyaaa hahahah)

download - Copy

Anyway, ketika akhirnya film Beauty and The Beast rilis, saya mendapatkan banyak informasi yang tidak enak mengenai film ini. Pertama tentunya kalimat dalam Press Release yang menyatakan kalau ini adaah film pertama dengan tokoh gay di dalamnya. Berikut banyak banget review setelah premiere yang bilang “banyak banget gay momentnya!”. Kedua ,konsentrasinya ada pada isu bestiality dan stockholm syndrome. Pas dengar ceita ini, saya rasanya mau bilang “DUH, GILAAA… DO NOT RUINED MY CHILDHOOD!!” ahahahahaa.. tapi karena saya punya tanggung jawab sekarang, yaitu anak perempuan kecil yang sangat suka berkhayal jadi Princess, maka saya mundur sedikit. Tadinya sudah mau nekat bawa karena di luar negeri ratenya adalah PG alias Parental Guide, tapi di Indonesia jadi 13+ alias untuk remaja. Belum lagi cerita beberapa negara yang melarang film ini tayang, atau memotong banyak bagian yang dianggap tidak pantas ditonton anak-anak.

Rasa percaya diri “ah, nggak apa-apa kali bawa Menik nonton!” berubah jadi “haduh, ini gimana ya, baiknya?”. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami memutuskan untuk screening film ini duluan baru diputuskan apakah Menik boleh nonton atau tidak. Mbak Menik tentu kecewa. Secara setiap hari, anak ini bertanya “hari ini tanggal berapa? Berapa hari lagi ke tanggal 17?”.

Saya nonton premierenya bersama teman baik saya, Bundi. Keluar dari bioskop setelah menyaksikan tayangan selama 129 menit, kami merasa bahagia. HAHAHAHHAA.. ya ampun, filmnya indah banget. Emma Watson, Dan Steven, Luke Evans, Josh Gad, Emma Thompson, Ian McKellen, Kevin Kline, Ewan McGregor, Stanley Tucci, dan Audra McDonald, sih, KEREN BANGET MAINNYAAAAA.. AAKKKK!! Ewan McGregor apalagi. I LAFF LUMIERE! hahahaha..

null

The CGI was good, walau saya masih merasa ada beberapa gerakan dan editan yang kurang halus, tapi nggak apa-apa. Lagu-lagunya? Oh my god, Allan Menken is the best kalo urusan lagu Disney. Kostum? Ya apalagi kalo bukan BAGUS BANGET! Walau desain the yellow dress is a bit different, tapi tetep aja, bagus pas dipakai dansa. Baju putih yang dipakai dansa di ending scene juga bagus, kak! lope-lope pokoknyaahhh.. :))

Nah, saya sengaja nggak langsung nulis review malam setelah nonton malam itu. Saya coba cerna dulu semalaman. Besoknya, saya memutuskan untuk menceritakan sedikit adegan yang menurut saya bisa mengganggu Menik. Dan kalau Menik masih mau nonton, ya hayuk.

Apa tuh adegan yang mengganggu? Buat saya, adegan kekerasan yang tervisualisasi dengan nyata ini lebih mengganggu ketimbang isu gay moment yang hangat diperbincangkan sejak film ini keluar. Sisanya nggak ada yang mengganggu. Malahan, karena ada beberapa perbaikan jalan cerita, saya jadi makin cinta sama Belle. Pesan yang disampaikan film ini juga bagus. “Set free the love and don’t sacrifice yourself”.

Highlight tentu ada pada Beast yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya akhirnya bisa merasakan cinta dan belajar untuk melepaskan hal yang paling dicintainya. Maurice juga belajar untuk melepaskan Belle dan percaya kalau Belle bisa menghadapai masalah yang ada di depannya. Maurice juga tidak serta merta berjanji pada Gaston untuk memberikan Belle kalau Gaston bisa menolongnya, dan Belle tidak menyerahkan dirinya pada Gaston demi menyelamatkan Beast yang ia sayangi.

giphy1

That’s sweet, right?

Sebagai orang tua, pasti kita sering merasakan hal yang sama dengan Maurice. Ingin melindungi dan menjaga si anak dengan kedua tangan kita. Padahal kata Kahlil Gibran “anakmu bukan anakmu” :)) Sebagai orang yang mencintai pasangannya, kadang kita berpikir untuk mengorbankan segalanya. Padahal belum tentu itu menjadi jalan keluar terbaik. We have to use our brain and heart equally! 😉

Jadi menurut pendapat saya, film ini sebetulnya bisa ditonton anak-anak di bawah 13 tahun. Tapi pastikan dalam dampingan orang tua. Saya sendiri memilih untuk cuek sama karakter LeFou. Saya akan jelaskan kalau Menik bertanya. Tapi sampai beres filmnya, nggak ada pertanyaan, sih. Menik malah lebih konsen sama Gaston nginjek-nginjek kubis, dan si lemari alias Madame Garderobe.

Ini pendapat Menik soal Beauty and The Beast:

Jadi bagaimana, Ki? Apakah anak-anak boleh nonton atau enggak? Ya, dikembalikan ke kepercayaan dan keyakinan masing-masing saja. Kalau mau enak, jangan bergantung sama pendapat saya ini. Tapi nonton sendiri aja tanpa anaknya duluan, baru abis gitu putuskan.

giphy2

 

Selamat berakhir pekan, semuanya! 🙂

Membereskan Ruang Bermain

Saya udah janji lama, ya, terutama di Instagram pas posting berhasil membereskan kamar main Menik, tapi baru sempat sekarang nulisnya. Nggak apa-apa, yaa..

Jadi begini, loh, beberes adalah salah satu terapi kewarasan untuk saya. Sejak dulu, kalau ada hal yang mengganjal dalam hati dan perlu pelampiasan untuk mengeluarkan energi negatif pilihan saya ada tiga: ngosek kamar mandi, bongkar dan rapihkan ulang isi lemari pakaian, atau beresin kamar. Jadi bukan pencitraan, emang dasarnya jiwa beberesnya sangat kuat, HAHAHA!

Anyway, sudah beberapa kali sebetulnya saya merapihkan kamar main Menik. Menik ini rezekinya alhamdulillah banget, ada aja yang kasih atau beliin mainan. Bisa kakek-nenek, bisa saudara atau bisa juga sebuah brand yang nawarin untuk endorsement. Alhamdulillah, sih, mainan 80% dapat gratis. Tapi astaghfirullah juga kalau udah lihat Menik mainin semuanya. Sejak nggak punya jatah nonton TV dan main hape, Menik jadi lebih aktif ngacak-ngacak kamar mainnya. SEMUA DIMAININ! (T____T)

Sebagai ibu yang suka bersih-bersih, saya sedih banget kalau lihat keadaan kamar main Menik. Karena ada teori mendidik anak yang bilang “Children see, children do” Saya serasa ingin teriak “MANAAA? BEBERESNYA NGGAK RAPIHHH!!” hahahhaa.. Menik bisa dan selalu saya ajak untuk merapihkan mainannya, tapi ada saat-saat Menik keburu tidur, lupa beresin, dan saya keburu gatal untuk membereskan ruangannya. Walau belakangan ini, Menik makin rajin beresin mainannya, tetap saja masih harus diingatkan kalau setiap selesai bermain, harus dirapihkan.

Karena rezeki yang saya bilang cukup tadi, mainan Menik ini makin lama makin numpuk. Lah, ruangannya kan nggak ikut jadi besar, hasilnya? Mumet mata! Pusing banget lihat volume mainan, bahkan ada mainan yang sebetulnya udah nggak kesentuh sama Menik, jadilah saya mencoba mencari cara untuk merapihkan mainannya.

Sebelum sempat merapihkannya, saya sempat jadi MC dulu di acara OLX, dan biasa, deh, kalau jadi MC suka dapet ilmu yaa.. dan kali ini dapat dari Nadya sang Psikolog Rumah Dandelion yang bercerita tentang habit tukang tumpuk barang atau hoarder dan juga metode KonMari alias melepaskan barang-barang yang sebetulnya tidak ada koneksi lagi dengan diri kita dan cara menyimpan barang-barang agar lebih rapih dan teroganisir.

Jadi dapat ide, deh, untuk membereskan ruang bermain Menik dengan metode ini. Menik diajak nggak? Ya iya, dong, kan itu barang milik Menik hahaha.. biarin aja dia yang nentuin sendiri, jadi nanti kalo tiba-tiba keinget dan nanyain, gampang jawabnya. Metode KonMari ini awalnya emang bikin kita lihat semua barang yang kita miliki.

LOOK AT THOSE STUFF!! -____-

Tiga cara utama untuk beres-beres ala KonMari adalah:

  1. Ingat-ingat bahwa tujuan akhir membereskan barang bukanlah membuang atau menyumbangkan barang sebanyak-banyaknya, tapi menyortir dan menyimpan barang yang bisa membuat kita merasa terkoneksi dan bahagia. Jadi pas beres-beres, setiap megang barang tanyakan pada diri “does this spark joy?” Pas kemarin beresin mainan Menik, saya lihat kondisinya, saya ingat-ingat juga kapan terakhir ia mainkan. Kalau sudah lebih dari 3 bulan tidak pernah disentuh berarti saatnya masuk box buang atau box sumbangkan. Kalau masih pernah dimainkan, saya tanya ke Menik “ini masih mau digunakan? mainan ini bikin Menik merasa senang nggak? Kenapa?”
  2. Sortir mainan berdasarkan kategori. Saya mulai dari Lego, kertas, alat tulis dan menggambar, puzzle, princess figures, dough, boneka, buku, dokter-dokterran mainan lain-lain (HAHAHHA ini bingung beneran, jadi kayak mesin kasir, tea set, payung, stroller mainan, dan lainnya, ada di kategori mainan lain-lain).
  3. Atur kembali mainan di tempat yang sudah diberi label sesuai kategorinya. Menurut Marie Kondo, menyimpan barang sesuai kategori dan ditata agar mudah diambil akan menghindari kita dari hoarding alias menyimpang barang tanpa digunakan kembali. Mudah dicari, mudah diambil, dan mudah dikembalikan.

Sudah, deh! Hasilnya, hari itu saya berhasil menyingkirkan dua dus mainan yang ternyata sudah tidak pernah digunakan. Ada yang saya sumbangkan, ada juga yang saya buang karena memang sudah tidak bisa digunakan. Ini dia kondisinya setelah dirapihkan:

img_0415img_0466img_0467img_0475

Sejak diajak menyortir barangnya, Menik jadi lebih bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempatnya. Karena saya tidak mau menjadi ibu yang harus mengingat-ingat di mana si anak meletakkan mainannya. Prinsipnya: Menik yang main, Menik yang rapihkan. Jadi kalau Menik lupa menyimpan, ya Menik ya tanggung akibatnya x))

Yuk, mainan dan ruangannya dirapihkan! 😉

Perfectly Perfect Life

Ada yang mengikuti serial Black Mirror? Saya mengetahui serial Netflix ini pertama kalinya dari Ajeng alias Miss Kepik. Penasaran karena biasanya yang ditonton Ajeng ini seru-seru dan berisi, gitu. Pas nonton rasanya stress, sih. YAWLA, INI SERIAL DITUJUKAN UNTUK BIKIN PENONTONNYA DEPRESI APA GIMANA? Cicipin, deh. Karena setiap episodenya, ya, nyambung banget sama kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi, dan media sosial. JRENG!

Anyway, salah satu episode yang paling relatable sama hidup saat ini adalah Nosedive, ada di season 3 episode 1.

nosedive1

See something familiar? Saat ini hidup kita udah begini, kan? Banyakan lihat ke ponsel atau gadget ketimbang melihat mata si lawan bicara. Settingan warnanya juga pastel mania gitu, pokoknya hidup di dunia Pinterest dan Instagram. Dan isinya tentang sentilan satir tentang citra yang ingin kita pajang di media sosial, bagaimana kita takut dinilai buruk oleh orang lain sehingga terkadang yang kita lakukan adalah palsu. Quoting the creator and writer, he said “it’s basically the world we living” -Charlie Brooker.

Terus kenapa, Ki?

Ya nggak apa-apa, sih, cuma ternyata ini bisa disambungin sama unggahan pendapat saya tentang seorang artis/penyanyi yang fotonya muncul di laman explore IG saya. Fotonya agak ganggu, buat saya yang juga menyusui anak saya. Mbaknya baru nyusuin 40 hari, saya waktu itu nyusuin 3.5 tahun :)) Fotonya memperlihatkan kalau mbaknya tidak bisa nyoblos sendiri karena sedang menyusui. Both hands were occupied and so her sister helped her to vote.

Tarik mundur dikit, saya mengalami kesulitan beradaptasi saat menyusui Menik. Butuh tiga bulanan untuk bisa ikut menyatakan kalau “menyusui itu mudah!” Tiga bulan pertama, sih, penyataan yang keluar “SIAPA YANG BILANG NYUSUIN ITU GAMPANG? HA?” x)) Nah, karena saya tahu menyusui (dan prosesnya) itu bersifat personal, saya coba cek IG mbaknya dulu, dan JRENGGGGGG… hehehehee.. Lah, kalau menurut mbaknya menyusui itu adalah hal yang natural dan mudah, kenapa susah-susah amat pas mau nyoblos? Petugas TPS juga kenapa bolehin, ya? Ceritanya pakai peraturan KPU nomor 31-32 (CMIIW) tentang keterbatasan fisik dan hak menyoblos. Yakali menyusui jadi keterbatasan fisiknya? Atau gimana?

Elena-Oliva-Photo-RS.jpg

Lihat, dong, Olivia Wilde. Nyusuin sambil makan? Not a problem!

Menyusui memang membutuhkan kekerasan kepala, menyusui memang boleh di mana saja, kapan saja, saya sering sekali menulis tentang hal ini. Ada tulisan saya untuk mendukung hal ini di sini. Lalu saya juga pernah menulis soal keputusan menyusui lebih dari 2 tahun, yup, I breastfeed my baby for 3.5 years! Dan masih banyak lagi, kenapa? Karena saya memang ingin semua ibu di Indonesia bisa menyusui, tapi menurut saya, ya nggak gitu-gitu amat, sih, hahahaha.. Memangnya mbaknya nggak mau merasakan nikmatnya menyusui sambil makan bakso, ya? Eh, itu mah saya aja kali, ya.. hauhauhaa.. skill dalam dunia ibu, tuh!

Saya nggak punya banyak foto menyusui pas Menik masih bayi, nggak ada yang motretin soalnya, HAHAHHA. Kalau yang ini, bahkan nggak pakai apron, dan saya bukan ibu-ibu pengguna daster. Saya geng kaos lebar, sih, hahaha.. but yeah, ini pilihan aja, yang penting bisa nyusuin di mana saja, kapan saja.

ebf

ebf2

Dan makin lama makin jagoan, nanti bisa gini: 


Nah, karena kaget dengan foto tersebut, saya otomatis nulis di Path. Saya cuma berbagi saran bahwasanya si mbak kudu latihan lebih giat, berbekal tangan yang sudah setrong, harusnya bisa nyusuin dengan satu tangan, hehehee.. di luar dugaan, yang komen BANYAK BANGET. I can say, that post was my top post so far in 2017, hahahaha.. Ya ampun, baru sekali itu ngepost di Path, komennya sampai 80-an. Belum lagi postingan selanjutnya dengan belasan komentar. Sampai saya bikin klaim bahwa saya nggak ada masalah apapun dengan mbak ini, tapi saya gerah dengan picture perfect di kehidupan IG-nya yang dipertontonkan ke banyak sekali followersnya.

Karena banyak sekali komentar, saya jadi scrolling ke bawah postingan mbaknya, kan. Di situlah saya jadi tahu kenapa BANYAK sekali yang ikut berpendapat di postingan saya. Hampir semua pernyataan si mbak di caption IG-nya ini terasa mengintimidasi dan snob. She even stated that baby blues doesn’t exist. Wow. I mean really wow. Mungkin baby blues-nya nggak mampir atau cuma selewat dalam hidup mbaknya, tapi jangan lupakan kasus-kasus baby blues di seluruh dunia bahkan post partus depression yang memang ada. Kalau saya mencoba jujur dan bercerita di sini. Bisa juga coba mampir ke www.scarrymommy.com  atau cek www.tovaleigh.com, deh. Bagaimana kehidupan nyata ibu-ibu di seluruh dunia ini ditulis dengan apik, dan ya.. apa adanya.

Maksudnya begini, kalau memang mau menampilkan kehidupan yang bahagia adem wangi sepanjang masa di IG-nya sih, nggak masalah, tapi yang bener aja, dong pencitraannya. Bikin deg-deggan ibu-ibu yang melahirkannya dalam jangka waktu berdekatan, loh. Nggak empati banget sama yang kena baby blues, kena seret ASI, payudara bengkak dan lainnya. Sebaik-baiknya kan saling mendukung dan berbagi, bukan membuat pernyataan snob yang mengakibatkan ibu-ibu lainnya gempeur.

Terus inti dari postingan ini apa?

Apa, ya? Hahahaha, sirik tanda tak mampu. Itu, sih kayaknya, hauauahuahaaa… Sirik karena lihat feed IG-nya sempurna banget, ibu-ibu lain mah, nggak ada seujung kukunya. Ibu-ibu yang mompa sambil ngetik di cubicle-nya atau ibu-ibu yang nyusuin sambil belanja di pasar buat masak makanan nanti di rumahnya, nggak ada apa-apanya. Pokoknya klean semua nggak ada apa-apanya karena hidup klean nggak seindah Instagram dan Pinterest. Begitu, tuh, kira-kira, ya.. rasa dari postingan foto dan captionnya.

dan saya jadi ingin mengajak mbaknya untuk nonton Nosedive dan akhirnya ingin mbaknya untuk ikut teriak “F*CK YOU WORLD” kalau memang selama ini ada banyak sekali kegundahan yang tersimpan dalam hati, dalam diri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat hal-hal yang sebenarnya terjadi. Lalu baca ini http://www.scarymommy.com/mothers-mental-health-is-everything/ 🙂 Yup, because it’s okay to say “I am not fine!” because we are human, and we’re full of flaws. And it’s okay. Really.

Saya baru jadi ibu selama lima tahunan, saya cuma mau bilang ke ibu-ibu di luar sana bahwa kita boleh merasa sedih. Kita boleh merasa marah, bahkan boleh merasa “kok gini amat, ya, punya anak?” Kalau baca postingan Dewa kemarin di Path “pengin gue pites deh ini anak!” Tentunya Dewa nggak akan mites anaknya beneran, it’s just a feeling. And it’s good to release it. Beneran, deh. Nggak usah takut dengan penilaian orang lain. Karena sesungguhnya sibuk dengan urusan nilai di dunia ini nggak akan ada habisnya. Bagus kita nggak hidup di dunia Nosedive, di mana semua orang bisa menilai dengan gamblang citra yang  ditangkap olehnya. Kita nggak tahu apa yang mereka lihat, mereka akan menilai kita, dan kita juga melakukan hal yang sama. Tapi yang menjalani hidup kita kan kita sendiri. Bukan orang lain. People do judge, so what?

15826558_10154492045654145_3322795877660214602_n

Menjadi ibu adalah hal yang sifatnya seumur hidup. Tidak bisa ditanggalkan dan diabaikan. So be ourselves, be kind to ourselves. Menjadi ibu yang baik dan sempurna adalah impian semua perempuan yang melahirkan, tapi bukan berarti berlebihan dan menjadi jahat ke orang lain. Untuk mbak artis yang baik, jika memang yang ditampilkan di media sosial adalah nyatanya dalam hidup Anda, saya mau menyampaikan permohonan maaf karena salah memberikan penilaian. Karena saya juga seorang ibu dan selama ini hidup bersama dengan banyak ibu-ibu lainnya, dan selama ini belum pernah ketemu sama ibu yang nyoblos dengan bantuan orang lain hanya karena sedang menyusui, hehehe..

13516175_10153935302469145_7880854504923581145_n

So mothers, stay calm, and don’t worry about being a non-flawless mom.


Tambahan cerita nih, saat awal melahirkan, buat jawab pertanyaan yang datang soal “emangnya lo langsung jagoan, ya?”:

Kelihatan bagaimana Menik bisa saya gendong hanya dengan satu tangan, ya. Sering sekali Menik saya gendong atau susuin satu tangan, dan tangan yang satunya saya gunakan untuk makan, minum, mindahin saluran tv, masukin cucian ke mesin, dan lainnya. Menik adalah bayi bau tangan, alias maunya digendong melulu. Sekaligus saya tambahkan info, hehe, kalau Menik saya urus sendirian, nggak bisa nggak karena memang tidak ada bantuan. Saya hanya tinggal bertiga dengan suami dan Menik di apartemen kecil. Jadi Menik sudah saya mandikan sendiri sejak usia 3 hari alias sejak pulang dari RS 😀 Bukan snob ya, ini, realita aja hahahaha.. dan emang sedih plus capek rasanya. Cerita bagaimana saya mendapat julukan “si susah nyusuin” sudah sering sekali saya ceritakan, online maupun offline. Cerita saya nangis di bawah blower AC?  Nanti ajalah, ya. Tapi iya, saya frustasi saat menyesuaikan diri menjadi ibu. Sampai sekarang masih, sih, hahahhaa! Dan percayalah, perjalanan masih sangat panjang 😀

 

 

Stepping Out From Comfort Zone…

“When was the last time you did something for the first time?”

Sejak jadi ibu, hidup saya menjadi cukup teratur. Dan monoton. Apalagi sejak Menik sekolah, seolah-olah semuanya sudah terprogram. Kalau ikutan kegiatan, pasti dalam lingkaran keibu-ibuan. Kalau urusan kerjaan, pasti dalam lingkaran geng komunikasi, bisa ngeMC, bisa juga jadi kacung strakom. Ya gitu-gitulah. Jadi kalau digambarin, saya berpusar di titik yang itu-itu saja.

Pas kemarin lihat postingan Anggi soal Food Plating Workshop, langsung tertarik buat ikutan. Karena bacanya sekilas, jadi yang terbayang adalah latihan mengatur makanan agar enak difoto. HAHAHAH! Ya, I know. Namanya juga ibu-ibu, baca sekilas, lalu impulsif ngajakin Anya buat ikutan, secara kami berdua sering banget ketawa cekikikan kalo soal foto makanan. Nggak usah ditanya, ya, usaha kami gimana. SUDAH SAMPAI DI TAHAP SAMPE NAIK KURSI, tapi hasilnya nggak kayak orang-orang yang udah baik kursi itu. Iya, menyedihkan.. x))

Ternyata pas sudah sampai di Selaras Guest House, tempat #FoodPlatingWorkshop diadakan, ini adalah pelatihan mengatur makanan from scratch! Yup, you read it right, hahahhaa.. and we’re hopeless. Pengajar di kelas ngatur isi piring adalah Dade Akbar dari @warteggourmet.  Selain itu, ada geng pecinta foto makanan dari @Alafoodie. Kelasnya berlangsung dari pukul 8.30 pagi hingga 12.00 siang. Acara ini dipandung oleh ibu Anggia Bonyta mylaff 😀

16508998_215122888957170_4217576824890699706_n

Makanan yang jadi center of attention adalah Karedok dan Nasi Timbel. Ketika Dade menjelaskan soal plating ini, saya beneran hopeless, loh. Karena saya ini adalah golongan yang less art, alias kurang artistik. Baju aja monokrom, kerudung aja polos, sepatu keds juga yang klasik. Iya, monoton, hahahhaa.. jadi pas tau kalau mengatur makanan ini merupakan hal yang artsy, sejujurnya saya mau makan pisang goreng sama ngopi aja! HAHAHAH.

16649288_215105235625602_5537071573385343157_n

Dade menceritakan awalnya bikin akun Warteg Gourmet karena nggak sengaja. Dade pengin memperlihatkan kalau makanan Indonesia juga bisa di-ala-ala, lah.. hehehhee.. tadinya cuma buat konsumsi pribadi dan privat di Path, tapi lama-lama  kumpulan fotonya dijadiin satu di akun IG, dan BOOM! Meledaklah si @warteggourmet. Belum lagi penjelasan di captionnya Dade yang nyebelin model ikan kembung diterjemahin bebas jadi bloating fish, iyah, suka-suka hati Dade aja, yaa.. hahahah, jadinya akun IG Warteg Gourmet hits, deh!

Kelas diawali dengan cerita Dade dan passionnya ngatur-ngatur tampilan makanan di piring. Lanjut dengan plating pertama yaitu: NASI TIMBEL. Dade bisaan banget, sih, nasi timbel dengan lauk ayam lado, tahu-tempe, lalap-sambel, bisa jadi cantik begini, nih:

16602616_215106805625445_7079815128135319620_n

dan Karedok bisa jadi begini:

16508728_215106555625470_4078379600707186455_n

HAHAHA, I am really out of my league!! Ngatur makanan Menik di kotak bekalnya aja gitu doang.

Beberapa kuncinya adalah pemilihan piring saji, potongan makanan, komposisi warna, dan kebersihan. Lalu, teknik ngepretin dan moles saos juga diajarin, nih. Nggak cuma saos, semua kuah dan sambal juga bisa jadi pemanis di piring. Tinggal diatur aja konsistensi kekentalannya, supaya bisa ditampilin cantik. Kata Minimalis juga jadi salah satu faktor di food plating ini ternyata. Jadi isi piringnya jangan keramean, supaya tampilannya tetap cantik. Untuk garnish, edible flowers bisa jadi kuncian. Biasanya warna-warni bunga ini yang akan jadi pengontras. Ya gitulah, pokoknya! HAHA.

screen-shot-2017-02-09-at-6-04-05-pm

Nah, abis Dade kasih lihat beberapa contoh plating, kami ditantang untuk berkreasi. Pertama, nasi timbel. Waktu mengatur nasi timbel, kami boleh melihat dan menjiplak kreasi Dade. Abis gitu dinilai dan dikasih masukan. Saya sama Anya beneran duduk aja di kursi kami masing-masing, saking nggak pengin kena penilaian… HAHAHHA..

giphyvia GIPHY

Anya pakai ikutan aksi tabur bunga segala ala Dade, mayan gaya, ya! Hasil platingnya yaaa.. gitu aja! ~(*_*)~

*beneran, saya nggak pede sama hasil plating saya, nih! :p*

Setelah mencoba mengatur nasi timbel jadi nasi ala-ala cantik, sekarang kami ditantang untuk mengatur karedok di atas piring Kandura. Iya, piring keramik yang cantik dan pastinya bikin tampilan makanan lebih greng, gitu, haha. Karena saya dan Anya di paling belakang, jadinya dapet sisa doang. Bumbu kacang juga udah abis, he-euh, hahhaha seadanya ajalah. Padahal ini jadi kompetisi gitu katanya, kalo menang ada hadiah piring!!

Saya nyobain pake round mold yang sudah disediakan, harapannya si karedok akan berdiri manis. Nyatanya pas diangkat ‘BYARRRR’ hahaha meleber aja. Ya udah, deh, sok dihias pake tahu dan tempe goreng plus kasih bumbu kacang sisa di pinggirannya. Biar kontras, dikasih warna kuning dan merah pakai bunga dari @sweetlovage.id 😀 Pas dibawa ke meja penilaian, Dade bilang udah oke, sih, TAPIIII si karedok ini kayaknya akan berdiri dengan baik kalau pinggirnya dikasih pegangan, seperti TIMUN TIPIS misalnya. YA APA, YAA! Mana kepikiraannn! x)) ahahahahaha dan setelah direvisi sama Pak Dade, jadinya begini, nih:

16640835_215118212290971_2067784847762405061_n

Canggih, ya! Fotonya bagus bener, makasih Sigit! HAHAHA… iyaaa, bukan saya yang motret, ini mah Sigit Hartanto itu tuh, yang motretin, hehehhee.. Karedok Fusion ceritanya :p

We had so much from Food Plating Workshop. Senang nambah ilmu dan teman baru..

16681700_215119015624224_1562320384830693603_n

So what’s the relation between this post’s title and food plating workshop? It’s all about new knowledge. It’s about expanding the vision. It’s about opening wide our mind. 

Saya sih, jujur saja, selama lima tahun ini selalu berada dalam lingkaran yang sama. Yang diomongin setiap hari nggak jauh dari masalah rumah tangga terutama perkembangan anak, dan pergaulan ibu-ibu. Saya belum pernah tahu bagaimana peliknya hidup seorang food plater (is this the right term?). Bagaimana harus mengombinasikan ini dan itu, bagaimana harus membuat makanan terlihat cantik, bagaimana membuat orang ingin memandangi makanan dan sibuk menilai presentasinya, yang mana mustahil terjadi di dunia ibu-ibu. Soalnya saya adalah tipe ibu yang tidak terlalu peduli dengan tampilan makanan yang saya sajikan. Pokoknya saya masak, ya udah, yuk di makan. Nggak mungkin saya hias-hias, hahahhaa.. Nggak pernah kepikiran bahwa di luar sana ada orang yang kerjaannya adalah membuat presentasi makanan yang disajikan menjadi luar biasa.

Habis dari workshop ini juga bukan berarti saya mau menghias  piring saji, ya. Bukan berarti juga saya mau mulai usaha yang membutuhkan skill food plating. Tapi sekarang ada satu pengetahuan baru yang saya dapatkan.

It’s about stepping out from your own zone for a while. And it feels good. 

🙂

So, thank you Selaras for your inspiring class. Always in love.