Memori Kamper

Memori yang melekat pada tubuh saya ini banyak sekali. Ada banyak momen yang tanpa sengaja membuat saya berhenti sepersekian detik untuk menarik nafas, kemudian berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman. Kenapa bisa tidak nyaman? Karena ada sekelebat rasa yang tiba-tiba merasuk dan terasa nyata. Rasa-rasa yang selama setahun setengah ini ingin saya hilangkan.

Saya sedang belajar menghilangkan kelekatan untuk hal-hal yang menempel pada saya sejak 18 tahun lalu. Well, to be honest, the hardest part to be erased was the last 10 years. Dari mulai belajar tidur di semua bagian -tidak hanya di bagian kiri saja, memutar ulang playlist berisi lagu-lagu kesayangan tanpa mengingat memori di balik lagunya, mencuci piring dengan tenang tanpa bayangan peluk dari belakang, hingga menghalau perasaan kurang nyaman saat meletakkan kamper di kamar mandi -hanya karena aromanya bisa menarik mundur saya ke rumah susun di bilangan daerah Jakarta Selatan 9 tahun lalu.

Memori tubuh ini merupakan salah satu penyebab yang membawa saya pada diagnosa distimia. Ceritanya ada di sini. Jadi, ada banyaaaakkk sekali hal-hal yang akan menarik saya mundur, inilah yang kemudian membuat saya malas melakukan apapun. Soalnya sekelas kamper aja bisa bikin mood drop dan ujungnya jadi nggak kepengin mandi. Mau di kamar aja, diam, nggak melakukan apa-apa.

Ribet, ya?

But I live with this now. I should be okay. People usually don’t see it dan bilang “nggak mungkin, lah, si Sazki terlihat baik-baik aja. Lihat aja Instagramnya”, ahahahaha.. ngakuuu? Pasti banyak yang ngerasa gitu. Padahal udah sering banget, nih, seliweran kalimat ini:

“Just because you don’t see it, doesn’t mean it’s not there”

Tulisan ini saya buat juga untuk meyakinkan diri, bahwa semua pada akhirnya akan baik-baik saja. Ya, memang, anginnya masih terasa cukup kencang, dan nggak kebaca arahnya. Tapi selama kita punya keyakinan pada pertolongan dari yang maha memperbaiki segala urusan, yakinlah tiap hembusan nafas kita ini berharga dan berguna.

Ini tulisan pertama saya di peringatan hari kesehatan mental sedunia. Semoga kita semakin peduli akan kesehatan mental, ya. Seperti kita peduli pada penyakit-penyakit lainnya yang sudah sering disebutkan. Jika ada yang terasa kurang baik, jangan ragu untuk konsultasi ke psikolog atau psikiater. Hindari mendiagnosa diri sendiri agar bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

“Keep taking time for yourself until you’re you again” -Lalah Delia.

Jangan lupa bernafas, ya.
🙂

Belajar Mengaji di Alif Iqra

Sebelum pandemi, saya sudah beberapa kali mencari guru ngaji untuk Menik. Sedihnya, belum ketemu yang pas. Dari mulai waktu hingga harganya. Kondisiny, saya bekerja full time, jadi saya harus yakin dulu dengan guru yang akan membantu Menik belajar mengaji. Sedangkan untuk menitipkan Menik ke masjid dekat rumah, belum bisa juga karena kondisi satu dan lain hal. 

Karena perkara memilih guru mengaji, bukan menjadi hal yang main-main buat saya. Saya nggak kepengin Menik ‘cuma’ dapat membaca huruf Arab dan belajar membaca Al-Quran, tapi saya butuh guru yang bisa memberikan pengetahuan tentang indahnya agama Islam yang kami anut. 

Thankfully, we live in a matter of social media. Seperti orang-orang yang berenang di media sosial, saya pasti dihantui oleh algoritma. Lagi cari guru ngaji, yang muncul tentunya berbagai macam tempat mengaji :)) Pretty scary tapi mau gimana lagi. Anggap aja ini salah satu keuntungan, hehe, soalnya baru dipikirin, udah muncul di depan mata. 

Salah satu laman profil yang menarik perhatian saya adalah @alifiqrabandung

Pas pertama kali banget nanya, masih belum masuk pandemi. Jadi udah siap-siap buat trial di rumah, dan ngajakin teman se-geng Menik biar ngaji bareng. Pengalaman ngaji bareng itu menurut saya menyenangkan, sih. Karena ada momen berbagi pengetahuan bersama guru dan teman, plus nanti bisa tahu pasti ada perbedaan-perbedaan kecil dari pemahaman ajaran agama, baik itu dari teman maupun gurunya. Menghargai keberagaman ini juga akan memperkaya rasa Menik. Jadi emang nggak se-simple itu milih guru ngaji.

Akhirnya, pas masuk bulan Juli, saya kembali menghubungi Alif Iqra, karena sudah tidak bisa ditunda lagi. Umur Menik terus bertambah, pengetahuan agamanya harus ditambah, dan karena keadaan, saya sedang tidak bisa maksimal menjadi madrasah utamanya Menik. Proses daftar-nya menyenangkan, karena ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, kemudian memilih jadwal les, baru setelah itu dijadwalkan untuk trial.

And Menik was falling in love with Miss Robi at the very first time. Walau online, tapi Miss Robi berhasil menarik perhatian Menik dan membuat Menik merasa senang ketika belajar. Miss Robi dengan cepat beradaptasi dengan profil Menik yang senang bercerita. Singkatnya, setelah trial, Menik cocok dengan Miss Robi dan set jadwal rutin mengaji.

Karena situasi pandemi, saya memilih untuk les secara daring. Ternyata, kelasnya bisa tetap berjalan menyenangkan. Dalam kelas berdurasi 90 menit, ada banyak materi yang diberikan. Mulai dari berkenalan dengan huruf Hijaiyah, hafalan dan isi Juz Amma, beberapa cerita pendek tentang sejarah agama islam, sampai mendengarkan curhatan Menik perihal pelajaran agamanya di sekolah. Ada beberapa buku dan perlengkapan mengaji juga yang dikirim ke rumah. Metode fun learning-nya bisa membuat anak enjoy selama proses belajar.

Sungguh senang, deh, ketemu tempat yang kooperatif. Karena ada hari-hari Menik agak ngadat les, Miss Robi bisa akomodir dan mencari selah agar pelajaran tetap masuk, walau tidak sesuai jadwal. Padahal saya ngerti banget, les ngaji online itu nggak mudah.

Oh, iya. Untuk saat ini, saya ambil paket mengaji saja dan dalam bahasa Indonesia. Nah, sebetulnya Alif Iqra ini juga ada program bilingual-nya, tapi saya tidak ambil, ya. Alasannya? Sesimpel karena saya memang masih berbahasa utama Bahasa Indonesia. Dan saya ingin Menik fokus mengaji. Itu aja, sih. Mungkin nanti kalo ngajinya udah lancar, bisa aja upgrade ke Bahasa Inggris. Walau inginnya, ya, Menik belajar bahasa Arab aja sekalian, biar pageuh baca Al-Qurannya dan informasi lain yang memakai bahasa Arab.

Overall, belajar mengaji online bersama kakak-kakak di Alif Iqra menjadi salah satu kegiatan bermanfaat semasa pandemi ini. Kelas ini, tuh, seperti mengingatkan, bahwa belajar bisa dari mana saja, dan kapan saja. Walau situasi belajarnya sedang tidak ideal karena pandemi sehingga tidak bisa bertatap muka, tapi penanaman akidah islam dan belajar membaca Al-Qurannya tetap bisa berjalan. Terlebih kondisi saya yang juga bekerja, Aliq Iqra benar-benar membantu saya untuk memastikan Menik bisa belajar baca Al-Quran, dan mengerti betapa indahnya agama Islam.

Thank you so much, Alif Iqra!

Yang Paling Dirindukan…

Saat ini, yang paling dirindukan adalah membuka pintu.

Membuka pintu yang sangat dikenal, tanpa perlu mengecek kunci.

Masuk ke dalam, meletakkan tas, membuka baju, ke kamar mandi, mengenakan kaos paling nyaman, dan celana pendek yang warnanya sudah suram.

Minum segelas air hangat cenderung panas.

Masuk ke kamar.

Merebahkan tubuh.

Tidak ada suara apapun.

Tidak ada panggilan dari siapapun.

Tidak ada suara sedikitpun.

Sunyi.

Hanya itu yang saat ini paling dirindukan.

Cegah Gigi Berlubang Bersama Sasha!

Semenjak Menik kecil, kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu hal yang menyedot perhatian saya. Teringat sekali pesan dokter anak tersayang yang mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut agar gigi susu terjaga dan mulut siap menerima kehadiran gigi tetap.

Dulu di usia 5 tahun, Menik pernah kena karies di dua gigi seri-nya, lalu kemudian dilakukan perawatan dan diwanti-wanti sama dokternya agar si gigi tetap terjaga kesehatannya.

Menik dan Dokter Rizka, 2016

Sekarang menjelang usia 9 tahun, tahu sendiri, dong, kalau makannya anak ini lagi banyak-banyaknya. Belum lagi kalau udah kena cemilan biskuit coklat kesayangannya, hadeeehh, susah disuruh berhentinya. Dan kebiasaan ngemil ini harus diperhatikan, deh, soalnya kadang malam sudah sikat gigi, trus timbul keinginan untuk cemil-cemil. Nah, kebiasaan ini, nih, yang kadang bikin rutinitas sikat gigi berantakan dan akhirnya sia-sia.

Jangan sampai lupa untuk selalu menyikat gigi dua kali sehari, sesudah sarapan, dan sebelum tidur. Soalnya kalau sampai lupa, gigi kita berpotensi jadi rusak dan berlubang. Tahu, dong, kalau gigi berlubang itu karena ada tumpukan makanan yang didiamkan semalaman dan berubah menjadi asam yang bisa merusak enamel pelindung gigi dan akhirnya membuat gigi berlubang.

Kalau gigi udah berlubang, udah, sih, beres urusan. HA HA HA. Kata Meggy-Z juga, sakit gigi lebih PEDIH daripada sakit hati. Makanya, kita harus jagain si gigi supaya nggak sampai rusak dan berlubang. Salah satu pencegahan yang bisa kita lakukan adalah menyikat gigi dengan pasta gigi yang bisa memberikan perlindungan maksimal. Pilihan saya ada di SASHA Pencegah Gigi Berlubang yang mengandung siwak asli, fluoride, dan kalsium. Siwak asli ini bisa melawan bakteri penyebab plak, perlindungan ganda untuk gigi dan rongga mulut. Kandungan siwak, fluoride, dan kalsium ini bisa menjaga kekuatan akar gigi, mencegah karies, dan mencegah gigi berlubang.

By the way, yang tidak boleh dilupakan adalah memilih sikat gigi yang sesuai usia, dan jangan lupa juga untuk menyikat gigi dengan benar. Pertama, perhatikan posisi sikat gigi agar tidak menempel ke seluruh permukaan bulu sikat di gigi. Kemudian sikat gigi dengan gerakan melingkar berlawanan jarum jam selama 20 detik untuk setiap bagian. Jangan buru-buru, ya. Pastikan semua bagian rongga mulut dan gigi tersikat dengan baik. Oh iya, bagian lidah juga harus dibersihkan, dan terakhir berkumur sampai bersih. 

Nah, SASHA Pencegah Gigi Berlubang ini jadi pilihan pasta gigi saya dan Menik. Aman buat anak-anak karena tidak mengandung alkohol dan tidak mengandung bahan hewani. 

Ini penting banget, sih, karena biasanya saya beli dua pasta gigi, satu untuk saya, satunya lagi untuk Menik. Tentunya dengan berbagai pertimbangan agar yang dipakai Menik aman untuk digunakan dan halal. Pas ketemu sama pasta gigi SASHA, langsung klik! Dari mulai kandungan siwak asli yang sebetulnya bikin saya lumayan kaget, soalnya nggak nyangka juga, siwak yang saya kira harus digunakan dalam bentuk kayu, ternyata bisa jadi dalam bentuk pasta gigi, sehingga lebih mudah untuk digunakan, hingga kandungan fluoride dan kalsiumnya yang penting untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan gigi.

Habis makan siang di kantor, nggak boleh lupa sikat gigi!

Sebagai umat muslim, udah tahu, dong, kenapa kita disarankan untuk bersiwak?

Menurut HR. Bukhari dan An Nasa’i, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan merupakan sesuatu yang mendatangkan ridha Rabb”.

Dan dengan menggunakan SASHA yang menjadi pasta gigi halal pertama di Indonesia, dan sudah mendapatkan Sistem Jaminan Halal. Ini ibaratnya diaudit, udah teruji di semua lini, dari mulai tim produksi hingga ke tim manajemen. 

Membiasakan Menik untuk memilih produk halal merupakan salah satu kebiasaan di rumah. Jadi ketika kami menggunakan SASHA Pencegah Gigi berlubang, Menik bilang “halal, nih, bu, jadi nggak deg-degan”. Setelah sebulan kami memakai SASHA, terasa perbedaannya. Karena bahannya alami dan berkualitas, jadi busanya tidak banyak, dan kesegarannya, tuh, enak banget. Mulut terasa lebih bersih, dan saya bisa bilang ke Menik, asal rajin sikat gigi setiap pagi dan malam, InsyaAllah, gigi Menik akan sehat dan tidak berlubang.

Memakai SASHA Pencegah Gigi Berlubang, tuh, kayak sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Bahan-bahannya asli, dijamin kehalalannya, dan manfaatnya tentu maksimal untuk mencegah gigi berlubang. Harganya juga terjangkau, deh. Kemasan 150gr dibandrol Rp10.500, dan kalau beli di KINO STORE sekarang, lagi ada harga spesial jadi cuma Rp9.500! 

Coba cek ke Instagram @sashaindonesia atau ke Facebook-nya untuk cari info lebih lanjut.

Nggak boleh lagi abai sama kesehatan gigi dan rongga mulut. Beneran, deh, urusan kesehatan gigi dan mulut ini bisa merambat ke kesehatan lain yang ujungnya jadi panjang. Padahal semudah rutin menyikat gigi setiap pagi dan sebelum tidur menggunakan SASHA Pencegah Gigi Berlubang, kita sudah menjaga kesehatan tubuh kita.

Yuk, kita rawat gigi dan rongga mulut kita sekarang juga!

Cerita Operasi Menik

“Menik, ibu boleh ceritain tentang operasi Menik di Instagram ibu?”

“Boleh, Bu!”

**Akhirnya, sih, cerita di blog, karena ternyata nggak cukup tempatnya kalo di caption aja hahaha.

Sesuai janji, ini dia cerita tentang hari paling menyeramkan selama 8 tahun jadi ibu. Ya bayangin aja, anak saya satu-satunya akan dibuat tidak sadar dan dibedah. KALO NGGAK BANGUN LAGI GIMANA, SAYANG? 

Iya, separno itu. 

Berawal dari menemukan bisul di ketiak kanan Menik di pertengahan tahun 2019. Dengan treatment kompres, kasih salep, lalu akhinya kempis. Eh, tiba-tiba muncul lagi sekitar bulan Desember, dan atas rekomendasi dokter Hedy, dibawalah si Menik ke dokter bedah anak di RS langganan. Namun, sama dokternya nggak disarankan insisi karena hanya akan menyebabkan trauma. Jadi dirawat aja di rumah, dengan betadine dan lainnya. Dan memang (terlihat) sembuh setelah pecah. 

Tapi di akhir Januari 2020, muncul lagi, dong! Dan cepat sekali membesarnya, lalu pecah. Akhirnya dibawa ke IGD sebuah Rumah Sakit, dan akhirnya dikonsul ke dokter bedah anak. Lumayan kaget karena harus konsultasi ke dokter bedah dulu, kirain bakalan langsung diinsisi aja di IGD 😂 makloomm, dulu pas saya kecil ada kejadian mirip-mirip, dibawa ke RS tentara, langsung dibelek saat itu juga, si rasa sakitnya nempel sampai sekarang 😝

Nah, pas udah ketemu dokter bedah anak, akhirnya disarankan untuk dibersihkan, namun dibius total. 

IYA, BIUS TOTAL. Alasan dokternya, usia dan karakter Menik nggak cocok dengan bius lokal, kalau nggak sengaja kena jaringan yang nggak kebius, bakal sakit, anaknya goyang, dan panjang urusannya. 

But actually, “I got the feeling” gituuu. Rasanya ini bukan sekadar bisul biasa, yatapi kan di sini bukan dokter, jadi saya percayakan pada diagnosa dokter bedahnya Menik yang baik hati. 

Long story short, tiba di hari bedahnya. Menik masih sekolah sebelumnya, tapi sudah puasa, sore ke rumah sakit, prep dikit di IGD, lalu naik ke ruang operasi.

Memang jadi ibu itu artinya naik kelas ke level artis Hollywood, ya. Acting di depan anak sambil menenangkan, ajakin baca majalah, ngobrol, seolah-seolah everything’s going to be just fine, dan biasa aja cerita, padahal dada bergemuruh, jantung rasanya udah turun ke dengkul. 

“Bu, nanti boleh nemenin Menik sampe beres dibius, ya. Sesudahnya silakan tunggu di luar, dan akan dipanggil saat sudah selesai.”

Dan pas liat Menik udah dibius, hati saya beneran mencelos. Kembali ke pertanyaan di atas, “Kalau nggak bangun lagi, gimanaaa?”

Rapalan ayat mulai terangkai di dalam hati, sambil menghitung waktu yang katanya operasi kecil ini hanya akan memakan waktu 15 menit.

15 menit yang rasanya kayak 15 jam berlalu, nggak ada tanda dipanggil dari dalam. Doa yang tadinya masih bernada positif, mulai ganti jadi “Ya Allah, saya aja yang diambil, jangan Menik” -sungguh, nggak main-main perasaan acak dalam hati. 

37 Menit kemudian, yes, I did count it, akhirnya terdengar “Orang tua Anak Galuh”, nggak pakai lama, langsung berdiri, pamit sama Eycan, Kungpang, dan adek, lalu langsung masuk ke ruangan lagi.

Pedih nggak lihat muka begini?

Ini udah sadar, sih, pas saya masuk sebetulnya masih tidur. Susternya minta tolong saya untuk mulai bangunin Menik perlahan. Dan kalau anaknya mual, disuruh lapor.

Terus nggak lama dokternya masuk, dan mulailah menjelaskan kenapa operasi kecil yang katanya nggak sampai 15 menit itu, jadi berlangsung lebih panjang.

Awalnya, dokter bilang, tindakannya adalah membuka si bisul, lalu menyedot cairannya, kemudian ditutup. Tapi ternyata, pas udah dibuka, ditemukan si kista, sehingga tindakan penyedotan diganti jadi pengangkatan. Jahitan yang tadinya dikira hanya ada 2, berganti jadi 5. Lalu jaringan yang diangkat ini akan dibiopsi, -ini sudah dan tidak ditemukan sifat kanker di dalamnya. ALHAMDULILLAH.

Begitu ceritanya, gaes! Yang lucu dari kejadian ini, semua terjadi setiap saya mau dinas ke luar kota. ‘Kan asem banget, ya! Pertama kali pecah bisul, besoknya jadwal saya ke Yogja. Pas mau operasi, jadwalnya 3 hari sebelum saya harus ke Medan. Sungguh sebuah cobaan, hehehee.. emang ada-ada aja, ya kan!

Anyway, sebuah bonus, luka Menik nggak langsung nutup karena jaringan yang diangkat cukup dalam. Jadi dari waktu perkiraan seminggu, molor jadi sebulan, lengkap dengan peralatan ganti perban yang cukup complicated :)) Alhamdulillah, ada Eycan yang bantu kontrol kebersihan luka, jadi akhirnya, di minggu ke-4, luka dinyatakan sembuh, jahitan kering dan bisa dicabut. The end.

Udah, ya, Nik! Semoga nggak ada lagi operasi-operasi lagi. Dan semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, ya 😀

All is not well but everything is going to be just fine

Today, I will tell you guys about “dysthymia”. Ini merupakan bentuk kronis dari depresi. Biasanya yang terkena distimia akan merasa kehilangan hasrat terhadap aktivitas hariannya, merasa tidak punya harapan hidup, produktivitas menurun, kepercayaan diri yang rendah, dan biasanya merasa tidak layak.

Nggak mudah, nih, untuk nulis di sini and being this wide open. But here we go!

Saya didiagnosa menderita distimia di pertengahan tahun 2018 lalu. Saya bertemu psikolog, kemudian dirujuk ke psikiater, lalu kembali menjalani konseling total 21 kali bersama psikolog tersayang di daerah Dago Atas.

Kebayang nggak? Saya yang biasanya memiliki rasa percaya diri, tiba-tiba hanya ingin tidur-tiduran di atas kasur, tapi masih bisa ngebayangin serunya window shopping bareng Menik, dan ujungnya jajan di Pepper Lunch dan minum Es Kopi Susu.

Tidak mudah menerima keadaan ini, tapi kalau tidak diobati, mungkin saya tidak akan memiliki keberanian untuk menulis seperti ini. Distimia hadir dalam hidup saya, karena saya terbentur sebuah masalah besar yang tidak pernah saya bayangkan. Setelah sadar dari benturan, ternyata memarnya berkepanjangan :’))

Namun, berkat konseling, akhirnya perasaan ini berangsur pulih. Kepercayaan diri kembali datang, walau akhirnya terjadi sebuah perubahan sudut pandang dalam hidup. Tadinya penuh rencana, penuh mimpi, dan cukup ambisius. Kali ini, saya cukup langsam. Nggak gas-pol, heheh.. I just live in present.

“Jadi nggak ada tujuan? Mimpi? Cita-cita?”
Oh, bukan gitu.. semuanya tetap ada, tapi benar-benar disimpan di loker mimpi dan harapan yang paling atas. Sementara itu, saya sedang belajar untuk menikmati proses yang ada di depan mata dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjalani hari yang sedang berjalan.

And how about tomorrow?

Tomorrow will be fine, hopefully 😉

Walau kadang di tengah perjalanan, sangat mungkin sekali spektrumnya naik dan kembali mengacak-acak mental, tapi semuanya bisa diatas, kok. Karena kita udah konsul dan tahu apa yang harus dilakukan. Kalau saya, biasanya jadi mudah mengantuk, dan ingin tidur di manapun. Ini karena alam bawah sadar saya sedang ingin menghilangkan rasa-rasa yang mendadak menggangu dan membuat spektrum distimia kembali meluas. Setiap orang beda-beda, sih, that’s why penting untuk memeriksakan diri, supaya nggak salah treatment.

Jadiiii, kalau misalnya ada yang sedang merasa tidak mengenali dirinya sendiri saat ini, ada baiknya untuk konsul ke ahli, ya. Jangan pernah mendiagnosa diri sendiri, karena percayalah, rekan-rekan kita yang sekolah dan lulus di bidang psikiatri atau psikologi akan jauh lebih mumpuni dibanding periksa dan tanya ke G**gle :’))

Nggak usah malu, toh bayar sendiri juga! Ingat, kesehatan mental adalah yang utama. Eh, di beberapa aplikasi kesehatan juga sudah bisa konsul ke psikolog atau psikiater. Mungkin ini bisa jadi langkah awal kalau misalnya belum berani tatap muka langsung, apalagi di musim pandemi gini. Better safe than sorry!

Daripada nggak tahu dan nggak diobati, mendingan dicari tahu, diterima, kemudian diatasi 🙂

Maybe, for some of us, all is not well but I know everything is going to be just fine.

Have a good rest!

Mari Dinyalakan Kembali

Tadinya mau nulis judul “Let’s Turn It On” tapi kemudian ingat, kalau tulisan yang akan menjadi tanda bangunnya blog Sazki dari mati suri mau ditulis dengan Bahasa Indonesia. Jadi hari ini maksain diri buat nulis di blog. Setelah lebih dari setahun lalu terakhir posting, cuma buat ngingetin diri sendiri, kalau kegagalan merupakan hal yang wajar dalam hidup ini.

Nah, jadi mulai hari ini, mau rajin rutin nulis lagi di blog. Tentu akan selalu random, sih. Kalau dulu, senang berbagi tentang Menik, mungkin sekarang akan berbagi tentang kehidupan dan kesombongan, HA HA HA! Becandaaaa… Tapi yang pasti, mau banget balik lagi nulis blog, supaya kembali biasa menulis runut, dan nggak terbatas karakter seperti di caption IG atau Twitter, misalnya.

To be honest, sekarang paling sering curhat di caption IG. Curhat di IG stories aja, saya nggak sanggup, loh. Capek ngedit (karena penginnya cakep, kan, tampilannya) jadi energinya habis buat ngedit visual, dan inti tulisannya malahan hilang. Kalau pake voice over, belum tentu semuanya mau dengar atau tap biar suaranya keluar. Mau bikin podcast, ternyata belum ketemu serunya. Mungkin masih baper, maunya mixing langsung aja :p

To mark the day, saya bisa kembali punya keinginan menulis karena pandemi Covid-19 yang sedang melanda di dunia. Dan di minggu ke 8 berada di rumah aja, akhirnya bikin saya sadar, kalau saya nggak nulis, nggak akan ada jejak digital kehidupan saya yang mungkin akan menjadi sesuatu yang berguna di masa yang akan datang.

See you on tomorrow’s writing! Stay safe. Stay healthy!

Life Lesson: Remember To Breath

Sudah cukup lama tidak menulis panjang di sini. Sebetulnya, memang sudah tidak pernah menulis dengan rutin lagi. Padahal salah satu nasihat yang saya terima adalah memasukkan rutinitas menulis (tentang apapun) dalam keseharian. Kalau bisa menulis di kertas dengan pulpen agar syaraf tetap terstimulus dengan baik. Boro-boro nulis di buku, kan, update blog aja nggak pernah. Padahal saya tahu kalau menulis akan menolong saya tetap waras.

Tapi mungkin saya memang sedang tidak waras. Dalam satu tahun terakhir, ada perubahan besar dalam hidup yang tidak pernah saya sangka. I was living on my princess dream bubble, until one day it bursts. Sehingga untuk menulis saja, saya merasa terlalu malas. Saya menenggelamkan diri dalam pekerjaan, yang lain saya abaikan. I’m not into my life actually. Maunya tenggelam saja. Maunya menghilang saja. Maunya ditelan bumi saja.

Rasa seperti itu saya biarkan tumbuh dan memakan diri saya sendiri sampai akhirnya saya disadarkan bahwa ini semua tidak benar. Saya punya tanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Saya punya anak yang dititipkan, dan harus saya pertanggung jawabkan nanti. Sampai akhirnya saya mengetik ini, saya masih dalam perjalanan menyehatkan diri saya sendiri. I was born as an outstanding baby. I never failed my parents. I raised as perfection. Namun ternyata kegagalan itu ada. Bahwa akhirnya saya harus belajar menerima kegagalan. 

Orang-orang sekitar yang tidak ada di dalam lingkaran dalam bertanya tentang ini dan itu. Seringnya, sih, bertanya ke orang lain. Allah SWT maha baik, semua omongan dan pertanyaan itu akhirnya sampai ke saya. People are still watching me, but they realized that I shut myself down. I stay silent. I don’t feel any need to talk it out loud. Biasanya saya hidup dengan gaduh, kali ini saya memilih untuk diam. That’s my choice.

Kata ahlinya, ini bagian dari penyakit dalam jiwa saya. Tadinya superior, sekarang inferior. Bahkan saya meragukan kemampuan saya menulis. Sehingga saya menolak banyak tawaran untuk kembali berkontribusi karena saya menganggap diri saya tidak mampu. Percayalah, tidak mudah bagi saya untuk naik ke atas panggung dan memandu acara, padahal dulu saya dengan bangga menjual diri saya sebagai MC. Tidak mudah bagi saya untuk menulis report dalam bahasa Inggris, padahal terakhir dites, nilai IELTS saya ada di 7.0. Bukan angka yang buruk, kan? Tapi saya memilih untuk bertanya berulang kali ke rekan kerja, apakah bahasa Inggris saya sudah benar atau belum :”) 

But that was me couple months ago. Sekarang saya sedang belajar untuk kembali memupuk kepercayaan diri. 

Seorang sahabat mengingatkan saya untuk tidak lupa bernafas. Ketika menerima nasihat itu, saya tertawa dan bilang “kayak dokter kandungan aja, lo, ngingetin gua untuk nafas”. Ternyata saya memang suka lupa bernafas. I keep running till I can’t breath, karena rasanya mendingan begitu daripada melihat kenyataan pahit yang sedang terjadi dalam hidup. 

Dengan mengatur nafas, saya sedang berusaha untuk bangkit lagi. Walau dalam perjalanan, berat badan naik turun sesuka hatinya, kulit wajah juga break-out secara berkala, tapi mudah-mudahan saya bisa membaik dan kembali menjadi Sazki yang orang tua saya kenal. I feel ashamed, I feel bad, especially to my mom. Ibu selalu bertanya “kakak gimana rasanya?” and I can not even tell her how I felt, because I feel bad to failed her. Ibu, I’m so sorry.

So please welcome me back to my own blog. Bare with me and my stories because I’m trying to keep myself sane. I need to be sane for myself and for Menik. Now I know why my Dad put Scania on my last name, because I have to be strong, as strong as that big vehicle from Swedia. Never thought about it like that actually, haha.

So how am I supposed to write a closure? Have no idea at all, I’ll leave it hanging like this. 

From Private Screening BTS #Dilan1990

Coba tolong sebutin, ya, kapan tayangan ‘Behind The Scene’ (BTS) lebih ditunggu daripada filmnya sendiri? Kapan tayangan promo ditonton berulang kali, dan kapan fans baper lagi gara-gara sebuah foto?

Well, sorry maybe I’m a newbie here, tapi jelas ini adalah kali pertama saya menunggu-nunggu bocoran semua adegan di balik layar dari sebuah film. Mau tau nggak gilanya? Ini film udah turun layar sejak Februari 2018, tapi sampai sekarang yaaa, DADA MASIH NYUT-NYUTAN setiap lihat potongan adegan BTS atau foto promo muncul di tab Explore IG saya. Belum lagi ditambah mainan kode dari para pemain film Dilan 1990 ini. Masya Allah, rasanya tuh gemez! Anak kecil pake mainan kode segalaaaa, hahahha!

Tapi sebetulnya dari rentang waktu Februari sampai Agustus ini, bahan baper udah mau habis. Aslinya udah habis, sih. Nggak ada bahan banget, dan untuk yang masuk golongan “sejam ingin move-on, sejam baper lagi” serta geng “istiqomah tetap sayang Iqbaal-Sasha pas lagi berdua” cukup bergantung sama salah satu akun IG dari Panas Dalam, yaitu @filmdilan1991 :”)) karena dari akun inilah, kami bisa mengobati rindu sama dua anak kucing yang lagi kucing-kucingan ini.

Screen Shot 2018-08-08 at 11.23.27 PM

Dearest Sarmin, jangan pelit-pelit berbagi video, ya!

Tiap-tiap yang diunggah pasti bikin teriak. Ya teriak gemes, atau teriak histeris kesal, karena videonya dipotong ujungnya. Jadi nanggung gitu, pemirsa. Tapi yang namanya sabar pasti ada buahnya, ya! Kemarin tiba-tiba akun resmi dari Panas Dalam ini mengunggah sebuah poster acara yang salah satu isinya adalah Private Screening BTS Dilan 1990! KU MAU PINGSAN AJA, GAESSS!! Dan makin mau pingsan pas bisa nonton, ternyata gak boleh direkam atau bahkan difoto sedikit. Karena sifatnya rahasia. Demikian!

*Tapi yang nggak boleh direkam aja kan ya? Boleh dong diceritain? :)))*

Dimulai dengan slide foto di balik layar yang campur-campur. Ada yang udah pernah kita lihat, ada yang belum pernah, ada yang udah pernah diliat tapi dari angle yang berbeda. Misalnya foto di bawah ini. Ini resmi kan, official teaser istilahnya. Jelas, dikasih watermark sama akun resmi pula.

IMG_5027.jpgTapi belum pada liat semua fotonya sampai akhirnya foto ini terpilih kan? Eheheheeee, nyooohhhhh!

ADA8844A-10D8-406F-BDE1-4E0639BA956D.jpg

Hehehehehe.. GEMES GAK SIHHH? Ini masih awal, sebelum mulai private screening-nya. CUMA FOTO-FOTO DOANG. Pas mulai screening, ya, JRENG! Lampu dimatiin, lalu awalnya dibuka dengan beberapa video BTS yang sudah semua lihat. Iya, cuma 1-2 menitan doang campuran video yang udah dirilisnya, lalu sampailah pada adegan video ini:

Screen Shot 2018-08-09 at 12.55.32 AM.png

(sumber: @filmdilan1991)

Nah! Ini jadi ada lanjutannyaaaa! Ternyata, beberapa kali dipegangin pipinya Iqbaal sama Lia. Ya sampe ada fotonya Iqbaal dipangku Lia, tuh! Pegang pipinya juga dong! Beberapa kali juga Iqbaal nyamperin Lia melulu, di adegan ini.

Lalu lanjut ke dalam kelas, yang depannya botol air minum tuh. Sebagai duta pengingat Lia Ayo Minum Air Putih, sepertinya Iqbaal emang kemana-mana bawa botol air buat si Lia. Botol air selalu ada di dekat mereka.

Screen Shot 2018-08-09 at 1.05.34 AM.png

Abis gitu mereka mainan botol Aqua berdua terus ceritan sun dekat ala Dilan dan Milea, berkali-kali! Ditutup dengan Lia senderan di punggung Iqbaal sambil ketawa-tawa. AAAAAAKKKKKK!!! Gemes banget liat muka mereka berdua. They were too happy.

Nah, terussss, masih pada inget sama interview yang Iqbaal sendirian? Iya, yang pakai kemeja biru iniii:

Screen Shot 2018-08-09 at 1.09.25 AM.png

Nah, tadi ada video persiapannya. Jadi lagi siap-siap gitu, pake kemeja kan. Setelah beres pakai kemeja, Iqbaal dipakein jaket jeans ini, ya. Lalu di sofa sebelah ada Lia ternyata, *ciee ditungguin*… x)) Terus terus yaaa..

*ADUH MAU NGETIK JUGA GEMES SENDIRI INII! Maafin, haha!*

Ya terus, Iqbaal mengulurkan tangan ke Lia yang tentunya disambut dong sama Lia, lalu Lia berdiri, sekejap udah ganti ruangan, Lia kode ke dahinya pake tangan minta dicium gituuuu. Terus Iqbaal ngeliatin, terus dia ketawa, terussss Lia-nya didekaaappppp di dada dongggggg!

YAWLA, KUSESAK NAFASSSSS! :”)))))))))

Seolah belum cukup sesak, tau-tau ruangan ganti lagi, tapi masih dengan kostum yang sama, Lia mendekat lalu meluk Iqbaal dari belakang, dan mukanya senyum-senyum. Peluknya lamaaa, Iqbaalnya juga enaaa-enaaaaaa rautnya, tangan Iqbaal ke mana? Ya ke tangan Lia dong, kan dipeluk dari belakang, Kaakkk! Kira-kira begini reka adegannya:

Untitled design.png

Abis gitu yaa, masih pada inget di BTS yang pernah di-share sama Pandal di Youtube?Yang ada adegan di lapangan, Iqbaal luka dikit di bahu dalam, terus Lia nyamperin dan bilang “Ya Allah, kenapa?” Ini ada lanjutannya juga dong dong dongggg! Hahahhahahahaa..

Screen Shot 2018-08-09 at 7.08.32 AM.png

Abis ini, break shooting kayaknya, karena Iqbaal udah nggak pake seragam, tapi kaos abu-abu, nyamperin Lia yang duduk di sebelah Mbak Lilis. Dengan khawatir nanya “gimana?” Si Ale-Ale santai aja narik kerah bajunya, harapannya Lia berdiri, kan? Tapi Lia kalah cepet sama Mbak Lilis. Jadi Mbak Lilis-nya yang berdiri dan ngeliat, Lia observasi dengan muka khawatir, dan kagok dikit tangannya keliatan pengen megang tapi nggak jadiiiii! Karena keduluan Mbak Lilis tadi, HA HA HA!

Selanjutnyaaa, menuju photoshoot yang ini:

38ddd6ab-79ad-4c28-9450-87b33fae4518.jpg

Dibalik foto Dilan dan Milea yang ini, ya, ada take foto berulang-ulang. Karena tentunya mau dapetin foto yang pas, dong! Biar bisa dijual, yekaann! Nahhh, beres foto nih, pemirsa, si Ale-Ale meluk gemes beneran dong, diikuti dengan tawa Lia yang tersipu-sipu. 

*IH! IH IH!!! Ingin nyubit pipinya mereka gak sihhh?*

Terus ada juga beberapa BTS di dalam kelas. Posisinya Iqbaal tiduran di meja, pake si bantal leher bersama itu tuuh. Lia tiduran di kursi. Emm, posisinya Lia itu kayak lagi nungguin orang di tempat tidur RS gitu, loh. Terus Iqbaal kebangun, tangannya dipegang sama Lia, terus digigit gemes, terus dicium donggg. IYA, DICIUM TANGANNYA SI ALE-ALEEEEEE! Diakhiri dengan ketawa berdua. YHA YHA YHA!!!

Screen Shot 2018-08-09 at 1.36.57 AM.png

Lalu masuk ke bagian sedih dikit, pas hari terakhir Iqbaal syuting, yang di BTS diteriakin “Cuma lima menit ya!” Di situ ada suara Iqbaal, dong. Diinterview dan bilang kalau “rasanya campur aduk. Tapi yang pasti sedih syutingnya udah beres, harus balik ke negeri Paman Sam untuk sekolah. Pengennya cepet beres, jadi bisa balik ke Indonesia, ikut promo-promo, dan yang paling penting, bisa ketemu lagi sama Lia.” Pantesan upload foto pake caption “jadi pengen pulang” ya, Dul! Udah kangen banget apa gimana waktu ituu?

*BRB! PINGSAN!!*

Terus kita dikasih adegan rebutan foto yang ngegemesyin itu di depan cermin. Iyaa, yang video slow motion, yang bawaannya pengen kita ulang melulu tuh. Soalnya Iqbaal sama Lia sama-sama ketawa lepas dan happy banget, kan. Padahal cuma milih-milih fotonya.

Screen Shot 2018-08-09 at 1.37.22 AM.png

Akhirnya setelah rebutan foto, Lia merelakan sebuah foto diambil sama Iqbaal dan dibawaaaaa! Foto yang mana sih itu? Sampe rebutaan begituuu.. uuu uuu uuuuu! Adegan ini nggak pake dipotong, jadi nonton tenang sambil nyengir-nyengir ajaaa hahaha.. GMZ GMZ GMZ!!

Oh iya, lanjut ke adegan yang videonya juga ada di @filmdilan1991 ituuu, yang Lia tiduran pake selimut di sofa. Iyaa, yang ini niiihh:

Screen Shot 2018-08-09 at 1.43.32 AM.png

Lanjutannya adalah Iqbaal masih duduk setia nemenin di sofa sambil sesekali elus-elus sayang ke Lia. Ehehehehehee.. emez emez emeeezzz!! Yang satu mukanya manja, yang satu mukanya penuh perhatian. 

Dan akhirnya BTS memasuki menit terakhir menuju ke sebuah video yang dulu kita pernah dibuat merasa tertipu. Kirain video nggak taunya foto :)) yak, betolll! Video dibalik tiga buah foto yang beredar yang bikin BAPER seantero dunia, hahhaa. Nah, ini fotonya!

56d9b568-ebc4-42dc-954f-a4eda3ef6c6a.jpg

Ternyata foto ini dibuat dengan santai banget. Ini kan di sebuah guest house di Taman Cikapayang yang konon adalah tempat mereka istirahat pas break syuting. Jadi emang lagi istirahat. Terus di menit-menit terakhir, mereka lagi foto-foto nih. Sambil ketawa-tawa, bercanda, dan tiba-tibaaa… CUP! Makanya ternyata muka Lia kaget, ya, kaakk!

5d561761-0a1e-42a5-a203-55cbb2819f63.jpg

YA KAGET! LAGI MAU FOTO, TAU-TAU DICIUM. SIAPA YANG NGGAK KAGET, WOY!

Ya, gila juga fotografernya gercep amat tangan, ini bisa ketangkep. Padahal spontan, lagi siap-siap mau foto, jadinya malah foto super gemes begini. Bow down buat fotografernya. CANGGIH!

daaannn… The end.

Iyaa, udahan deh private screeningnya. Hhhhh… demikianlah cerita BTS yang bikin nangis. Nangis karena kangen. Nangis karena akhirnya ujung-ujung video atau foto yang selama ini gantung, lumayan ada beberapa yang dikasih lihat lanjutannya. Nangis karena bingung kenapa anak dua ini gemesnya nggak abis-abis. Nangis karena banyak ketangkep anak kucing ini selalu berdua, padahal yang satu gak ada adegan sama sekali di situ. Iyaa, nemenin. Kan maunya deket teruuss!!

*GIUNG!*

*olesin HENTI dari @botanina_ID ~monmaap iklan dikit~*

Dari hasil screening BTS ini, saya makin yakin pada kalimat “bohong kalau nggak sayang” :”)) dan dengan demikian saya makin yakin juga bahwa saya memang termasuk pada golongan “sejam ingin move-on, sejam baper lagi!”, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di sini. 😉

Salam,

Dari yang masih sayang!

 

 

You Oughta Know.

Just like Alanis Morissette said on her song, that “I’m here, to remind you of the mess you left when you went away. It’s not fair, to deny me of the cross I bear that you gave to me
You, you, you oughta know”…